
Kayla, Gita dan Lisa langsung melangkah menuju kamar pengantin tempat Dian sedang berhias sebelum prosesi akad nikah dilaksanakan.
"Diaaaan," pekik ketiga wanita itu saat sudah berada di kamar Dian.
Dian melirik ke arah suara cempreng ketiga sahabatnya.
Dia tidak bisa menoleh karena Dian dalam posisi sedang di make up oleh perias.
"Ya ampun, calon pengantin wanitanya cantik banget," seru Gita.
Dian tersipu malu mendengar ocehan Gita.
"Gimana perasaan kamu, Yan? Dag Dig deg ser, ya?" goda Gita.
Gita semakin ketagihan menjahili sahabatnya yang super pemalu ini, terlebih perubahan wajah merah merona Dian langsung terlihat begitu jelas.
"Cantik banget," puji Kayla.
"Cantikan kamu, Kay. Apalagi dengan gaun ini bikin kamu tambah cantik, aura keibuannya membuat wajahmu semakin anggun. Pasti Bang Raffa semakin jatuh cinta sama ibu calon bayinya," ujar Dian.
Dia tidak mau kalau memuji sahabatnya.
"Oh, jadi yang cantik cuma Kayla, aku dan Lisa enggak cantik gitu?" gerutu Gita memasang wajah cemberut.
Dian Kayla melirik ke arah Gita ya sedang merajuk.
Mereka pun tertawa lucu melihat aksi Gita.
"Ya jelas dong, Cantik! Kalian yang paling cantik dari kami berdua," ujar Dian membujuk Gita.
"Nah gitu, dong. Calon istrinya Babang Nick," oceh Gita keceplosan.
"What?" pekik ketiga sahabat Gita.
"Jadi ceritanya, kamu mau nungguin Babang Nick selesai kuliah, Git?" tanya Lisa tak percaya.
"UPS, keceplosan." Gita menutup mulutnya malu.
"Kamu udah sejauh apa sama dia, Git?" tanya Kayla penasaran.
"Kamu udah jadian sama Babang Nick?" tanya Dian ikut penasaran.
Gita pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Gita, apakah ada hal yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Lisa mulai menginterogasi sahabatnya.
"Hehe, enggak ada sih. Cuma aku ngebayangin aja kalau dia itu jodoh aku. Soalnya dia selalu mengungkapkan perasaannya padaku," tutur Gita nyengir kuda.
"Ish, dasar!" ujar Lisa.
__ADS_1
"Ya udah, kita do'akan semoga Gita berjodoh dengan Babang kesayangannya," ujar Kayla menengahi.
"Aamiin," seru Dian dan Lisa.
"Kalau kalian sudah pada nikah, aku gimana dong?" tanya Lisa berkecil hati.
"Ya ampun, Lisa. Kalau pun kami udah nikah, kamu ya tetap sahabat kami," ujar Kayla menghibur Lisa.
"Tenang aja, Lis. Bang Raffa punya banyak stok teman yang Sholeh, kok," ujar Gita juga ikut menghibur Lisa.
"Hahahaha." Keempat wanita itu tertawa.
"Senang ya, punya sahabat saling pengertian seperti kalian," ujar Si tukang Rias melihat kekompakan keempat wanita itu.
"Alhamdulillah," ujar Mereka serentak.
"Done, pengantin wanitanya sudah ready," seru si tukang rias.
Tak berapa lama, pintu kamar Dian di ketuk.
"Yan, kamu udah siap?" tanya Ibu Fatimah yang sudah membuka pintu kamar Dian.
"Udah, Bu!" seru Kayla, Gita dan Lisa bersemangat.
Buk Fatimah tersenyum bahagia melihat kekompakan ketiga sahabat putrinya.
Ketiga sahabat Dian pun menggandeng tangan sang pengantin wanita.
Agung yang sudah duduk di posisi mempelai pria membalikkan tubuhnya melihat sosok si calon istri saat mendengar berbagai pujian teruntuk calon istrinya.
"Wah, cantik sekali," puji salah satu tamu.
"Mempelai wanitanya cantik dan anggun, sedangkan pengantin pria tampan dan gagah." Terdengar bisik-bisik dari tamu yang memuji kesempurnaan dua makhluk Tuhan yang akan melaksanakan ijab kabul.
