Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 291


__ADS_3

"Mhm, pria itu, pria yang kini berada di hadapanku," tutur Akifa jujur.


"Apa? Maksud kamu aku?" tanya Hansel tak percaya.


Dia sangat senang mendengar penuturan Akifa yang jujur.


Akifa menunduk malu.


"Maaf," lirih Akifa.


"Akifa, sejak kita pertama kali bertemu, aku sudah tertarik padamu. Aku sangat senang mendengar bahwa kamu menyukai diriku," ujar Hansel senang.


Hansel tak menyangka dia akan mudah mendapatkan wanita yang menjadi incarannya selama ini.


Tidak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk mendapatkan gadis polos seperti Akifa.


"Lalu, kamu maunya bagaimana?" tanya Hansel.


"Maksud kamu?" tanya Akifa bingung.


"Mhm, maksud aku, kita berdua saling suka. Apakah hubungan kita bisa diperjelas?" tanya Hansel terus terang.


Dengan cepat Hansel meminta kejelasan hubungan mereka. Hansel takut Akifa akan berubah pikiran.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud," ujar Akifa jujur.


Akifa yang benar-benar polos tak pernah tahu apa yang disebut dengan pacaran.


Baginya saat ini dia dan Hansel sudah saling mengetahui isi hati satu sama lain, tanpa diperjelas hubungan di antara mereka sudah cukup bagi Akifa.


"Apakah itu artinya hubungan di antara kita bisa disebut dengan pacaran?" tanya Hansel terus terang.


"Aku tidak tahu," lirih Akifa.


"Baiklah, mulai hari ini hatiku hanya ada untukmu dan aku akan selalu ada di saat kamu membutuhkanku," ujar Hansel.


Hansel menyeringai setelah berucap seperti itu.


"Masalah perjodohanmu, aku akan berusaha membatalkan perjodohan tersebut," ujar Hansel dengan berani.


"Benarkah?" tanya Akifa senang.


Hansel mengangguk. Dia berusaha meyakinkan Akifa bahwa dia adalah pria yang paling pantas untuk mendampingi Akifa.


Akifa pun terhipnotis oleh janji-janji yang diucapkan oleh Hansel. Dengan mudah gadis itu percaya dan terhasut oleh omongan Hansel.

__ADS_1


Keyakinan Akifa bahwa Hansel adalah pria pemilik sapu tangan yang disimpannya. Pria yang selama ini dicarinya.


****


Satu minggu setelah kedatangan keluarga Farhan ke rumah Hendra, mereka kembali datang untuk membahas acara pertunangan antara Farhan dan Akifa, mereka sepakat acara pertunangan akan diadakan esok harinya.


"Kak, aku tidak mau menikah dengan Farhan," rengek Akifa pada Irene kakak iparnya yang tinggal sementara di rumah mertuanya.


Alex mengkhawatirkan keadaan Irene yang kini sedang hamil muda melakukan perjalanan jauh, sehingga dia meminta Irene tinggal bersama kedua orang tuanya.


Terlebih, Irene sudah diminta Alex untuk menjaga adiknya hingga pernikahannya dengan Farhan berlangsung.


"Dek, kamu harus nurut dengan apa yang dikatakan Ayah. Dia lebih tahu yang terbaik untuk kamu," nasehat Irene.


"Jadi kakak juga setuju aku sama Farhan?" tanya Akifa pada kakak iparnya.


"Mhm, menurut kakak Farhan merupakan pria yang baik dan terhormat. Sementara itu kita semua belum tahu bagaimana sifat Hansel," ujar Irene menyinggung sosok pria yang disukai oleh Akifa.


"Kak, Hansel itu baik. Dia pria sholeh," bela Akifa.


"Kamu tahu dari mana dia pria sholeh?" tanya Irene.


"Dia setiap hari melakukan shalat sunat, dia juga selalu shalat tepat waktu," ujar Akifa membela Hansel.


Irene mulai kewalahan menasehati adiknya yang rewel.


