
Raymond tersenyum senang saat mendengar keputusan yang diucapkan oleh Hendra sebagai ayah dari Alita.
"Aku tidak mau menikah dengannya!" bantah Alita tidak setuju.
Alita menatap tajam ke arah Raymond, dia tak menyangka bisa melakukan hal sebodoh ini.
"Alita, jika kamu hamil siapa yang akan menjadi ayah dari anakmu itu!" bentak Alex.
Alita terdiam, dia masih tak menepis apa yang sudah terjadi.
"Kenapa aku bisa salah orang, sudah jelas hanya Bang Raffa yang akan melewati pintu kamarku mengapa harus pria breng*sek itu yang masuk ke dalam jebakanku," gumam Kayla dalam hati.
Dia masih saja merutuki kebodohan yang telah dilakukannya. Hal ini membuat semua rencananya hancur.
Tak hanya itu, masa depan dan angan-angannya untuk mendapatkan Raffa pun kandas sudah jika dia menikah dengan Raymond.
Hurry mendekati Alita, dia malu dengan perbuatan yang sudah dilakukannya. Selama ini Hurry merasa sudah mendidik putra-putrinya dengan benar.
Hurry juga merasa sudah menanamkan ilmu agam yang kuat pada mereka semua. Namun, semua usaha Hurry tidak memberi dampak positif pada Alita.
Wanita paruh baya itu merangkul pundak Alita.
"Saya, semua sudah terlambat. Kamu harus menikah d Ngan Raymond atau Om Rahman mengetahui semua ini. Apakah kamu mau mengecewakan Om Rahman?" ujar Hurry berusaha membujuk Alita.
Alita masih diam, dia tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Om Rahman jika dia tahu akan kelakuan dirinya.
"Jangan, Bunda. Alita mohon jangan beritahukan hal ini pada Om Rahman," pinta Alita memohon.
"Kalau kamu memang tidak ingin Om Rahman mengetahui hal ini, kamu harus mau menikah dengan Raymond," ujar Hurry tegas.
Akhirnya mau tidak mau Alita mengangguk menyetujui keputusan yang telah diambil oleh Ayah Hendra.
Alex tersenyum, dia merasa lega. Mulai saat ini tanggung jawab Alex untuk menjaga dan mengontrol Alita akan beralih ke tangan Raymond.
"Setelah kita sampai di Padang, kita akan bahas pernikahanmu dengan Raymond," ujar Hendra tegas.
Semua orang pun setuju dengan keputusan yang telah diambil oleh Hendra, Surya kagum pada Hendra bisa mengambil keputusan dengan bijaksana.
Setelah persidangan Alita dan Raymond usai, semua orang pun mulai merasa lapar.
Mereka pun beranjak menuju ruang makan untuk menyantap sarapan pagi yang sempat tertunda ulah peristiwa yang terjadi antara Alita dan Raymond.
Satya dan Rayna telah berada di ruang makan lebih awal, mereka memang tidak ikut dalam menyelesaikan masalah yang terjadi antara Alita dan Raymond.
__ADS_1
Mereka tidak ingin ikut campur dengan masalah mereka, apalagi Rayna memang sudah tidak suka dengan Alita.
"Mas, Kak Kayla sama Bang Raffa mana?" tanya Rayna pada sang suami saat semua orang sudah berada di ruang makan kecuali Raffa dan Kayla.
"Enggak tahu, Sayang. Mungkin Kayla kelelahan karena menunggu Raffa yang tidak pulang sejak kemarin.
"Memangnya Mas Raffa belum pulang?" tanya Rayna lagi.
"Sudah, tadi aku sempat mendengar suaranya berdebat dengan Alex," jawab Satya.
Rayna mengangguk paham.
"Mas, nanti kita antarkan sarapan buat mereka, ya," ujar Rayna.
"Iya," lirih Satya.
Rayna sangat perhatian pada sang kakak, apalagi dia merasa khawatir dengan keadaan kakaknya yang semalaman menunggu Raffa yang tidak tahu pergi ke mana.
Raymond yang sudah mendapat lampu hijau untuk mendapatkan Alita, dia pun tidak mau jauh-jauh dari gadis pujaannya itu.
