Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 195


__ADS_3

Reza tersenyum melihat Lisa kaget karena kedatangan dirinya.


"Kamu kira siapa?" tanya Reza pada Lisa.


Wajah Lisa berubah menjadi merah merona dia tak menyangka Reza akan ikut ke Pulau Mandeh menyambut tawaran Agung kemarin.


"Enggak siapa-siapa, tapi kamu kan kerja. Kamu enggak takut dimarahin bos kami nanti?" tanya Lisa polos.


Gadis itu masih belum tahu siapa sebenarnya Reza. Dalam pikirannya Reza adalah seorang karyawan yang bekerja di resort dan penginapan tempat mereka tinggal.


"Oh, aku sudah minta izin untuk ikut kalian ke sini," jawab Reza mencari alasan yang tepat.


Reza berpikiran lebih baik Lisa tidak tahu dulu siapa dirinya, agar Reza bisa tahu bagaimana pribadi Lisa terhadapnya tanpa mengetahui jati dirinya sesungguhnya.


"Bos kamu baik juga, ya. Ngebolehin karyawannya libur kerja demi menemani teman berlibur," ujar Lisa.


"Lagian aku juga bisa sambil kerja kok, dengan ikut rombongan kalian aku bisa menjadi tour guide buat kalian untuk menikmati berbagai pesona Puncak Mandeh," ujar Reza.


"Oh, benar juga, ya." Lisa mengangguk paham.


"Kamu aja deh yang aku fotokan," ujar Lisa teringat dengan tawaran Reza sebelumnya.


Dengan senang hati Reza bergaya untuk difoto oleh Lisa tanpa memberikan ponselnya. Lisa mengambil foto pria itu dengan ponselnya sendiri.


"Entar kirim ke wa aku, ya," ujar Reza pada Lisa setelah gadis itu selesai mengambil foto dirinya.


"Siip," sahut Lisa bersemangat.


"Ya udah, sekarang kamu yang berdiri di sana. Aku yang ambil foto kamu," pinta Reza sambil mengeluarkan ponselnya.


Lisa mengernyitkan dahinya heran, tapi dia hanya tersenyum.


Tanpa di sadari Lisa, Reza sudah mencuri beberapa foto Lisa tanpa sepengetahuan gadis itu.


"Enggak usah ,deh. Aku juga enggak terlalu suka foto," ujar Lisa menolak dengan halus.


Reza kembali tersenyum, dia pun menyimpan ponselnya yang sudah sempat mengabadikan beberapa foto natural gadis yang sudah mulai menarik perhatiannya.


"Sayang, coba lihat!" ujar Raffa pada Kayla sambil menunjuk ke arah Reza dan Lisa yang terlihat malu-malu kucing.


"Sepertinya mereka saling suka, Bang," lirih Kayla berpendapat.


"Sepertinya begitu, itu artinya kalian berempat sudah memiliki pasangan masing-masing," ujar Raffa tersenyum.

__ADS_1


"Hehehe," kekeh sepasang suami istri itu.


"Yuk!" ajak Raffa.


Sepasang suami istri itu pun melangkah menghampiri Reza dan Lisa.


"Hai, Za. Lu sudah di sini?" sapa Raffa setelah berada tepat di belakang Reza dan Lisa yang asyik menatap pemandangan lautan yang indah dari puncak Mandeh.


Reza membalikkan badannya, dan kaget melihat Raffa dan Kayla sudah berada di hadapannya.


"Raffa, lu ngagetin gue aja," ujar Reza malu kedapatan tengah berduaan dengan Lisa.


Kayla menatap penuh tanya pada sahabatnya. Terlihat Lisa menundukkan kepalanya, mungkin dia malu ketahuan tengah berdua dengan Reza yang sudah jelas baru dikenalnya.


"Asyik banget," goda Raffa.


"Eh, enggak kok. Gue baru kenal sama Lisa, kebetulan tadi gue lihat dia sendiri makanya gue samperin," ujar Reza berkilah agar tidak ketahuan bahwa dia sedang mendekati sahabat dari istri sahabatnya itu.


"Halalkan aja, Bro. Biar enggak dosa," ujar Raffa menyindir Reza.


Seketika wajah Reza dan Lisa berubah merah menahan rasa malu.


"Apaan sih, Bro. Gue kan baru kenal sama Lisa, lagian gue juga belum tahu dia sudah punya calon atau belum," ujar Reza membantah ucapan Raffa.


