Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 157


__ADS_3

“Apa maksud, Ayah?” tanya Agung protes.


“Sayang, Ayah dan Bunda tidak mau Alex melangkahimu. Makanya, kami memutuskan Alex kami izinkan menikah dengan syarat kamu juga mau menikah,” jelas Hurry berusaha menenangkan Agung.


“Tapi, Bun. Aku belum memiliki calon untuk menikah,” ujar Agung membantah ucapan sang Bunda.


“Kami mengerti hal itu, Bunda dan Ayah memiliki calon untukmu, jika kamu mau menikah dengan gadis itu. Maka kalian akan menikah secara bersamaan,” ujar Hurry pelan berharap Agung mengerti dengan keinginan kedua orang tuanya.


“Apa, Bun? Bunda mau menjodohkan aku?” tanya Agung memastikan dia tidak salah tanggap.


Hurry menatap sang suami meminta sang suami menjelaskan tujuan mereka pada putra sulung mereka.


“Begini Gung, Ayah dan Bunda akan menyetujui Alex menikah jika kamu juga mau menikah. Kalau kamu memang tidak mau menikah itu artinya Bunda dan Ayah tidak bisa menyetujui pernikahan Alex,” ujar Hendra tegas.


Agung menatap tajam ke arah Alex, dia kesal dengan Alex karena ulah adik bungsunya itu dia ikut dipaksa menikah. Sementara itu Agung belum memiliki calon, bahkan saat ini dia belum memiliki peluang untuk mendekati gadis yang sudah masuk ke dalam hatinya.


“Lalu Ayah dan Bunda memutuskan untuk menjodohkan Agung tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu?” tanya Agung tidak terima.


“Gung, kalau kamu memang tidak mau, Ayah dan BUnda tidak akan memaksa kamu,” ujar Hurry berusaha menenangkan Agung yang mulai emosi.


Alex hanya menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah pada Agung, karena permasalahan yang dihadapinya membuat Agung ikut terlibat.


“Entahlah, Agung mau berangkat lebih dulu, Bunda nanti berangkat sama Ayah saja,” ujar Agung pamit pada kedua orang tuanya.


Sebelum pergi dia melayangkan tatapan mautnya pada sang adik.


Hurry menatap lemas pada sang suami, Hendra mengelus pundak sang istri. Hendra tahu, Agung tidak akan bisa marah tiba-tiba pada Ayah dan Bundanya. Saat ini mereka hanya bisa memberikan Agung waktu untuk berpikir.


“Bun, maafkan aku. Kalau memang Bang Agung tidak mau, aku juga tidak bisa memaksakan dia. Mungkin aku dan Irene tidak berjodoh,” lirih Alex sendu.


Alex pun keluar dari ruang makan, dia melangkah menuju kamarnya. Alex pun bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.


Dia merasa sia-sia datang ke Padang jika keputusan kedua orang tuanya melibatkan abangnya. Alex hanya ingin Ayahnya datang menemui ayah Irene untuk mengungkapkan niat Alex akan meminang putri mereka.


Hurry mengikuti langkah Alex, dia tidak ingin Alex merasa bersedih dengan keputusan yang sudah mereka ambil.


“Lex, Bunda boleh masuk?” tanya Hurry pada putranya.


Alex membukakan pintu kamarnya. Lalu dia duduk di atas tempat tidurnya, diikuti oleh Hurry yang duduk di samping Alex.


“Sayang, maafkan Bunda sama Ayah. Kami tidak bermaksud melarang kamu untuk menikah dengan Irene. Hanya saja, saat ini kami berharap kamu mau membujuk Agung untuk mau dijodohkan.” Hurry menghentikan ucapannya sejenak.

__ADS_1


“Bunda memiliki calon wanita sholehah untuknya, makanya kami mengambil seperti itu agar kamu mau membujuk abangmu,” ujar Hurry pada putra bungsunya.


“Tapi, Bun. Bunda sudah tahu bagaimana hubunganku dengan Bang Agung, aku tidak mau ada masalah dengannya,” bantah Alex.


“Sayang, Bunda dan Ayah juga ingin melihat kalian akur. Mana tahu dengan hal ini kamu bisa mendekati Abangmu, dan kalian bisa menjadi kakak adik sebagaimana mestinya,” ujar Hurry penuh harap.


Alex menatap dalam pada wajah wanita yang sudah melahirkannya, Alex melihat raut kesedihan yang terpendam di hati sang Bunda.


