
“Kamu kenapa?” tanya Kayla panik.
Raffa ikut cemas melihat ekspresi istrinya yang panik saat berbicara dengan orang yang menelponnya.
“Kay, Ayah mau jodohin aku sama pria beristri dua,” ujar Irene terisak di seberang sana.
“Hah? Kamu tahu dari mana?” tanya Kayla heran.
“Baru saja mereka datang memperkenalkan diri, pria itu membawa kedua istrinya. Aku takut, Kay,” ujar Irene bingung dan sedih.
“Ya ampun, terus kamu udah kasih tahu Alex?” tanya Kayla lagi.
“Aku sudah mencoba menghubungi Alex, tapi ponselnya enggak aktif,” jawab Irene.
“Kay,aku enggak mau menikah sama pria itu. Apalagi jadi istri ketiga, kamu bisa bayangin kan bagaimana nasib aku setelah ini,” ujar Irene mengadukan semua keluh kesahnya pada Kayla.
“Ya udah, kamu tenang dulu, ya. Aku coba hubungi Bunda. Mana tahu Alex saat ini bersama Bunda,” ujar Kayla berusaha menenangkan sepupunya.
“Ya udah deh, Kay. Tolong bilang sama Alex buat langsung menghubungi aku,” pinta Irene pada Kayla.
“Iya, kamu jangan panik dulu,” ujar Kayla.
Mereka pun mengakhiri panggilan itu, Kayla meletakkan ponselnya di atas nakas di samping tempat tidur.
“Ada apa, Sayang?” tanya Raffa penasaran melihat sang istri yang panik.
“Paman Wisnu keterlaluan banget, Bang. Dia mau menikahkan Irene sama pria yang sudah memiliki istri.” Kayla menyampaikan berita dari Irene tadi.
“Ya ampun, kasihan Irene, dong.” Raffa mulai berkomentar.
“Makanya, Bang. Kita harus bantuin mereka,” pinta Kayla pada suaminya.
“Sayang, Kita mau bantuin bagaimana?” ujar Raffa membantah permintaan sang istri.
“Apa kek, aku juga bingung harus bantuin Irene,” ujar Kayla bingung.
“Ya udah, kamu tenang dulu, ya. Semoga Ayah dan Bunda bisa menyelesaikan masalah ini,” ujar Raffa santai.
“Ih, kamu,” gerutu Kayla kesal melihat sikap sang suami yang masih saja cuek.
Kayla mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi bundanya untuk menyampaikan berita dari Irene.
“Halo, Bun. Bunda di mana sekarang?” tanya Kayla saat panggilan telpon dengan sang Bunda sudah tersambung.
“Kayla, Bunda di kontrakan Alex. Ada apa, Sayang?” tanya Hurry heran.
__ADS_1
“Alex mana, Bun?” tanya Kayla.
Kayla tidak tega menyampaikan pesan Irene langsung pada sang Bunda, dia memilih untuk berbicara dengan Alex.
“Alex di kamarnya, Sayang. Ada apa?” tanya Hurry penasaran.
“Aku bisa ngomong sama Alex, Bun?” pinta Kayla pada sang Bunda.
“Bisa, tunggu sebentar, ya.” Hurry pun melangkah menuju kamar putranya.
“Halo,” ucap Alex saat dia sudah meletakkan ponsel sang Bunda di telinganya.
“Lex, ponsel kamu mana?” tanya Kayla pada sang adik.
“Mhm, sedang dicharger, Kak. Ada apa?” tanya Alex mulai penasaran.
“Tadi, Irene menghubungiku,--“ Kayla pun mulai menceritakan pembicaraannya dengan Irene tadi.
“Ya ampun, aku sekarang harus bagaimana?” gumam Alex tampak putus asa.
“Ada apa?” tanya Hurry penasaran.
Dia masih berdiri di kamar Alex ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Ya udah, Kak. Nanti aku akan menghubungi Irene, terima kasih, Kak,” ujar Alex.
“Ada apa, Lex?” Hurry kembali mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh sang putra.
“Pria yang dijodohkan dengan Irene sudah datang menemui Irene, Bun,”jawab Alex putus asa.
“Lalu, Irene setuju dengan perjodohan itu?” tanya Hurry.
