
“Mhm…Ara nama lengkapnya Azzahratul Humayra,” jawab Hurry mengenang masa lalu.
“Azzahratul Humayra?” lirih Raffa.
Deg, jantung Raffa langsung berdetak dengan kencang.
Raffa menghentikan mobilnya. Dia merasa sangat tidak asing dengan nama yang baru saja diucapkan oleh Hurry.
“Ada apa, Raffa?” tanya Hurry bingung.
“Bun, apakah aku boleh tahu semua tentang Ara?” tanya Raffa memohon pada ibu mertuanya.
Hurry mengangguk.
Raffa mengajak Hurry turun dari mobil dan kebetulan tidak jauh dari tempat dia berhenti ada pedagang es dawet keliling di pinggir taman.
“Kita minum es dawet di sana yuk Bun. Biar bunda bisa ceritakan semuanya sambil santai,” ajak Raffa.
Raffa memesan es untuk mereka lalu duduk di bangku panjang yang menghadap ke taman.
“Ara adalah panggilan sayang Bunda sejak dia lahir,” ujar Hurry mulai menceritakan siapa Ara.
“Ummi dan Abinya selalu memanggil putri sulung bunda dengan Zahra,” tambah Hurry.
“Zahra, Bun?” tanya Raffa memastikan dia tidak salah dengar jawaban Bunda Hurry.
“Iya,” jawab Hurry mengangguk.
Raffa menoleh ke arah Bunda, dia mengernyitkan dahinya saat mendengar Bunda mengatakan Ummi dan Abinya.
“Apa? Tadi bunda bilang ummi dan abi?” tanya Raffa heran.
“Iya, Ara bukan anak yang terlahir dari Rahim Bunda, tapi dia tumbuh besar dengan ASI dari bunda. Dia adalah putri dari adik kandung bunda.” Hurry berusaha menahan air matanya yang sudah mulai membendung di pelupuk matanya.
Raffa masih diam, dia tengah mencoba memahami apa yang maksud dari ucapan Hurry.
Air mata Hurry tak terbendung lagi saat dia mengingat kejadian 15 tahun yang lalu, dia terisak menangis di hadapan menantunya.
Hurry dan keluarga mendapat kabar bahwa adik dan adik iparnya meninggal dunia karena kecelakaan. Hurry yang tinggal di Padang langsung berangkat menuju solok tempat tinggal sang adik dalam satu tahun ini, karena adik iparnya mendapatkan surat tugas di sana.
Di sepanjang jalan Hurry hanya membayangkan nasib 3 putri adiknya yang masih kecil. Sesampai di depan rumah sang adik, Hurry langsung berlari mengejar tiga gadis kecil yang tengah menangis di hadapan jasad kedua orang tuanya, Ara sebagai putri sulung merangkul kedua adiknya.
Hurry sempat melihat seorang tetangga adiknya ikut memeluk ketiga gadis kecil yang malang itu.
“Ara,” panggil Hurry berusaha menahan air matanya yang terus mengucur deras di pipinya.
Hurry menghampiri ketiga gadis malang itu.
“Bunda. Ummi, bun, hiks,” Ara pun memeluk Hurry dengan erat.
__ADS_1
Kedua adik Ara pun ikut berpindah ke pelukan wanita yang sangat menyayangi mereka setelah kasih sayang kedua orang tua mereka yang kini terbujur kaku di hadapan mereka.
“Bun, ummi enggak mau ba-ngun,” isak adik bungsu Ara.
Hati Hurry semakin hancur saat mendengar isakkan putri bungsunya. Dia memeluk da menciumi pipi gadis kecil yang masih berumur 3 tahun itu.
Hendra juga tidak tahan melihat kesedihan yang dialami ketiga gadis malang itu, dia menggendong adik bungsu Ara.
Setelah Hurry merasa tenang, dia menyingkap kain putih yang menutupi wajah sang adik.
“Dek, kenapa kamu pergi secepat ini?” lirih Hurry menangis.
“Kamu lihatlah, ketiga putrimu masih membutuhkan kasih sayangmu? Bangun, Dek!” isak Hurry.
Adik laki-laki Hurry datang, dia menghampiri sang kakak.
“Sudahlah, Kak. Ini takdir yang harus dijalani oleh Kak Nisa.” Rahman mengelus pundak kakak sulungnya.
