Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 229


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan siang, Agung pun pamit untuk meninggalkan kampus Alex, dia hendak mengunjungi istrinya. dia memang sengaja langsung menemui Alex di kampusnya karena permintaan dari Bunda Hurry.


"Gue tinggal dulu, ya. gue udah kirim uang ke rekening lo, semoga cukup untuk bulan depan."


Agung pun pergi melambaikan tangan meninggalkan adiknya yang masih terpaku saat mendengar bahwa sang kakak sudah mentransfer uang ke rekeningnya.


Setelah kepergian Agung Alex langsung membuka akun rekeningnya dan melihat saldo rekeningnya sudah bertambah.


"Ya Allah, suami macam apa aku ini? untuk menafkahi istriku saja harus dibantu oleh saudaraku," lirih Alex berkecil hati.


Alex melangkah menuju kelasnya untuk mengikuti mata kuliah yang sebentar lagi akan dimulai.


sore hari Alex langsung pulang ke rumah hari ini dia sudah menyelesaikan urusan kafe sebelum berangkat ke kampus sehingga dia tidak perlu lagi datang ke kafe untuk sore hari.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex sebelum masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mak Ijah dari dalam rumah.


"Irene mana, Mak?" tanya Alex pada Mak Ijah yang datang menghampirinya.


Dia heran tak melihat istrinya keluar dari kamar menyambut kedatangannya.


"loh? bukannya Irene sama kamu, sejak tadi dia belum pulang Mak Ijah kira Irene perginya sama kamu," jawab Mak Ijah heran, dia juga khawatir dengan keadaan Irene.


"Apa? Irene belum pulang? tadi dia bilang selesai kuliah sebelum dzuhur dan akan langsung pulang karena aku masih ada jadwal kuliah," ujar Alex mulai cemas.


Dia khawatir terjadi apa-apa pada istrinya tersebut.


"Mak Ijah juga tidak tahu, Nak. sejak tadi Irene belum datang," ujar Mak Ijah semakin khawatir.


"Astagfirullah, apalagi ini?" lirih Alex.


Alex langsung mengeluarkan ponselnya dari caku celana, dia mencoba menghubungi sang istri.


Satu kali panggilan tersambung tapi belum ada jawaban sama sekali dari sang istri.


Alex kembali mengulangi panggilan menghubungi sang istri, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Irene.


"Arrghh," teriak Alex kesal.

__ADS_1


akhirnya Alex masuk ke dalam rumah, pikirannya semakin kacau ditambah dengan tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah.


Dia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah beristirahat sejenak dia akan berusaha mencari sang istri jika belum pulang juga.


Mak Ijah menatap sendu pada putra dari adik sepupunya itu dia merasa kasihan pada Alex yang harus menghadapi masalah rumah tangga yang rumit dalam usianya yang masih sangat muda.


Masa yang seharusnya dinikmatinya dengan senang-senang bersama teman-temannya kini harus menghadapi lika-liku rumah tangga yang membuat dirinya pusing.


pernikahan yang diperjuangkannya dengan mati-matian justru membuat dia pusing dan stres menjalaninya.


Kini Alex sudah melupakan kesenangan masa mudanya demi orang yang dicintainya, tapi Apakah Irene menghargai hal itu?


Usai membersihkan diri Alex mengenakan kaos dan celana training di bawah lutut, dia keluar dari kamar tentunya sesudah selesai melaksanakan shalat ashar.


Alex melangkah keluar dia memilih menunggu Irene di teras rumah sambil mengecek beberapa pekerjaannya melalui ponsel miliknya.


"Mak!" panggil Alex saat sudah duduk di sebuah bangku yang ada di teras rumah.


Alex teringat akan sesuatu hal. Mak Ijah yang tadinya sibuk di dapur langsung melangkah cepat keluar menghampiri Alex.


"Ada apa, Nak?" tanya Mak Ijah pada Alex saat sudah berada di hadapan Alex.