“Entahlah, Bun. Dia tidak bisa menolak di hadapan ayahnya. Sekarang dia sedang bingung harus berbuat apa,” ujar Alex mencurahkan bebannya pada sang Bunda.
“Kamu tenang dulu ya, Nak. Besok Bunda sama Ayah akan langsung datang ke rumah Irene. Kita akan coba untuk negosiasi dengan kedua orang tua Irene.” Hurry berusaha menenangkan hati putranya yang mulai galau.
“Iya, Bun. Aku mau coba telp Irene dulu ya, Bun,” pinta Alex pada sang Bunda berharap Bundanya keluar dari kamarnya.
“Ya udah, kamu jangan panik dulu, kita coba pikirkan solusinya, ya,” ujar Bunda Hurry sebelum keluar dari kamar Alex.
Alex mengangguk, Hurry pun keluar dari kamar putranya. Alex langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi sang kekasih.
Hendra menautkan kedua alisnya saat melihat wajah Hurry yang murung setelah keluar dari kamar putranya.
“Ada apa, Bun?” tanya Hendra penasaran.
__ADS_1
Hurry pun menceritakan apa yang sedang terjadi pada Hendra.
“Kamu tenang ya, Bun. Besok akan kita coba datang ke rumah Irene,” ujar Hendra berusaha menenangkan sang istri.
Namun, Hendra menyimpan rasa khawatir di hatinya. Sebenarnya Hendra juga bisa menawarkan kerja sama dengan ayah Irene, tapi Hendra takut permintaan Ayah Irene di luar kemampuan perusahaan yang dimilikinya.
Keesokan harinya, Hendra, Hurry dan Agung bersiap-siap berangkat ke Padang. Hendra dan Hurry meminta Alex untuk tetap berada di Jakarta. Mereka tidak mau kuliah Alex terganggu gara-gara masalah ini, mereka berjanji akan berusaha menyelesaikan masalah alex secepat mungkin.
“Bunda berangkat ya, Sayang,” ujar Hurry sebelum berangkat.
“Iya, Bun. Ayah sama Bunda harus usahakan membujuk ayah Irene,” pinta Alex pada kedua orang tuanya.
Agung tersenyum melihat adiknya yang merengek pada kedua orang tua mereka.
“Thanks, Bro, lu udah membantu gue buat dapatkan cewek pujaan gue,” ledek Agung pada adiknya.
“Jangan senang dulu,lu. Gue enggak akan biarin lu nikah kalau gue enggak bisa dapatkan Irene,” ancam Alex pada abangnya.
“Emangnya lu siapa?” ujar Agung sinis.
“Agung, udah. Jangan mancing emosi adik kamu,” ujar Hurry memarahi putra sulungnya.
“Hahaha,” tawa Agung pecah melihat wajah adiknya yang murung.
“Udahlah, yuk berangkat,” ajak Hendra yang kini sudah berada di dalam taksi online.
Hurry dan Agung pun melangkah masuk ke dalam taksi meninggalkan Alex yang masih cemberut.
“Kamu kenapa, Bang?” tanya Alita meledek Alex.
“Apa? Jangan ngeledekin aku, Al,” dengus Alex kesal.
“Sakit kan, Bang? Kalau kita enggak bisa dapatkan orang yang kita cintai,” sindir Alita.
“Diam kamu, Al. Situasi aku dan kamu itu berbeda,” bentak Alex kesal pada Alita yang menertawakan nasib dirinya yang sedang galau.
“Ye, kamu aja berusaha melakukan apa saja untuk mendapatkan orang yang kamu cintai, aku juga begitu, Bang. Aku akan berusaha untuk mendapatkan Raffa,” ujar Alita.
“Silakan, lakukan apa yang kamu mau. Tapi ingat! Aku tidak akan diam kalau kamu berani menyakiti Kayla,” ancam Alex kesal pada Alita.
Gadis itu memang tidak tahu kondisi yang tengah dihadapinya, sekarang dia berusaha memancing emosinya.
“Bang, aku ini juga saudara kamu. Kenapa kamu lebih sayang sama dia dari pada aku?” tanya Alita kesal dengan sikap Alex padanya.
“Buka matamu, Al! Kayla itu kakak kandungmu, dia lahir dari rahim yang sama denganmu. Lagian Raffa tidak pernah mencintai kamu,” ujar Alex semakin emosi melihat adik sepupunya.
__ADS_1
Bersambung...