"Gimana, Lis. Udah ada di depan mata," tembak Raffa langsung pada Lisa.


Raffa yang sudah menganggap sahabat istrinya sebagai adik dengan mudah menggoda gadis itu.


Lisa membelalakkan matanya ke arah Raffa.


"Apaan sih, Bang. Kami baru kenal," bantah Lisa.


"Lihat tuh, Dian sama Agung saja kenalnya pas mau nikah, eh sekarang nempel tuh kayak perangko," ujar Raffa sambil menunjuk ke arah Agung dan Dian yang terlihat sangat mesra sebagai sepasang pengantin baru.


Bagi Agung dan Dian, perjalanan liburan ini bisa dikatakan sebagai ajang honeymoon mereka.


Walaupun sebelum menikah mereka malu-malu, tapi sekarang terlihat mereka sudah menyatu.


Lisa dan Reza menoleh ke arah tunjuk Raffa. Mereka mengakui kemesraan yang terpancar di wajah sepasang pengantin baru itu. Mereka terlihat sangat bahagia.


"Yang penting, Bro. Kalau hatimu sudah bergetar itu artinya kalian jodoh," ujar Raffa pada sahabatnya seolah dia sangat berpengalaman dengan hal ini.


"Memangnya kamu seperti itu, Bang?" tanya Kayla penasaran.

__ADS_1


Kayla teringat pernikahan mereka yang terpaksa. Kayla juga mengingat kata yang dilontarkan Raffa saat malam pertama yang mereka lewati.


"Iya, dong. Sebelum kita menikah aku pernah ketemu kamu, dan saat itu aku kagum melihat keanggunan dirimu. Hanya saja saat itu aku belum sadar dengan isyarat jodoh yang diberikan Tuhan," jawab Raffa.


"Kapan?" tanya Kayla semakin penasaran.


"Waktu di Bandara, setelah Rayna ngomel-ngomel panjang lebar tak berapa lama gadis anggun berhijab panjang datang menghampiri kami dan membawa adiknya menjauh dariku," jelas Raffa mengingat kejadian di Bandara sebelum mereka menikah.


"Masa, sih?" Kayla tidak percaya.


Melihat Raffa dan Kayla asyik mengobrol, Reza mengajak Lisa meninggalkan pasangan suami istri itu berdebat mencari tempat lain.


"Iya, masa kamu lupa sih?" ujar Raffa meyakinkan istrinya yang akhir-akhir ini memang sangat bawel.


"Aku lupa," lirih Kayla masih mencoba untuk mengingat hal yang dikatakan oleh Raffa.


"Kamu kenapa bisa pikun seperti ini sih, Sayang?" keluh Raffa sambil mengelus kepala Kayla.


"Hah? Kamu bilang aku pikun, Bang? Berarti kamu bilang aku udah tua, dong. Ih, kamu nyebelin," gerutu Kayla masang wajah cemberut.


"Eh, bukan gitu," bantah Raffa mulai panik.


Penyakit istrinya yang selalu membuat dirinya salah mulai kumat. Apa pun yang akan dikatakan oleh Raffa akan tetap salah bagi Kayla.


"Apanya yang bukan gitu, pasti kamu mau bilang aku sudah tua dan enggak cantik lagi," gerutu Kayla terus mengoceh tak keruan.


Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ampun, ternyata seperti ini menghadapi istri yang sedang hamil. Sabar, Raffa. Kamu harus sabar," gumam Raffa di dalam hati sambil mengelus dadanya.


Akhirnya Raffa membiarkan Kayla mengomeli dirinya, dia menunggu sang istri lelah berbicara. Dia mendengarkan semua omelan itu dengan senang hati.


"Kamu kok diam saja, Bang?" tanya Kayla heran melihat sang suami hanya diam saat dia mengoceh.


"Lalu aku harus bagaimana, Sayang? Kamu kan masih ngomong, enggak mungkin aku juga ikut ngomong sementara kamu masih asyik mengomeli aku?" jawab Raffa pasrah.


Kayla pun menatap wajah suaminya yang memelas saat menjawab pertanyaan dari nya. Tiba-tiba Kayla pun merasa kasihan pada sang suami.


Kayla langsung memeluk tubuh kekar sang suami.


"Maafkan aku, Sayang," lirih Kayla.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2