"Mak, di jok motorku ada dua bungkus pecel ayam yang tadi dibelikan oleh Bang Agung. Aku minta tolong, Emak yang ambilkan dan bawa masuk ya," pinta Alex pada Mak Ijah.


"Itu untuk makan malam Mak Ijah dan Irene nantinya, jadi Mak Ijah tidak perlu masak lagi," ujar Alex.


"Loh, pecel ayam ini cuman dua, lalu untuk Nak Alex makan malam apa?" tanya Mak Ijah sambil mengangkat dua kantong kresek yang berisi pecel ayam yang dibelikan Agung tadi.


"Aku sudah makan tadi di kampus jadi apa aku masih kenyang," jawab Alex sambil tersenyum pada wanita paruh baya yang selalu menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.


Mak Ijah adalah kakak sepupu Bunda Hurry yang tidak memiliki keluarga, Bunda huri sering membawa Mak Ijah ke rumah jika ada kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, makanya Alex dan saudaranya merasa dekat dengan Mak Ijah.


"Tapi, Nak. Kamu pasti lapar nantinya," ujar Mak Ijah gusar.


"Mak Ijah tenang aja ya aku masih kenyang jangan khawatir," ujar Alex menenangkan wanita paruh baya itu.


Mak Ijah mahalan nafas panjang, akhirnya dia pun melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Alex seorang diri di teras rumah.


Tak berapa lama, Alex melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah kontrakannya.

__ADS_1


Alex mengernyitkan dahinya menatap pada mobil yang kini sudah terparkir di depan rumah kontrakannya.


Tak berapa lama dia melihat Irene turun dari mobil tersebut.


"Irene dengan siapa?" gumam Alex di dalam hati.


Dia mencoba menajamkan penglihatannya untuk mengetahui siapa saja yang ada di dalam mobil tersebut.


Alex hanya menangkap sosok seorang pria yang menyetir mobil dan di sampingnya terlihat seseorang duduk, tapi Alex tidak dapat mengetahui seseorang yang duduk di samping pria tersebut laki-laki atau perempuan.


Alex berdiri hendak menghampiri mobil tersebut tapi sayangnya mobil itu berlalu setelah membunyikan klakson.


Irene membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah, dia kaget saat mendapati sang suami sudah berdiri tepat berada di belakangnya.


"kamu dari mana, Ren?" tanya Alex mulai curiga.


"Mhm, a-aku ta- tadi pergi bersama teman-temanku," jawab Irene gugup.


"Pergi ke mana," tanya Alex penuh penekanan.


Terlihat Alex tengah berusaha menahan emosinya agar tidak marah pada sang istri.


Meskipun Alex tahu istrinya sudah melakukan kesalahan pergi tanpa meminta izin pada dirinya sebagai sang suami, tapi Alex berusaha untuk tidak memarahi istrinya.


"Tadi aku hanya pergi jalan-jalan ke mall bersama teman-temanku," jawab Irene santai.


Irene sama sekali tidak merasa bersalah sudah melakukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang istri.


Bagi seorang istri, ke mana pun langkah yang ditujunya harus diketahui oleh sang suami.


"Apakah kamu tahu kamu sudah melakukan kesalahan?" tanya Alex dingin.


Raut wajah Alex ini sudah berubah merah padam menahan emosi. Alex merasa tidak dihargai dengan sang istri pergi tanpa izinnya.


"Iya aku tahu, tadi aku mau menghubungi kamu tapi ponselku lowbat," jawab Irene mencari alasan.


"Lowbat? tadi aku masih bisa menghubungimu tapi kamu tidak mengangkat panggilan dariku," ujar Alex mulai curiga.


Entah mengapa kini Alex merasa ada sesuatu yang aneh pada sang istri.

__ADS_1


"Ren, aku mohon jelaskan ke mana kamu dan dengan siapa?" ujar Alex penuh penekanan meminta penjelasan pada sang istri.


bersambung...


__ADS_2