
"Ya, Dok," ujar Hurry.
Semua orang yang ada di sana, berdiri dan menunggu hasil laboratorium dengan hati yang berdebar.
Mereka penasaran dengan hasil laboratorium.
Sementara itu Hurry menggenggam erat tangan suaminya, dia sudah tahu hasil laboratorium tersebut.
"Ini laporan hasil tes yang baru saja kita lakukan," petugas laboratorium tersebut mengulurkan sebuah map yang berisi hasil laboratorium.
Surya bergegas mengambil map tersebut lalu membaca lembaran hasil tes itu.
Surya menggelengkan kepalanya.
"Ini tidak mungkin," lirih Surya.
Surya menyodorkan hasil tes itu pada putranya, Raffa langsung membaca tulisan yang tertera di lembaran putih itu.
"Kamu yang sabar, ya. Mungkin belum saatnya kamu menemukan orang tuamu," ujar Raffa sambil memeluk tubuh sang istri.
Kayla juga ikut membaca hasil itu, dia kecewa dengan hasil yang tertulis di laporan itu.
Hurry langsung mendekati Kayla.
"Kayla, walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Bisakah Bunda tetap menganggap kamu sebagai putri Bunda," pinta Hurry pada Kayla.
Kayla menoleh ke arah suaminya.
"Saat Bunda melihat kamu, Bunda merasa kembali bertemu dengan Ara," ujar Hurry.
"Iya, Bunda. Kayla senang bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu, karena selama ini Kayla tumbuh dewasa hanya dengan kasih sayang seorang ayah," tutur Kayla jujur.
Hurry merasa kasihan pada Kayla, dia kembali memeluk Kayla.
"Mulai hari ini, Bunda minta kamu menganggap Bunda sebagai ibumu, ya," pinta Hurry memohon.
Kayla mengangguk setuju, Raffa tersenyum.
"Semoga setelah ini ada titik terang siapa ibu kandungmu, Kayla," gumam Raffa di dalam hati.
"Kamu sabar ya, Hur. Semoga kita dapat menemukan Ara, dan Kayla juga bertemu dengan kedua orang tuanya," ujar Arumi membelai lembut punggung sahabatnya.
"Iya, Rum. Aku sudah senang di saat Kayla bersedia menganggap aku sebagai ibunya," ujar Hurry mengusap air matanya.
"Alhamdulillah, aku ikut senang kalau kalian bahagia," ujar Arumi.
"Ya sudah, kalau begitu, kami pulang dulu ya, Pak Hendra," izin Surya pada suami Hurry.
"Oh iya, Pak Surya. Enggak apa-apa," jawab Pak Hendra.
Kayla dan Raffa pun berpamitan dengan Hurry dan suaminya.
"Bun, Kayla pulang ke rumah mama Arumi dulu, ya," ujar Kayla berpamitan dengan Hurry.
"Iya, Sayang. Lain kali kamu nginap di rumah Bunda, ya," pinta Hurry pada Kayla.
"Iya, Bun. Nanti pas liburan Kayla ajakin Bang Raffa nginap di rumah Bunda," ujar Kayla.
__ADS_1
"Iya, Bun. Nanti Raffa akan atur waktu buat nginap di. rumah Bunda," tambah Raffa.
"Makasih ya, Nak," ujar Hurry terharu.
Akhirnya Kayla dan Raffa pun meninggalkan rumah sakit. Begitu juga dengan Hurry dan Hendra mereka juga meninggalkan rumah sakit.
"Bun, kamu sabar, ya. Semoga kita bisa menemukan jalan untuk bisa berjumpa dengan Ara, ya." Hendra menenangkan Hurry yang merasa sedih dengan kenyataan yang harus dihadapinya.
"Iya, Yah. Semoga Allah mendengarkan do'a-do'a kita," lirih Hurry.
"Tapi, Bunda sudah bahagia karena Kayla bersedia Bunda anggap sebagai anak kita," ujar Hurry.
"Kayla memang anak yang baik, Bun," ujar Hendra.
"Ya Allah semoga, Kayla benar putriku yang pernah hilang," gumam Hurry di dalam hati.
