Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 89


__ADS_3

"Makasih, Sayang," lirih Raffa pada sang istri sambil mengecup lembut puncak kepala Kayla.


Mereka terbaring lelah di atas tempat tidur dengan balutan selimut.


"Mhm," gumam Kayla menanggapi ucapan sang suami.


"Semoga kita lekas mendapatkan ganti buah cinta kita," lirih Raffa mengelus perut Kayla.


"Aamiin," gumam Kayla di dalam hati.


Raffa mengernyitkan dahinya melihat ekspresi sang istri yang hanya diam saja.


"Kamu tidak mengingkannya dalam waktu dekat?" tanya Raffa penasaran.


"Tak ada seorang istri yang tidak mau mengandung buah cintanya dengan sang suami," ujar Kayla pelan dengan wajah yang mulai bersemu malu.


"Aku pikir, kamu belum mau memiliki anak karena masih kuliah," lirih Raffa.


"Walaupun sulit nantinya, jika Allah berkehendak semua akan dipermudahnya," ujar Kayla penuh keyakinan.


Raffa senang mendengar jawaban sang istri, bagi Raffa dia tidak akan memaksa Kayla jika Kayla memang belum siap memiliki buah hati. Raffa akan mengikuti apa yang diinginkan istrinya.


Raffa pun mengencangkan pelukannya. Dia menikmati kehangatan tubuh sang istri yang sudah dirindukannya selama ini.


Sementara itu, Kayla menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami menikmati aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh sang suami.


****


Raffa dan Kayla tidak bisa berlama-lama di Padang karena Raffa masih harus mengisi seminar dan bimbingan skripsi. Sedangkan Kayla juga harus kuliah.


"Ma, Pa. Kami terpaksa harus berangkat hari ini," ujar Raffa setelah mereka selesai sarapan.


"Iya, Sayang. Kami mengerti, sebentar lagi 'kan liburan, kalian bisa ke sini lagi," ujar Arumi.


"Selesaikan skripsimu lebih cepat, papa sudah lelah mengurusi perusahaan,"pesan Surya.


"Iya, Pa. Skripsi tinggal bab penutup. Semoga bulan depan aku bisa wisuda," balas Raffa.


"Bagus," sahut Surya.


"Ya sudah, papa berangkat ke kantor dulu," ujar Surya berpamitan.


"Nanti papa akan pulang untuk mengantarkan kalian ke Bandar," ujar Surya sebelum dia keluar dari ruang makan.


"Kalau papa sibuk, kami bisa diantar sama Pak Ujang," ujar Raffa takut merepotkan pria yang dibanggakannya.


"Tidak, Nak. Lagian mama kamu ingin mengantarkan kalian," ujar Surya sambil melirik sang istri.


Sejak semalam, Arumi merengek pada suaminya untuk bisa mengantarkan anak dan menantunya ke Bandara.


Arumi hanya tersenyum mendapatkan lirikan maut dari sang suami.


Raffa mengerti situasi yang dihadapi papanya saat ini.


Surya pun keluar dari ruang makan diiringi oleh sang istri yang mengantar hingga teras.

__ADS_1


Kayla berdiri, dia mulai merapikan meja makan dan membersihkan piring-piring kotor yang baru saja mereka pakai untuk sarapan.


"Sayang, kamu jangan terlalu capek. Ada Bi Sari yang beresin," ujar Raffa.


"Enggak apa-apa, Sayang. Sesekali Bi Sari istirahat dulu," ujar Kayla.


Raffa pun ikut membantu sang istri mencuci piring-piring kotor.


Mereka mencuci piring dengan bercanda.


Raffa mencolekkan sabun cuci piring di wajah sang istri.


"Bang Raffa usil," gerutu Kayla sambil mengerucutkan bibirnya.


Cup


Raffa kembali mengambil kesempatan saat melihat bibir istri yang semakin seksi.


Pria tampan itu tidak peduli dengan keberadaan Bi sari yang masih berada di sana.


"Ternyata Tuan Raffa pria yang romantis juga, semoga mereka bahagia hingga maut memisahkan, aamiin," gumam Bi Sari dalam hati ikut bahagia dnegan kebahagiaan majikannya.


Setelah selesai mencuci piring, Raffa dan Kayla kembali ke kamar untuk mempersiapkan barang-barang mereka untuk berangkat.


