
Alita mendekati Kayla, lalu menggenggam tangan sang kakak.
"Kak, selama ini aku tinggal sendiri di sini. Sesekali Bang Alex datang menjengukku di sini. Sekarang di kota ini aku sudah bertemu dengan kakak kandungku. Apakah boleh aku ikut tinggal bersamamu di rumahmu?" pinta Alita memohon.
Kayla tampak berpikir, dia tidak tahu harus menjawab apa. Kayla belum bisa menjawab permintaan sang adik karena dia harus mendiskusikan masalah ini dengan suaminya.
"Kak, boleh enggak?" tanya Alita mendesak sang kakak.
"Mhm, Dek, rumah kakak saat ini sudah ada Rayna dan Satya. Lalu Fitri, teman Rayna di saat Satya tidak berada di Jakarta. Masalah ini akan kakak sampaikan pada Raffa, nanti jawabannya kakak kabari lagi ke kamu ya, Dek," ujar Kayla.
"Kak, aku sebagai adik kandungmu ingin selalu berada di dekatmu," ujar Alita memohon.
"Iya, Dek. Kakak mengerti maksudmu, tapi kakak sama Bang Raffa harus memikirkan tempat untukmu di rumah," balas Kayla.
"Baiklah, Kak. Aku mengerti. Aku harap Kaka mempertimbangkan permintaan adikmu ini," ujar Alita lagi.
Alita sengaja terkesan memaksa agar Kayla merasa tidak enak hati padanya. Alita sengaja meminta untuk tinggal di rumah Kayla agar dia bisa selalu dekat dengan Raffa.
"Iya, Kakak akan membicarakan hal ini sama Bang Raffa," ujar Kayla.
"Ya udah, aku pergi dulu, ya," ujar Kayla.
"Iya, Kak," lirih Alita.
Alita pun memeluk tubuh sang kakak dengan erat.
"Makasih, Kak," ujar Alita dengan berpura-pura manis.
Kayla pun melepas pelukan sang adik, lalu melangkah meninggalkan Alita di kamar kostnya.
Kayla kembali masuk ke dalam mobil saat dia sudah keluar dari pekarangan rumah kost Alita.
"Udah," ujar Kayla setelah dia berada di dalam mobil.
"Kita langsung pulang atau gimana?" tanya Satya.
Sebenarnya tadi Satya ingin mengajak Raffa dan Kayla untuk makan terlebih dahulu di kafe, tapi dia merasa malas untuk membawa Alita ikut bersama mereka.
"Terserah," jawab Raffa.
"Kita makan siang di kafe dulu, ya. Di rumah enggak ada makanan, Fitri tadi minta izin full kuliah," ujar Satya.
"Boleh," ujar Rayna semangat.
Kayla dan Raffa mengikuti kemauan sepasang suami istri tersebut.
Tak berapa lama mereka pun sampai di depan SatRa's Cafe.
Seperti biasa saat ia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pemilik kafe.
Mereka melangkah masuk ke dalam cafe, beberapa karyawan yang melihat mereka menunduk dengan hormat saat pemilik tempat mereka bekerja melintas di hadapan mereka.
Seperti biasa mereka duduk ruangan VVIP.
Seorang pelayan telah menunggu di sana, untuk menyiapkan orderan yang akan mereka pesan.
__ADS_1
Raffa menuliskan pesanan yang diinginkannya di sebuah kertas yang tadi dimintanya dari pelayan tersebut.
Setelah itu sang pelayan pun pergi menyiapkan orderan sang pemilik tempat dia bekerja.
"Hei, di mana tuan Raffa dan Satya?" tanya Raymond pada pelayan yang baru saja keluar dari ruangan tempat Raffa dan Satya berada.
"Di dalam ruangan ini, Pak," Jawab si pelayan.
Setelah itu Raymond pun masuk ke dalam ruangan tempat Satya dan Raffa berada.
Tok tok tok...
Raymond mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Maaf, Tuan," lirih Raymond.
"Eh, kamu Ray. Masuk," ujar Satya saat mendapati Raymond berdiri di depan pintu.