Sesampai di rumah, Raffa dan Kayla langsung masuk ke dalam kamar karena mereka merasa lelah setelah melakukan perjalanan dari Jakarta.
"Sayang, aku mandi duluan, ya. Udah gerah banget," ujar Raffa saat mereka sudah berada di kamar.
"Iya," ujar Kayla mengangguk.
Raffa pun langsung melangkah menuju kamar mandi.
Kayla melepaskan hijabnya, lalu dia membuka lemari mengambil baju kaos dan celana training yang akan dipakai oleh Raffa nanti setelah mandi.
Kayla meletakkan pakaian yang sudah dipilihnya di atas tempat tidur.
Kayla membuka ikatan rambutnya lalu membiarkan rambutnya terurai, lalu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menunggu Raffa menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya.
Pria tampan itu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pinggangnya dengan memamerkan perut kotak-kotak miliknya yang bagaikan roti sobek.
"Auw," pekik Kayla sambil menutupi wajahnya.
Kayla kaget melihat Raffa yang keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada.
Raffa tersenyum melihat tingkah sang istri. Mereka hampir satu tahun menikah, tapi mereka hanya beberapa kali bisa bersama karena kondisi mereka yang masih kuliah dan tinggal di tempat yang berbeda.
Pemandangan yang baru saja dilihatnya membuat Kayla merasa sangat malu.
"Sayang, kenapa kamu takut seperti itu?" tanya Raffa menggoda Kayla.
"Bang, kamu,--" Kayla bingung melanjutkan kata-katanya.
"Lebih dari ini kamu sudah lihat, Sayang," goda Raffa.
Pria tampan itu semakin gencar menggoda sang istri.
Kayla memukul dada bidang Raffa kesal.
"Kamu nyebelin, Bang," gerutu Kayla.
Raffa pun langsung memeluk tubuh Kayla dengan erat, seketika jantung Kayla berdegup kencang. Pikirannya mulai melayang ke mana-mana mengingat kehangatan yang pernah beberapa kali dilakukannya bersama sang suami.
"Aku mau mandi, dulu," tiba-tiba Kayla mendorong tubuh Raffa.
Kayla bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Kayla menutup pintu kamar mandi lalu berdiri di sana menutup wajahnya yang sudah berubah memerah karena malu.
Walaupun dia sudah pernah memadu kasih dengan suami, tapi Kayla masih merasa malu karena mereka jarang berada di satu kamar yang sama.
"Sayang, jangan lama-lama, ya," teriak Raffa dari luar kamar mandi.
Teriakan Raffa membuat Kayla tertegun dari lamunannya, akhirnya dia pun membersihkan dirinya.
Tak berapa lama Kayla keluar dnegan menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit di rambutnya. Dia lupa membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi seperti yang biasa dilakukannya.
Raffa yang sudah mengenakan pakaian yang disediakan Kayla tadi tersenyum melihat sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kayla melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Namun, kegiatannya terhenti seketika saat tangan kekar sang suami melingkar di pinggang sang istri.
Raffa memeluk Kayla dari belakang.
"Aku merindukanmu," bisik Raffa lembut di telinga sang istri.
Hawa tubuh Kayla seketika memanas, darahnya berdesir merasakan sesuatu yang bergejolak dalam jiwanya.
Raffa perlahan membuka handuk yang melilit rambut panjang sang istri. Dia membiarkan rambut panjang Kayla yang belum disisir rapi terurai.
Raffa menciumi rambut istrinya yang basah, membuat hasrat yang selama ini terpendam mulai menggelora.
Raffa membalikkan tubuh Kayla, dan kini dia dapat melihat wajah polos sang istri tanpa polesan bedak sedikitpun menempel di wajah natural Kayla.
"Aku menginginkanmu, Sayang," lirih Raffa lalu dia meraup bibir Kayla dan menggiring Kayla mendekati tempat tidur.
Di atas tempat tidur, Raffa melepaskan bathrobe yang terpasang di tubuh sang istri, perlahan tapi pasti, Raffa pun meluapkan hasratnya yang selama ini terpendam.
Mereka kembali memadu kasih setelah beberapa lama tidak menyatukan cinta yang ada di hati mereka.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1