
Wanita berhijab panjang dengan wajah menunduk membuat jantung Farhan berdegup dengan kencang.
Dia merasa pernah berjumpa dengan gadis bertahi lalat di bawah matanya itu.
"Bunda," sapa Raffa.
Bunda Hurry mengembangkan kedua alisnya saat mendapati seorang pria asing berada di dalam ruang rawat putranya.
"Bun, kenalkan ini Farhan pengacara yang akan membantu kita dalam kasus Raymond," ujar Rafa menjawab kebingungan Bunda Hurry.
Bunda Hurry mengangguk paham, dia mengatupkan kedua tangannya sebagai salam perkenalan pada pemuda yang ada di hadapannya saat ini.
Raffa mulai menjelaskan perihal kasus yang saat ini dihadapi oleh Raymond dan dia juga memberitahukan kepada Bunda Hurry titik terang dalam permasalahan ini.
"Alhamdulillah, Bunda senang mendengarkan berita ini semoga Raymond bisa bebas dari penjara secepatnya dan semoga juga Alex cepat sadar," ujar Bunda Hurry penuh harap.
"Aamiin," lirih semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Wanita yang berada di samping Bunda huri melangkah mendekati Alita, dia mengalami Alita dan Irene secara bergantian.
"Dek, kamu apa kabar?" tanya Alita pada adiknya yang kini sudah berada di sampingnya.
"Alhamdulillah, aku baik, kak. Kakak bagaimana kabarnya? Aku harap kakak bisa sabar dalam menjalani ujian yang diberikan Allah ini," ujar Akifa ikut prihatin dengan masalah yang dihadapi sang kakak.
"Alhamdulillah, sehat, Dek." Alita merangkul pundak sang adik.
"Kamu sedang liburan?" tanya Alita pada adik bungsunya.
"Iya, Kak. Berhubung Pak Kiyai dan Buk Kiyai pergi umrah, jadi aku pikir akan berlibur di rumah Kak Kayla sekalian bantuin dia yang ngurusin Raja, Raju dan Ratu," jawab Akifa.
Akifa mengetahui semua hal dari Bunda Hurry, selama ini Akifa selalu berkomunikasi dengan Bundanya. Kebetulan Bunda Hurry tadi keluar sebentar, Bunda Hurry langsung menjemput Akifa yang mang sejak kemarin minta dijemput olehnya.
Sepanjang perjalanan, Bunda Hurry menceritakan banyak hal yang terjadi pada kedua kakaknya begitu juga dengan Alex.
Selama ini Akifa memang memilih tinggal di pesantren untuk menjadi anak Sholehah agar bisa mendo'akan kedua orang tuanya.
Mata Farhan semakin dalam mencermati gadis belia yang ada di hadapannya saat ini.
"Han," panggil Raffa.
Panggilan Raffa menyadarkan lamunan Farhan yang jauh di masa lalu.
__ADS_1
"Eh," lirih Farhan.
Dia menoleh ke arah Raffa.
"Apakah masih ada yang kamu tanyakan pada Irene?" tanya Raffa.
Raffa ingin cepat urusannya selesai karena dia ingin cepat-cepat pulang. Raffa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak- anak dan istrinya.
"Mungkin untuk hari ini sudah cukup, Bang," jawab Farhan.
"Mhm, ya sudah kalau begitu kita bisa pergi sekarang?" tanya Raffa lagi pada Farhan.
"Baiklah, Bang." Farhan setuju untuk meninggalkan rumah sakit.
"Fa, Akifa mau bertemu dengan Kayla. Apakah Akifa bisa ikut bersama kamu?" tanya Bunda meminta bantuan menantunya.
"Oh, iya, Bun. Akifa ikut sama aku aja," ujar Raffa.
"Bentar ya, Bang. Aku ingin melihat Bang Alex dulu," ujar Akifa.
Gadis belia itu melangkah dengan anggunnya. Gamis panjangnya serta hijabnya yang hampir sama besar dengan gamisnya berayun-ayun saat dia melangkah mendekati tempat tidur Alex.
Farhan semakin terpana melihat gadis yang kini melangkah menjauh dari tempat nya berdiri.
Hati Akifa merasa sedih saat melihat pria yang selalu membimbingnya di waktu kecil.
