
Hurry sengaja menggantung ucapannya untuk menjaga perasaan Irene sebagai istri putra bungsunya.
Penampilan Alex berbanding terbalik dengan Agung, wajah Alex juga kusut dan terlihat menyimpan banyak masalah di benaknya.
Hati Hurry merasa sakit melihat hal itu, tapi Hurry tidak mungkin menyalahkan Irene di depan menantunya yang lain.
"Ya udah, ayo masuk!" ajak Hurry pada kedua putranya dan menantunya.
"Dian!" pekik Kayla saat melihat sahabatnya datang mengunjunginya.
Kayla sangat merindukan sahabat-sahabatnya. Sejak berpisah setelah liburan mereka tak lagi berjumpa kecuali dengan Dian.
"Bagaimana kabar Gita dan Lisa?" tanya Kayla.
"Mereka baik, mereka juga kangen sama kamu, tapi belum bisa maen ke sini. Besok kalau Bang Agung enggak sibuk, kami main ke sini lagi," ujar Dian.
"Benarkah?" ujar Kayla terlihat senang.
"Mumpung besok Sabtu, sebelum aku mengurus urusan butik, aku antar kalian ke sini," ujar Agung.
Kayla menoleh ke arah Irene, dia juga merindukan sepupunya.
"Ren, gimana kabarmu?" tanya Kayla menghampiri sepupunya itu.
"Baik," lirih Irene tak bersemangat.
Dia sudah merasa tersindir dengan ucapan bunda Hurry saat dia baru saja sampai di kediaman Raffa.
"Yakin, kamu baik-baik saja?" tanya Kayla merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh sepupunya itu.
Irene hanya mengangguk.
Setelah itu mereka berkumpul bercengkrama di ruang keluarga. Kebetulan 3R sudah tidur, jadi Agung dan Dian hanya bisa melihat tiga anak kembar itu sebentar.
"Gimana kerjaan kamu, Lex?" lancar?" tanya Bunda Hurry pada putranya.
Alex menoleh pada Raffa, dia sebagai seorang adik ipar tidak boleh cengeng walaupun dia kini bekerja di kafe milik kakak iparnya.
"Lumayan, Bun. Aku kan masih baru, jadi masih sedikit kewalahan dalam menyelesaikan tugas-tugasku." Alex menjawab sekadarnya.
"Terus bagaimana dengan kuliahmu aman, kan?" tanya Hurry pada putra bungsunya.
__ADS_1
Entah mengapa huri merasakan Alex dalam menghadapi beberapa masalah kehidupan.
Tapi Hurry tahu betul, bagaimana sifat dan pribadi putra bungsunya tersebut.
Dia tidak akan pernah mengadu dan mengeluhkan apa yang sedang dihadapinya selagi dia sanggup menyelesaikan masalah tersebut seorang diri terlebih masalah tersebut menyangkut hal yang pribadi baginya.
"Kuliah aman, Bun. Semoga tahun ini Alex bisa menyelesaikan skripsi Alex dan bisa fokus bekerja untuk menghidupi keluarga kecil Alex," jawab Alex seadanya.
Dari jawaban putra bungsunya Hurry dapat memahami kondisi dan masalah apa yang kini tengah dihadapi oleh sang putra.
"Amin, semoga kamu bisa menyelesaikan skripsi dan masalah-masalah yang tengah kamu hadapi, aamiin," lirih Hurry.
Mereka terus berbincang-bincang membahas berbagai hal sehingga mereka lupa waktu bahwa malam semakin larut.
Saat yang lainnya asik mengobrol, Irene lebih banyak memilih diam. dia merasa tidak cocok berada di keliling keluarga suaminya.
Dia juga berkecil hati saat melihat Kayla dan Dian yang mendapatkan suami lebih mapan daripada suaminya.
Kayla menangkap sikap aneh Irene saat mereka mengobrol, tidak seperti biasanya.
"Apakah Irene, sedang ada masalah dengan Alex. Kenapa dia terlihat tidak semangat?" gumam Kayla di dalam hati.
"Ren, bantuin aku angkatin piring dan gelas kotor ke belakang, yuk!" pinta Kayla pada Irene saat semua orang hendak berpindah ke kamar 3R yang baru saja bangun.