“Apakah, Bunda sedih dengan hubunganku dan Bang Agung yang tidak akur?” tanya Alex merasa bersalah.


“Tak ada ibu yang akan bersedih jika melihat putra dan putrinya tidak akur,” lirih Hurry.


“Bun, Maafkan Alex. Au akan mencoba membujuk Bang Agung. Au tidak bisa berlama-lama di sini,” ujar Alex.


“Kamu tidak salah, di antara kalian hanya terjadi kesalahpahaman,” ujar Hurry sendu.


“Baiklah, Bun. Aku akan mencoba untuk membujuk Bang Agung” ujar Alex.


Dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jakarta.


“Bun, biar aku yang mengantarkan Bunda ke butik,” lirih Alex.


“Ya udah, Bunda siap-siap dulu. Ayah kamu juga mau berangkat ke kantor.” Hurry mengusap kepala putra bungsunya.


“Kamu mau berangkat, Yah?” tanya Hurry pada sang suami.


“Iya, udah siangan juga ini. Kamu jadi ikut bareng aku?” tanya Hendra pada sang istri.


“Enggak usah, Yah. Aku minta antarkan Alex saja nanti,” jawab Hurry.


“Ya udah, aku berangkat dulu, ya,” ujar Hendra lalu melangkah keluar rumah.


Hurry mengikuti langkah sang suami, dia menyalami dan menciumi punggung tangan imamnya. Hendra mengecup pelan puncak kepala sang istri. Hal ini telah menjadi rutinitas bagi mereka sejak mereka memulai hidup berumah tangga.


“Hati-hati ya, Sayang,” ujar Hurry mengantar kepergian sang suami.


“Kamu juga hati-hati, katakana pada Alex jangan ngebut,” pesan Hendra sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Setelah Hendra pergi, Hurry pun bersiap-siap untuk berangkat ke butik. Banyak pekerjaan yang harus dilakukannya.


“Lex, kita berangkat sekarang?” teriak Hurry setelah dia siap untuk berangkat.

__ADS_1


“Iya, Bun,” balas Alex dari dalam kamar.


Tak berapa lama, Alex pun keluar dari kamar. Dia sudah siap untuk mengantarkan sang Bunda.


“Kita pake motor aja ya, Bun,” ujar Alex sambil bersiap-siap untuk mengeluarkan sepeda motor gedenya.


“Terserah kamu,” jawab Hurry.


“Ayo, Bun!” ajak Alex.


Alex memang lebih suka mengendarai sepeda motor dari pada mobil, dia merasa lebih simple jika bepergian menggunakan sepeda motor.


Hurry mengambil helm yang disodorkan oleh putranya lalu memasang helm tersebut di kepalanya. Dengan hati-hati Hurry menaiki sepeda motor gede milik sang putra.


“Pegangan yang erat ya, Bun!” seru Alex sebelum melajukan sepeda motornya.


“Siap, Bos,” seru Hurry bersemangat.


Alex melajukan sepeda motornya membelah jalan raya dengan kuda besi kesayangannya. Hanya 30 menit mereka pun sampai di butik.


Butik Bunda Hurry memang belum buka karena masih pagi. Para karyawan sudah berdatangan untuk membersihkan dan merapikan keadaan butik terlebih dahulu. Butik akan dibuka sekitar pukul 09.30.


Mereka turun dari sepeda motor lalu melangkah masuk ke dalam butik. Di dalam butik, Hurry mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok putra sulungnya.


“Rin, Agung sudah datang?” tanya Hurry pada salah satu karyawan yang sedang merapikan pakaian.


“Udah, Bun,” jawab Airin.


“Oh, terima kasih, Rin,” ucap Hurry ramah.


“Mungkin abangmu sedang berada di ruangannya, sana temui dia. Tapi kamu harus bicara sopan dengannya. Ingat dia itu kakak kamu bukan musuh kamu,” pesan Hurry.


“Iya, Bun.” Alex mengangguk.


Sepanjang jalan tadi dia berusaha memikirkan cara untuk membujuk sang kakak, dan sekarang dia akan mencoba cara itu.


Alex melangkah menuju ruangan Agung, dia langsung membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Agung yang sedang asyik melihat keramaian pagi di kota Padang melalui jendela ruangannya membalikkan kursi kebesarannya saat mendengar derit pintu ruangannya yang terbuka.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Agung sini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2