
Kayla menghentikan aksi makannya. Dia menatap heran pada teman-temannya.
"Ada apa?" tanya Kayla dengan polosnya.
"Makanannya enak atau kamu kelaparan, Kay?" tanya dia heran.
Dian sangat mengenal sahabatnya yang biasa makan dengan kalem dan biasanya hanya sekadarnya saja kini berubah seperti orang yang tidak pernah makan selama berhari-hari.
"Makanan di sini enak semua, pantes laris banget. Pengunjungnya juga rame," jawab Kayla santai.
"Bang aku nambah lagi, ya," rengek Kayla pada suaminya setelah makanan dihadapan mereka sudah habis tak bersisa.
Raffa mengernyitkan dahinya.
"Apa benar makanan di sini enak semua, Sayang?" tanya Raffa memastikan istrinya baik-baik saja.
"Iya, Bang. Makanannya enak semua. Aku mau kentang goreng sama pizza ya," pinta Kayla.
"Kamu belum kenyang?" tanya Raffa khawatir istrinya tidak menghabiskan makanannya nanti.
"Belum," lirih Kayla dengan ekspres biasa saja.
"Tunggu sebentar," ujar Raffa.
Raffa pun menekan tombol hijau di dinding dekat posisinya duduk, tak berapa lama seorang pelayan datang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf, Tuan," ujar si pelayan.
"Tolong sediakan kentang goreng dan pizza," pinta Raffa pada pelayan tersebut.
"Baik, Tuan," ujar si pelayan membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan VVIP tersebut.
"Kay, kamu sehat, kan?" tanya Gita khawatir.
"Aku sehat," sahut Kayla.
"Tapi kenapa kamu makan banyak seperti itu?" tanya Lisa heran.
"Aku juga enggak tahu, aku hanya merasa lapar," jawab Kayla polos.
Sambil menunggu makanannya, Kayla dan keempat sahabatnya asyik bercerita sesekali bernyanyi.
Raffa bahagia melihat senyuman yang mengembang di wajah istrinya.
Dia bersyukur, istrinya memiliki sahabat yang baik dan sangat perhatian pada wanita yang dicintainya.
"Sayang, aku ke toilet dulu," ujar Raffa pada istrinya.
Raffa sengaja keluar untuk memantau kondisi kafe miliknya. Saat ini, dia bertanggung jawab menghandle 5 SatRa's kafe di Jakarta karena Satya sedang fokus dengan permasalahan yang tengah dihadapi oleh Rayna.
Satya tidak bisa meninggalkan Rayna sedikitpun, dia juga menyuruh bodyguard untuk selalu memantau kediaman Bram di saat dia menyelesaikan urusan pekerjaannya.
"Iya," lirih Kayla.
Raffa pun berdiri dan keluar dari ruangan tersebut.
Raffa melangkah menuju ruangan pribadi miliknya yang terdapat di kafe.
Dia mengangkat telepon yang ada di atas mejanya lalu meminta wakil manajer kafe untuk masuk ke dalam ruangannya.
Tok tok tok, terdengar pintu ruangan Raffa diketuk.
"Masuk!" perintah Raffa.
"Siang, Tuan," sapa Raymond wakil manajer di SatRa's kafe.
Pria tampan dengan kulit sawo matang. Potongan rambut yang rapi membuat kesan wibawa terpancar dari wajahnya.
"Duduk, Ray!" perintah Raffa.
Pria muda yang bernama Raymond itu duduk di kursi yang tersedia di depan meja Raffa.
"Kamu bawa laporan yang saya minta?" tanya Raffa.
"Ini, Tuan." Raymond menyerahkan map yang dibawanya kepada pemilik kafe tempat dia bekerja.
"Terima kasih." Raffa mengambil map tersebut dan membukanya.
Raffa mengecek laporan keuangan yang tertulis di sana.
"Oke, kirimkan filenya lewat email," perintah Raffa.
"Baik, Tuan," ujar Raymond.
Raymond pun keluar dari ruangan pribadi Raffa. Selanjutnya Raffa juga keluar dari ruangannya.
Saat Raffa memantau kondisi dapur, Raffa tak sengaja menabrak seorang pelayan wanita.
__ADS_1
"Maaf," lirih Raffa.
Raffa kaget saat melihat gadis yang mengenakan seragam pelayanan di kafenya adalah Zahra.
"Raffa?"
"Zahra?"
Raffa dan Zahra kaget.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Raffa pada Zahra.
"Menurut kamu aku ngapain di sini dengan seragam yang sama dengan mereka?" jawab Zahra.
Zahra memang tidak mengganggu hubungan rumah tangga Raffa lagi.
"Tapi, haruskah bekerja?" tanya Raffa merasa kasihan.
"Aku ini anak yatim piatu, walaupun pamanku membiayai kuliahku, tapi aku masih butuh uang untuk melengkapi berbagai kebutuhan hidupku." Zahra menundukkan kepalanya.