"Aku selalu ingin bisa bersamamu," lirih Raffa memeluk tubuh sang istri saat merapikan beberapa pakaian di dalam travel bag mereka.


Kayla membalikkan tubuhnya saat menghadap pada suaminya yang masih melingkarkan lengan kekarnya di pinggang sang istri.


"Tak ada seorang suami ataupun istri yang ingin berpisah dengan pasangannya, karena sepasang suami istri akan saling membutuhkan pasangannya, tapi keadaan kita saat ini mengharuskan kita untuk berpisah sementara," lirih Kayla.


"Aku bersyukur bisa memiliki seorang istri yang sangat dewasa dalam menghadapi situasi yang kita hadapi saat ini," ujar Raffa lalu dia mengecup puncak kepala istrinya.


Kebahagiaan jelas terpancar di wajah sepasang suami istri itu. Ikatan mereka semakin kuat setelah ujian hadir dalam hubungan mereka.


****


Satya dan Rayna sedang berada di ruangan seorang psikiater untuk memeriksa kondisi Rayna.


"Alhamdulillah, Tuan Satya. Kondisi Rayna semakin membaik." Psikiater yang menangani Rayna menjelaskan kondisi Rayna saat ini.


"Terima kasih, Dok," ujar Satya pada wanita muda yang sudah menangani istrinya.


"Sama-sama, saat ini kejiwaan Rayna mulai stabil. Kasih sayang dan perhatian dari Tuan Satya membuat dia merasa nyaman, sehingga dia percaya tak ada orang yang berani menyakitinya di saat dia berada di samping, Tuan," tambah sang Dokter.


Satya mengangguk sambil merangkul pundak istrinya, Rayna tersenyum bahagia dengan penjelasan dokter.


"Kalau begitu, kami pulang dulu," ujar Satya berpamitan dengan Dokter Muda itu.


Si Dokter mengangguk.


Satya dan Rayna keluar dari ruang pemeriksaan.


"Alhamdulillah, kondisi kamu sudah membaik," ucap Satya bahagia menatap dalam sang istri.


"Makasih, Mas. Ini semua berkat pengorbananmu," lirih Rayna merasa bersalah.

__ADS_1


"Setiap suami akan melakukan apa pun untuk kebaikan istrinya, saat ini kamu sudah menjadi tanggung jawabku," ujar Satya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Setelah ini kita pulang, aku akan pergi ke sekolahmu untuk mengurusi berbagai hal menyangkut sekolahmu, aku akan meminta kepala sekolah untuk mengizinkanmu homeschooling hingga ujian akhir diselenggarakan," ujar Saya.


Rayna mengangguk, saat ini dia masih butuh istirahat yang banyak dan dia juga tidak ingin datang ke sekolah karena tidak mau bertemu dengan Sandra maupun Jordy.


Satya langsung mengantarkan Rayna sampai rumah, saat ini mereka masih tinggal di rumah orang tua Rayna.


"Aku enggak turun lagi, ya. Takut nanti sekolah mulai tutup," ujar Satya saat Rayna hendak turun dari mobil.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati dan jangan lama-lama," lirih Rayna.


Satya mengangguk.


"Seelah semua urusan selesai aku akan langsung pulang," ujar Satya.


Rayna pun masuk ke dalam rumah, lalu Satya kembali melajukan mobilnya menuju SMA Merdeka.


Satya memarkirkan mobilnya di parkiran SMA Merdeka,lalu turun melangkah menuju ruang kepala sekolah.


Di mengurus berbagai hal mengenai izin kepada Rayna untuk melakukan pembelajaran di rumah, sekaligus Satya juga mencari guru yang bersedia datang ke rumah untuk mengajarkan pelajaran sesuai bidang studi yang diampunya.


Setelah selesai dengan urusannya, Satya melangkah menuju kantin sekolah untuk menemui mata-mata yang sudah disuruhnya untuk mencari tahu tentang Jordy dan Sandra.


Pria tampan dan berwibawa itu menjadi sorotan mata para siswi yang mengagumi ketampanan ciptaan Tuhan yang sempurna seperti Satya.


Dia melangkah di lorong sekolah dengan gaya yang super cool. Tiba-tiba seorang siswa menabrak Satya.


"Hei!" bentak siswa itu tak sopan.


Satya memutar bola matanya saat menyadari siswa yang dihadapannya adalah Jordy.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2