
“Terus saja, Bang. Kamu bela si Kayla itu. Aku benci banget sama dia!” teriak Alita melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Dia tidak terima Alex selalu membela wanita yang sudah mengambil pujaan hatinya yang bertahun-tahun rasa itu disimpannya.
Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alita yang masih belum sadar bahwa cintanya pada Raffa saat ini bukanlah cinta tapi sebuah obsesi untuk mendapat suami kakak kandungnya.
Pikiran Alex semakin pusing setelah bertengkar dengan Alita, Alex pun melangkah masuk ke dalam rumah, di sana Mak Ijah melihat wajah Alex yang kusut dan murung.
“Lex,” panggil Mak Ijah.
“Iya, Mak,” sahut Alex lalu menghampiri wanita yang lebih tua beberapa tahun dari bundanya.
Mak Ijah membawa Alex duduk di sofa ruang keluarga.
“Nak, kalau hati kita sedang galau atau risau, hanya satu tempat kita mengadu,” nasehat Mak Ijah pada Alex.
Alex menatap mak Ijah sendu.
“Hanya Allah tempat kita berserah diri, bawalah untuk shalat dan mohon ketenangan hati pada sang maha Kuasa,” ujar Mak Ijah.
Mak Ijah tahu masalah yang kini dihadapi oleh Alex. Dia ikut merasa sedih dengan apa yang dirasakan oleh Alex, oleh sebab itu dia mencoba menasehati Alex.
“Mak, aku sangat mencintai Irene,” lirih Alex pilu.
“Kalau dia jodoh kamu, semua urusan akan selesai dengan mudah, tapi jika dia memang bukan jodoh kamu. Allah sudah menyiapkan wanita yang lebih baik dari Irene untuk kamu,” nasehat Mak Ijah terus mengalir.
Wanita paruh baya itu mencoba menenangkan hati Alex.
“Ya sudah, sekarang lebih baik kamu shalat dhuha terlebih dahulu. Dengan shalat hati kita akan terasa tentram dan damai, di saat itu kita bisa berpikir lebih jernih lagi,” ujar Mak Ijah pada Alex.
“Iya, Mak. Aku akan coba shalat dulu,” lirih Alex.
Alex sadar, saat ini dia mulai lupa dengan Sang Pencipta. Selama ini dia hanya melaksanakan shalat wajib saja, dan hampir tidak pernah lagi melaksanakan shalat-shalat sunah seperti yang biasa dilakukannya saat duduk di bangku SMA. Dirinya kini mulai jauh dari Allah.
Alex melangkah menuju kamarnya, saat Alex hendak masuk ke dalam kamarnya dia berpapasan dengan Alita yang hendak berangkat ke kampus.
“Kamu mau ke mana?” tanya Alex ketus pada Alita.
__ADS_1
“Ke kampus,” jawab Alita ketus.
“Ingat, Al. Setelah kuliah kamu langsung pulang,” ujar Alex memperingati adik sepupunya itu.
“Iya,” jawab Alita.
Dia pun melangkah keluar dari rumah yang sebelumnya dia menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Mak Ijah.
Sementara itu Alex mulai melaksanakan apa yang dinasehatkan oleh Mak Ijah padanya, dia mulai mengadukan keluh kesahnya pada sang Pemilik hati dan yang satu-satunya Zat yang bisa membolak-balikkan hati seseorang.
Alex memohon pada Allah untuk melunakkan hati Ayah Irene, untuk menerima tawaran ayahnya.
Setelah shalat dzuhur, Hendra, Hurry, dan Agung telah sampai di Bandara Internasional Minangkabau.
Mereka keluar Bandara, Agung langsung melangkah menuju tempat parkir, mereka sengaja meninggalkan mobil mereka terparkir di Bandara agar mereka tidak kesulitan mencari transportasi untuk pulang ke rumah.
Hendra dan Hurry menunggu Agung mengambil mobil di depan pintu Bandara.
“Yah, satu masalah selesai, datang masalah yang lain. Bagaimana cara kita akan membujuk Ayah Irene?” tanya Hurry pada sang suami.