Sebagai seorang Abang Alex sangat menyayangi adik-adiknya, meskipun dia terlihat begitu cuek tapi kasih sayang Alex jauh lebih besar di dapat Akifa daripada kasih sayang Agung padanya.
"Bang, cepat bangun, ya. Aku enggak suka lihat Bang Alex tidur lama-lama," ujar Akifa sedih.
Tanpa disadarinya, gadis berhijab panjang itu mulai terisak, Hurry datang menghampiri gadis bungsunya itu.
Hurry dapat merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh Akifa karena Hurry sangat tahu kedekatan Alex dengan Akifa selama ini.
Hurry merangkul pundak Akifa, lalu merebahkan kepala gadis kecilnya di dadanya yang sudah renta.
Dia membiarkan gadis kecil itu menangis di dalam pelukannya.
"Sudahlah, perbanyaklah berdo'a untuk abangmu, semoga Allah mendengar do'a-do'a kita yang minta kesembuhan untuknya." Hurry mengelus lembut kepala gadis belia itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah Akifa meluapkan rasa sedihnya, dia membalikkan badannya dan melangkah mendekati sofa tempat semua orang masih menunggu dirinya
__ADS_1
"Alita, kalau kamu mau ke rumah Kayla juga enggak apa-apa. Biar Bunda dan Irene menunggu Alex di sini," ujar Hurry pada putri keduanya.
"Bun, aku masih mau di sini, nanti sore aku akan ke sana jika memungkinkan," ujar Alita.
Saat ini, Alita masih ingin bersama Bunda Hurry menemani Alex. Alita masih berusaha menata hatinya untuk menjaga jarak dengan Raffa.
Dia takut jika semakin sering berada di dekat Raffa membuat dia kembali hilang kendali dalam membedakan antara cinta dan ambisi.
"Oh, ya udah kalau gitu. Buat Bunda terserah kamu saja, kalau kamu masih mau di sini juga enggak apa-apa, kok," ujar Hurry lagi.
"Iya, Bun. Aku masih mau di sini," ujar Alita.
"Mhm, kalau begitu aku pulang dulu ya, Bun," ujar Raffa mulai pamit.
Hurry mengangguk, lalu mengantar Raffa, Farhan dan Akifa menuju luar ruang rawat.
Mereka bertiga melangkah menuju lift setelah berpamitan dengan Bunda Hurry.
Setiap langkah, Akifa menundukkan kepalanya, dia menjaga pandangan dari lawan jenis yang bukan muhrimnya, sementara itu pandang Farhan tak terlepas dari wanita itu.
Raffa dapat melihat ada sesuatu yang dipendam Farhan terhadap adik iparnya tersebut, tapi dia berusaha untuk pura-pura tidak mengetahuinya.
Saat Akifa hendak masuk ke dalam lift tak sengaja hijabnya terjepit pintu lift, dengan cepat Farhan ingin membantu, tapi Akifa langsung mengangkat tangannya agar Farhan mengurungkan niatnya.
Farhan terpaku mendapat penolakan dari gadis belia itu, begitu hati-hati dia menjaga dirinya.
Farhan menatap wajah gadis yang kini berada tak terlalu jauh darinya.
Mata dan tahi lalat di bawahnya sangat dikenalinya, mata itu tak asing bagi Farhan.
Akifa berusaha menarik jilbabnya, tapi tak bisa sehingga dia memilih untuk berdiri di depan pintu lift sehingga Farhan semakin mendapat kesempatan untuk mengamati wajah gadis belia itu.
Mereka keluar dari lift, lalu melangkah keluar rumah sakit. Raffa dan Farhan berjalan beriringan sedangkan Akifa melangkah di belakang 2 pria itu.
Sepanjang perjalanan, Akifa tak banyak bicara dia hanya mendengarkan percakapan yang terjadi antara kakak iparnya dengan pria yang berprofesi sebagai pengacara itu.
Saat mereka hampir sampai di depan cafe, ponsel Raffa berdering pertanda panggilan masuk.
Raffa mengambil ponselnya, lalu menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Halo," ujar Raffa saat panggilan sudah tersambung.
__ADS_1
"Apa?" Raffa kaget dan panik mendengar perkataan dari seseorang diseberang sana.
Bersambung...