Rahman mengelus lembut kepala Ara, dia merasa kasihan dengan keponakannya yang harus kehilangan kasih sayang kedua orang tua mereka.
Setelah pemakaman kedua orang tua Ara selesai, Hurry dan Rahman membawa ketiga putri mereka pulang ke Padang.
Sejak itu Hurry selalu menganggap Ara sebagai putri sulungnya. Sejak Ara lahir dia sangat menyayangi gadis kecil yang ikut menyusu padanya bersamaan dengan Alex. Sejak kecil Ara dan Alex selalu bermain bersama bahkan mereka sama-sama bergantung di tubuh Hurry saat menyusu.
Saat Ara berumur 2 bulan, Nisa sering sakit-sakitan sehingga ASI yang ditubuhnya tidak bagus untuk Ara.
“Begitulah kisah pahit yang harus dijalani oleh Ara,” ujar Hurry menyelesaikan cerita sedih yang membuat dirinya terluka saat mengingat kejadian itu.
“Jadi, Ara itu pernah tinggal di Solok?” tanya Raffa memastikan.
“Iya, Fa. Setelah Bunda membawa mereka ke Padang, Bunda menganggap mereka sebagai ana kandung Bunda.” Hurry menjawab pertanyaan Raffa.
“Jadi, inilah alasan hasil tes DNA itu tidak memiliki kecocokan?” tanya Raffa.
“Iya, Fa. Bunda tidak sanggup memberitahu Kayla tentang kedua orang tuanya, untuk sementara waktu biarlah dia tahu bahwa bunda adalah ibu kandungnya. Kasih sayang bunda padanya sama dengan kasih sayang bunda pada Agung da Alex,” ujar Hurry.
Hurry menyudahi ceritanya menjelaskan tentang jati diri Kayla yang sesungguhnya. Hurry tak ingin Kayla bersedih begitu dalam , apalagi saat ini dia baru saja kehilangan Ayah Bram.
“Ya Allah, berarti Kayla adalah Zahra, gadis kecil yang selama ini aku cari. Dia adalah cinta pertamaku, ternyata jodohku cinta pertamaku,” gumam Raffa di dalam hati.
Raffa sangat senang bahwa wanita yang sudah sah menjadi istrinya dan kini tengah mengandung buah cintanya adalah wanita yang selama ini di cari-carinya sejak duduk di bangku SMA.
Raffa bersyukur mengetahui bahwa istrinya adalah cinta pertamanya, sehingga rasa cinta dan sayangnya pada Kayla akan semakin bertambah.
“Alhamdulillah, Ya Allah,” gumam Raffa.
Hurry heran melihat wajah Raffa yang berseri-seri setelah dia menceritakan semua kisah tentang Ara kecil.
“Ada apa dengan kamu, Fa?” tanya Hurry penasaran.
__ADS_1
“Bun, aku sangat bahagia setelah mengetahui kisah yang baru saja bunda ceritakan, wanita yang menemani Ara saat kedua orang tuanya meninggal dunia adalah mama Arumi,” ujar Raffa bahagia.
“Maksud kamu?” tanya Hurry bingung.
“Sebelum kami pindah ke Padang kami adalah tetangga ummi dan abi Zahra. Aku adalah satu-satunya teman Ara sewaktu kecil, keluarga kami sering menghabiskan waktu bersama,” jelas Raffa senang.
“Berarti, kamu adalah orang yang selalu diceritakan Ara?” tanya Hurry.
“Iya, Bun.” Raffa mengangguk.
“Kalau tidak salah Ara pernah bilang dibelikan kalung bagus dari teman kecilnya itu,” ujar Hurry mengingat cerita Agung.
Agung sempat iri pada teman Ara yang selalu dibanding-bandingkan Ara dengan dirinya yang payah.
“Iya, Bun. Zahra adalah cinta pertamaku,” tutur Raffa sangat bahagia.
Hurry pun ikut bahagia setelah mendengar penuturan Raffa, itu artinya pria yang sudah menjadi istri putri sulungnya adalah pria yang sejak lama mencintai dirinya.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang, di sepanjang jala Raffa tak henti mengembangkan senyumannya.
Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk bertemu dengan sang istri yang merupakan cinta pertamanya.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1