"Meskipun kamu tamat pesantren ternyata kamu masih sangat polos untuk menghadapi dunia luar. Kami sebagai kakakmu akan tetap menjagamu dengan baik," gumam Irene di dalam hati.


Sesuai permintaan Alex acara pertunangan yang akan mereka adakan di rumah Farhan, tidak boleh diberitahukan pada Akifa.


Oleh karena itu, Hurry dan Hendra sepakat mengajak Akifa pergi makan malam bersama di luar.


"Kita mau makan malam di mana, Yah?" tanya Akifa pada Ayahnya yang kini sedang menyetir mobil.


"Di rumah teman Ayah," jawab Hendra singkat.


"Oh," lirih Akifa.


Tak berapa lama menempuh perjalanan mereka pun sampai di depan sebuah rumah megah bercat putih.


Di depan rumah itu sudah banyak terparkir beberapa mobil.


Dari luar, terlihat pemilik rumah megah itu sedang mengadakan sebuah acara.


Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, di sana sudah terdapat beberapa orang tamu yang hadir.

__ADS_1


Akifa kaget saat melihat Raffa dan kakaknya juga berada di rumah tersebut, begitu juga dengan Agung dan Dian mereka juga sudah berada di rumah tersebut.


"Kakak kamu juga ada di sini?" tanya Akifa heran.


"Lho, ya iyalah, Dek. yang punya acara rekan bisnis bang Raffa," jawab Kayla.


Tak berapa lama Akifa berada di rumah itu. Papa Farhan berdiri dan memegangi mic bersiap untuk berbicara dengan para tamunya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap papa Farhan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab para tamu undangan.


Perhatian mereka tertuju pada Papa Farhan yang berdiri di tengah-tengah ruangan.


"Dengan ini saya ucapkan terima kasih kepada para tamu yang sudah datang dalam acara anniversary Saya dan istri saya semoga rumah tangga kami semakin harmonis. di hari yang penuh kebahagiaan ini saya akan mengumumkan pertunangan putra saya dengan seorang gadis yang berasal dari keluarga terhormat yaitu bapak Hendra," ujar Papa Farhan.


Akifa membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Dia merasa dipermainkan oleh kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Akifa melangkah mundur dia ingin pergi dari rumah itu, tapi dengan cepat Irene menghalangi langkah adik iparnya.


"Dek, kamu tidak mau kan mempermalukan Ayah dan Bunda?" bisik Irene di telinga adik iparnya itu.


Tak berapa lama, Rahman datang menghampiri keponakannya.


"Sayang, Om setuju dengan perjodohan ini. Om harap kamu mau menerima Farhan sebagai calon pendamping hidupmu nanti," ujar Rahman yang tiba-tiba datang.


"Om," lirih Akifa.


Rahman mengangguk seolah dia menyuruh Akifa untuk maju ke depan.


Mau tak mau Akifa maju ke depan. Dia berdiri di samping Farhan yang tersenyum padanya.


"Mereka akan melakukan pertukaran cincin tunangan, di karenakan mereka belum muhrim jadi hanya bertukar kotak cincin saja lalu pihak keluarga yang akan memasangkan cincin mereka," ujar Papa Farhan.


Kayla membawakan nampan yang berisi 2 kotak cincin. Farhan mengambil kotak yang berisi untuk dirinya lalu dipasangkan oleh Mamanya, sedangkan Akifa mengambil kotak cincin yang tersisa lalu dipasangkan oleh Agung.


"Dengan adanya acara pertunangan ini kami berharap kedua insan ini berteguh hati menjaga ikatan mereka, dan semoga mereka berjodoh hingga acara akad nikah dilaksanakan," ujar Papa Farhan penuh harap.


Farhan menoleh pada Akifa yang menunduk, entah apa yang saat ini tengah dipikirkannya.


Farhan tersenyum bahagia melihat gadis yang selama ini dicarinya sudah menjadi tunangannya.


Gadis belia yang sudah mengubah hidupnya kini sudah menjadi calon istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2