Raymond pun masuk ke dalam ruangan tersebut, lagi dan lagi kedatangan Raymond menjadi perbincangan antara Raffa, Satya dan Raymond tentang permasalahan bisnis yang tengah mereka jalani saat ini.
Tak berapa lama pelayan datang membawakan beberapa makanan, saat melihat makanan yang banyak dihadapannya tiba-tiba Kayla merasa sedih.
Raffa menangkap raut wajah istrinya yang sendu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rafa khawatir.
"Bang, saat ini kita menikmati makanan yang banyak di hadapan kita, tapi bagaimana dengan Alita?" tanya Kayla mulai sendu.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Rafa pada Kayla.
"Aku kasihan dengan Alita, dia tidak bisa makan makanan yang enak seperti kita saat ini," keluh Kayla mengingat sang adik di kostnya.
"Apakah boleh?" tanya Kayla memastikan.
"Boleh, Sayang," ujar Raffa.
Raffa memanggil salah satu pelayan untuk masuk ke dalam ruangan mereka.
"Iya, Tuan," lirih si pelayan.
"Sediakan sebagian makanan ini lalu suruh salah satu pelayan untuk mengirimkannya ke kost yang terdapat di gang Mawar," pinta Raffa pada si pelayan.
Raymond mendengar permintaan Raffa pada sang pelayan.
"Untuk siapa?" tanya Raymond pada Kayla dan Raffa.
"Untuk Alita, adik Kayla," jawab Raffa.
"Mhm, kalau begitu biarkan saya yang mengantarkan makanan Alita ke kost-annya," tawar Raymond pada istri sahabatnya.
"Apakah nanti tidak akan merepotkanmu?" tanya Rafa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa," jawab Raymond.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Raffa.
__ADS_1
"Setelah selesai bawa pesanan itu ke sini, biar Pak Raymond yang mengantarkannya nanti," perintah Raffa pada pelayan tersebut.
Si pelayan pun keluar dari ruangan VVIP tersebut.
Raffa menoleh ke arah sang istri, terlihat dia mengembangkan senyumannya bahagia karena dia senang, sang suami sangat mengerti apa yang diinginkannya.
Mereka pun mulai menikmati makanan yang telah terhidang.
Tak berapa lama, si pelayan datang membawakan makanan yang dipesan tadi.
"Ya sudah, kalau begitu saya berangkat dulu," ujar Raymond izin keluar.
Mereka semua mengangguk melepas kepergian Raymond.
Raymond keluar dari ruangan tersebut, lalu dia mengambil sepeda motor miliknya.
Dia melajukan sepeda motornya menuju kost milik Alita.
Sesampai di depan kost Alita, Raymond bingung bagaimana cara untuk memanggil Alita yang berada di dalam kamarnya.
Lama Raymond berdiri di depan gerbang rumah bercat hijau tersebut. Namun, dia belum juga mendapatkan cara untuk bertemu dengan Alita.
Saat azan Ashar mulai berkumandang, seseorang keluar dari kamarnya.
"Hei!" panggil Raymond dengan tangannya.
Raymond langsung menghampiri wanita berhijab itu.
"Mbak, bisa bantuin saya?" tanya Raymond pada wanita tersebut.
"Ada apa, Mas?" tanya wanita itu.
"Bisa panggilkan Alita?" tanya Raymond pada gadis tersebut.
"Oh, tunggu sebentar!" gadis itu masuk ke dalam rumah kost miliknya.
Tak berapa lama, Alita keluar dari kamarnya. Dia melihat sang mantan bos tengah berada di depan gerbang.
Dia menautkan kedua alisnya heran saat melihat sosok Raymond di sana.
Alita melangkah menghampiri Raymond.
"Ada apa?" tanya Alita pada sang mantan bosnya .
Raymond menyodorkan sekantong makanan yang tadi di bawanya lalu memberikan kantong itu pada Alita.
"Nih, kiriman dari kakakmu," ujar Raymond.
"Tumben," lirih Alita tak percaya mendengar perkataan dari Raymond.
"Ucapkan terima kasih!" pinta Raymond.
"Oke, terim kasih," ujar Alita.
Alita mengambil beberapa barang yang diberikan Raymond padanya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Alita lalu dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Tunggu!" panggil Raymond.