Irene mengangguk, lalu dia berdiri membantu mengangkat gelas yang ada di atas meja.
Sesampai di dapur, Kayla menahan tangan Irene. Selama ini, Irene selalu terbuka padanya dan mungkin Kayla bisa membantu jika sepupunya itu tengah berada dalam masalah.
"Ren," panggil Kayla.
"Mhm, ada apa?" tanya Irene mengernyitkan dahinya.
"Kamu lagi ada masalah, ya?" tanya Kayla pada Irene.
"Hah? Masalah? Enggak, kok," jawab Irene.
Untuk kali ini Irene tak ingin terbuka pada sahabat sekaligus sepupunya.
Bertahun-tahun mereka bersahabat tidak pernah Irene menutupi masalah yang dihadapinya.
"Kamu pasti bohong sama aku, Ren," ujar Kayla.
__ADS_1
Ibu tiga anak kembar itu sedikit memaksa Irene untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu.
"Aku enggak bohong, Kay. Cuma kecapekan aja," jawab Irene.
Entah mengapa Irene males mengungkap apa yang sedang dihadapinya. Ada rasa iri yang kini menyelinap di hatinya, bahkan dia merasa menyesal sudah kabur di hari pernikahannya dengan Raffa waktu itu.
"Seandainya dulu aku tidak kabur di pernikahanku bersama Raffa, mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini berdampingan dengan pria mapan dan baik hati seperti Raffa," gumam Irene di dalam hati saat mengingat perbuatannya dua hari menjelang pernikahan bersama Raffa.
Nasi sudah jadi bubur saat ini dia tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menjalani kehidupan bersama Alex, pria yang selama ini menjadi orang yang paling dicintainya. Namun, kini dia merasa muak terhadap sang suami yang tidak sanggup menghidupi dirinya.
"Kamu yakin?" tanya Kayla hati-hati.
"Iya, Kay. Aku yakin, kalaupun ada masalah aku akan berusaha menyelesaikannya sendiri," lirih Irene.
Dari jawaban Irene, Kayla paham bahwa sahabatnya itu kini tidak ingin mengungkapkan masalah apa yang tengah dihadapinya.
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin menceritakannya padaku, tapi ingat jika ada masalah yang kamu rasa berat aku selalu ada untukmu, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya yang penting kita tetap mengadukan segala kegundahan kita pada Sang Penguasa," nasehat Kayla.
"Bun, aku pulang dulu, ya. Sudah malam, kasihan Irene, kami ke sini pake sepeda motor," ujar Alex pamit setelah puas bermain dengan 3R.
"Ya udah, kita tukeran aja. Biar gue yang bawa sepeda motor lu," ujar Agung pada adiknya.
Dia merasa tidak enak mendengar ucapan sang adik, karena saat ini mobil yang dipakainya adalah milik Alex.
"Enggak usah, Bang. Kami biar pulang pakai sepeda motor aja," ujar Alex menolak dengan halus tawaran dari abangnya.
"Ya udah gini aja, kamu bawa mobilmu pulang. Tinggalkan sepeda motor di sini, biar Agung nanti pulang pakai mobil gue. Lagian besok dia juga mau nganterin Dian dan teman-teman Kayla ke sini," usul Raffa memberi solusi.
"Gimana? Lu, mau kan?" tanya Agung pada Alex.
"Ya udah kalau gitu," ujar Alex setuju.
"Bun, Agung juga pamit, ya. Kami mau menginap di apartemen yang baru Agung beli kemarin itu," ujar Agung juga hendak pamit pada sang bunda.
"Ya udah, kasihan istri kalian pasti kecapekan, hati-hati, ya," ujar Hurry mengizinkan putra dan menantunya untuk pulang.
Agung, Alex dan istrinya mereka berpamitan pada semua yang ada di rumah itu, setelah itu melangkah menuju mobil.
Alex menggunakan mobil miliknya, sedangkan Agung memakai mobil milik Raffa yang lebih sering terparkir di garasi rumah apalagi di waktu libur.
Irene masuk ke dalam mobil, setelah menyalami Arumi dan Hurry.
__ADS_1
"Giliran Agung yang berada dipinjamkan mobil, lha kita yang hanya bawahan tak dianggap sama sekali," gerutu Irene setelah Alex mulai melajukan mobilnya.
Bersambung...