"Sayang, ambilkan sarapan buat aku, ya," pinta Raymond sambil mengulurkan piringnya pada Alita.
"Sayang sayang kepala lu petang," gerutu Alita.
Alita mengabaikan ukuran piring yang diberikan oleh Raymond.
"Makasih, Sayang," ucap Raymond semakin menjadi menggoda gadis yang sekarang sudah berstatus sebagai calon istrinya.
Alita pun menyantap makanannya terburu-buru, dia ingin cepat hengkang dari ruang makan agar tak lagi bertemu dengan Raymond.
Setiap kali melihat pria itu, hatinya langsung panas mengingat adegan demi adegan yang sudah mereka lewati.
Alita langsung berdiri saat makanan di dalam piringnya sudah habis, Alita pun melangkah meninggalkan ruang makan lalu dia masuk ke dalam kamarnya.
Usai sarapan, rombongan pun kembali bersiap-siap untuk berangkat ke pulau Cingkuak yang ada di seberang pantai Carocok.
Hari ini mereka akan melakukan berbagai kegiatan di pulau itu dari pukul 10.00 pagi hingga petang datang.
Tok tok tok.
Terdengar suara pintu kamar Kayla dan Raffa diketuk. Raffa bangkit dan melangkah menuju pintu.
"Mas, kami bawakan makanan untuk sarapan kalian," ujar Rayna saat Raffa sudah membukakan pintu kamar.
__ADS_1
"Makasih, Ray," ucap Raffa sambil menerima nampan yang diberikan Rayna padanya.
"Sama-sama, Bang." Rayna tersenyum lalu mengajak Satya meninggalkan kamar Raffa dan Kayla.
Raffa pun kembali masuk ke dalam kamar, Raffa mengelus lembut punggung sang istri yang masih tertidur.
Kayla merasa mengantuk karena kurang tidur sejak kemarin malam.
"Sayang, sarapan dulu, yuk!" ajak Raffa pada sang suami.
Kayla mengerjapkan matanya, dia membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Raffa yang kini duduk di kursi di pinggir tempat tidur.
"Makan dulu, yuk," ujar Raffa kembali mengajak sang istri untuk sarapan.
"Aku suapin, ya," lirih Raffa.
Raffa pun menyendokkan makanan ke mulut sang istri.
Perlahan Kayla membuka mulutnya dia menerima suapan makanan dari sang suami. itu artinya dia sudah memaafkan Raffa yang sudah melakukan kesalahan terhadapnya.
Raffa tersenyum karena sang istri mau menerima suapan darinya.
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Raffa memastikan.
Kayla menggelengkan kepalanya, dia pun memberikan sebuah senyuman untuk sang suami sebagai jawaban bahwa dia sudah tidak marah padanya.
"Alhamdulillah, kemarin mama sama papa ngajakin ngobrol membahas perusahaan. Mereka ingin kita cepat menyelesaikan kuliah lalu menatap tinggal di Padang," ujar Raffa memberitahukan percakapan yang dibahasnya tadi malam bersama kedua orangtuanya.
"Iya, Bang. Aku juga maunya begitu, supaya aku bisa mengurus ketiga anak kita dengan baik," ujar Kayla.
Suasana hati Kayla sudah membaik, dia pun menceritakan apa yang baru saja terjadi di kamar Alita.
"Aku benar-benar kakak yang tak berguna," lirih Kayla menyesali.
"Sssstt, kamu tidak boleh bicara seperti itu," ujar Raffa.
Raffa menasehati sang istri karena apa yang dilakukan Alita bukanlah kesalahan Kayla.
Lagian, Kayla tahu bahwa Alita adalah adiknya setelah Alita tumbuh dewasa. Didikan yang didapatnya bukanlah tanggung jawab Kayla lagi.
"Tapi kenapa harus kedua adikku yang menikah karena kecelakaan?" ujar Kayla menyesali apa yang terjadi pada adiknya.
Raffa bingung dengan ucapan sang istri.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan kedua adikmu?" tanya Raffa penasaran.
Bersambung...