Keempat wanita yang cantik dan anggun melangkah mendekat ke meja tempat akad nikah akan dilangsungkan.
Ketiga wanita itu mendudukkan Dian di samping mempelai pria. Setelah itu mereka beranjak mencari posisi agar dapat menyaksikan prosesi sakral tersebut.
Acara pun dimulai, seorang MC terkenal di Bandung memulai acara prosesi pernikahan Agung dan Dian.
Sang MC membawakan acara dengan khidmat, sehingga tak seorang pun yang tidak mengeluarkan air mata saat tiba sesi kedua mempelai meminta izin kepada kedua orang tua mereka untuk menikah.
Setelah itu, sesi yang ditunggu-tunggu pun datang yaitu sesi ijab kabul.
"Bagaimana mempelai pria apakah sudah siap?" tanya penghulu pada Agung.
Agung mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan si penghulu.
"Bagaimana wali mempelai wanita apakah sudah siap?" tanya penghulu pada Pak Hidayat selaku ayah dari Dian.
__ADS_1
Hidayat juga mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan si penghulu.
"Saya nikahkan anak gadis saya bernama Dian Sastro binti Hidayat dengan mas kawin 25 gram emas serta seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar Hidayat dengan lantang dan jelas sebagai ucapan ijab.
"Saya terima nikahnya Dian Sastro binti Hidayat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," sambut Agung dengan tegas sebagai ucapan qabul.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu pada dua saksi yang duduk tak jauh dari mereka.
"Sah!" sahut saksi lantang.
"Alhamdulillah," sambut para tamu.
Sang penghulu langsung mulai membacakan do'a sebagai ucapan syukur atas bersatunya dua insan, diikuti oleh tamu yang datang.
Setelah itu, mempelai pria dituntun untuk menyerahkan mahar pada mempelai wanita.
Kedua mempelai berdiri, Agung mengambil mahar yang sudah disiapkan lalu dia pun menyerahkan seperangkat mahar itu pada mempelai wanita.
Dian menerima mahar itu, lalu dia pun menyalami serta menciumi punggung tangan sang suami.
Setelah itu Agung mengecup lembut puncak kepala wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Semua tamu memberikan tepuk tangan sebagai ungkapan rasa bahagia yang dirasakan oleh kedua mempelai.
Acara akad nikah pun selesai dengan khidmat, Agung dan Dian kini sudah sah sebagai pasangan suami istri.
Acara pun di tutup dengan sesi pengambilan photo, mereka mengabadikan momen bahagia mereka dengan berpose di depan kamera.
Dimulai dari sepasang pengantin,serta seluruh keluarga besar ikut berpose di momen tersebut, tak ketinggalan Gita dan Lisa juga ikut beraksi.
Sementara itu seluruh tamu yang datang dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disiapkan, mereka menikmati berbagai menu makanan yang tersedia.
Semua orang yang ada di sana merasa bahagia dengan pernikahan antara Agung dan Dian.
Setelah usai mengabadikan foto bersama keluarga, sang fotografer meminta kedua mempelai untuk berpose dengan berbagai gaya.
Kayla dan Raffa duduk di sebuah sofa yang terletak di pinggir ruang tamu.
Kayla menatap haru ke arah Agung dan Dian. Dia teringat dengan acara pernikahannya dengan Raffa.
Saat itu, Kayla dinikahkan dengan pemuda yang sama sekali tidak dikenalinya. Dia menikah dengan pemuda itu hanya berlandaskan rasa terima kasih dan baktinya pada pria yang sangat dihormati dan disayanginya.
Pernikahan yang dilandasi keterpaksaan, hanya kepada Allah dia berserah diri akan jalan kehidupan yang akan ditempuhnya.
Kayla juga mengingat, malam pertama yang terjadi di antara mereka.
Pada malam yang seharusnya kedua mempelai memadu kasih dan cinta, tapi Kayla mendapatkan penolakkan dari Raffa dengan ucapannya bahwa dia hanya mencintai wanita yang bernama Zahra.
"Sayang?" lirih Raffa heran melihat sang istri meneteskan air mata.
__ADS_1
Bersambung...