Zahra berusaha mencari simpati pria beristri itu.
Raffa teringat dengan peristiwa kematian kedua orang tua gadis kecilnya, yang membuat dirinya harus berpisah dengan gadis kecil yang bernama Zahra.
Entah mengapa, Raffa mulai yakin bahwa Zahra yang sekarang berdiri di hadapannya adalah gadis kecilnya.
"Maaf, aku harus kembali bekerja," lirih Zahra lalu dia meninggalkan Raffa yang masih diam terpaku.
"Ya Allah, kasihan sekali Zahra," lirih Raffa.
Zahra berlalu melanjutkan pekerjaannya, lalu sekilas dia menoleh ke belakang menatapi punggung Raffa yang melangkah ke ruangannya.
"Raffa, aku yakin kamu akan kembali padaku," gumam Zahra dengan senyuman licik di wajahnya.
Raffa kembali masuk ke dalam ruangan tempat ke empat wanita yang dibawanya tadi.
Raffa melototkan matanya melihat piring bekas makanan sang istri.
"Ini kamu habisin sendiri?" tanya Raffa pada Kayla.
"Hehehe," kekeh Kayla sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Raffa menghela napasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah, kita pulang, yuk!" ajak Raffa.
Ke empat wanita itu mengangguk, mereka pun bersiap-siap untuk keluar dari ruangan VVIP.
"Apa?" Raffa melototkan matanya tak percaya.
"Kamu serius, Kay?" tanya ketiga sahabatnya ikut tak percaya.
Kayla mengangguk.
"Kalau Bang Raffa enggak mau, aku pakai uangku sendiri," lirih Kayla cemberut.
"Oke, aku pesankan," ujar Raffa.
Mereka pun keluar dari kafe, sedangkan Raffa memesan pizza terlebih dahulu untuk istrinya.
Tak menunggu lama Raffa keluar dari kafe dengan membawa sekantong pizza.
"Yuk, kita pulang!" ajak Raffa pada Kayla dan teman-temannya.
Mereka masuk ke dalam mobil, sebelum masuk Dian melihat tanda baca di tempat parkir.
Dia mengernyitkan dahinya penasaran.
Raffa mulai melajukan mobilnya setelah semua wanita yang dibawanya tadi masuk ke dalam mobil.
"Bang, aku boleh tanya." Dian mulai membuka pembicaraan.
Raffa melirik Dian dari kaca spion.
"Tanya apa?" Raffa menjawab pertanyaan Dian dengan pertanyaan juga.
"tadi aku lihat, Bang Raffa memarkirkan mobil di parkiran khusus pemilik kafe, apakah kafe itu milik Bang Raffa?" tanya Dian terus terang.
Raffa langsung menoleh ke arah Kayla untuk mengetahui reaksi Kayla saat mendengarkan pertanyaan dari sahabat istrinya itu.
Kayla menatap Raffa dengan tatapan penuh tanda tanya. Selama ini yang dia tahu suaminya merupakan seorang motivator dan penerus perusahaan yang dirintis oleh papanya.
"Mhm, kafe itu milik Satya dan aku," jawab Raffa jujur.
Dia masih tetap fokus melajukan mobilnya sambil melirik ke arah Kayla.
"Maksud kamu, Bang?" lirih Kayla belum paham dengan jawaban yang baru dilontarkan oleh suaminya.
__ADS_1
"Ya, kamu lihat nama kafe tadi. Satra's kafe adalah Satya dan Raffa," jelas Raffa.
Kayla menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Jadi selama ini kamu menutupi kafe ini dari aku?" tanya Kayla pada suaminya.
"Aku tidak menyembunyikannya darimu tapi baru kali ini aku sempat membawamu ke sini," jawab Raffa.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
...PENGUMUMAN...
Hai Readers yang baik hati πππ
Author mengucapkan terima kasih atas dukungan dari para readers setia karya author.
Kali ini Author mau mengadakan event pendukung terbanyak karya author yang berjudul "Jodohku Cinta Pertamaku"
Mulai dari tanggal 2 april hingga 2 mei 2022.
Event pendukung terbanyak karya Author akan mendapatkan hadian dari Author yang hadiahnya akan author umumkan di BAB 100.
Caranya.
\=\=\=>>>
Dukung karya Author dengan rate πππππ
Like setiap bab.
Komentar setiap Bab sesuai isi bab.
Kasih gift πΉ/ kopi/ vote.
Pemenang yang akan di ambil adalah pendukung yang naik podium 1, 2, dan 3 dengan syarat poin 1,2, dan 3 dilaksanakan.
Jika dia naik podium tapi tidak komentar/ like setiap bab maka pemenangnya akan di ambil pendukung setelahnya.
Sebelum ikut event, masuk grup GC GHINS Lover dulu, ya supaya tidak ketinggalan informasi terupdate dari Author.
__ADS_1
Yang ma tanya-tanya event boleh langsung capcus ke GC GHINS Lovers.
Terima kasih buat Readers semuanya.πππ