Sedari tadi Hurry risau memikirkan cara untuk meluluhkan hati Ayah kekasih putranya.
Hendra tidak ingin Alex kecewa jika dia tidak berhasil membujuk Ayah kekasihnya. Sementara itu harta dan perusahaannya bukanlah usaha yang besar. Dia butuh berpikir berkali-kali untuk mengambil keputusan nantinya.
“Kalau memang tidak ada cara lain, Bunda juga bisa bantu dari omset butik, Yah,” ujar Hurry tampak putus asa.
“Jangan, Bun. Butik adalah satu-satunya usaha Bunda dan Agung, jika nanti Agung menikahi dia memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya,” bantah Hendra.
“Tapi, Yah,” bantah Hurry.
“Bunda tenang dulu, ya. Kita coba datang dulu ke rumah Irene untuk membaca situasi, setelah itu kita pikirkan jalan keluarnya,” ujar Hendra menenangkan istrinya.
Tak berapa lama mereka mengobrol membahas masalah Alex, Agung pun datang dengan mobilnya.
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil, Agung mulai melajukan mobilnya setelah memastikan ayah dan bundanya duduk dengan nyaman di dalam mobil.
Hendra dan Hurry dapat melihat wajah putra sulungnya yang ceria. Agung terlihat lebih bersemangat dan bahagia dapat menemukan jodoh yang sudah mengisi hatinya beberapa pekan terakhir.
__ADS_1
“Bunda senang melihat putra sulung Bunda bahagia seperti ini,” ujar Hurry mengusik suasana hening di antara mereka.
“Makasih ya, Bun. Agung bahagia, tak menyangka Allah menjodohkan Agung dengan cinta pertamaku,” tutur Agung.
“Agung tahu, saat ini Ayah dan Bunda sedang risau memikirkan masalah yang dihadapi Alex. Ayah sama Bunda jangan khawatir, Agung juga akan ikut membantu membujuk Ayah Irene,” ujar Agung lagi.
Dia sangat mengerti dengan situasi yang saat ini mereka hadapi, Agung juga tidak mau adiknya kehilangan wanita yang dicintainya setelah dia mendapatkan wanita yang diharapkannya.
“Agung juga punya simpanan, Ayah dan Bunda bisa pakai tabungan agung untuk membantu Alex,” tambah Agung lagi.
Hendra melirik istrinya melalui kaca spion di depannya, dia merasa terharu dengan sikap bijak putra sulungnya. Dia juga tahu walaupun Agung dan Alex tidak pernah akur tapi mereka berdua saling menyayangi.
Hendra dan Hurry bersyukur memiliki putra yang penuh pengertian seperti Agung.
****
Setelah shalat maghrib di kediamannya, Hurry, Hendra dan Agung bersiap-siap untuk berangkat menuju kediaman keluarga Wisnu. Agung sengaja menawarkan diri untuk ikut agar dia bisa memahami situasi yang akan dihadapi oleh kedua orang tuanya nanti.
Agung pernah berkunjung ke rumah Irene, waktu itu dia mengantarkan Irene bersama Alex, jadi dia sudah tahu di mana kediaman keluarga Wisnu. Mereka sampai di kediaman wisnu setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit dari rumah mereka.
Hendra turun terlebih dahulu dari mobil saat Agung sudah menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kediaman Wisnu. Lalu diikuti oleh Hurry dan Agung
Tok tok tok.
Hendra mengetuk pintu rumah Wisnu.
Tak berapa lama Bi Nur datang membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum,” ucap Hendra dengan santun.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Nur bingung melihat kedatangan mereka.
“Pak Wisnu ada?” tanya Hendra.
“Ada, tunggu sebentar,” ujar Bi Nur lalu dia masuk ke dalam rumah untuk memanggil Wisnu dan Lina.
Tak berapa lama setelah itu, Bi Nur pun datang dan mempersilakan Hendra dan keluarganya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu Wisnu keluar dari kamarnya.
Bersambung…