
Raffa melajukan mobilnya menuju kampus terlebih dahulu, dia harus menyelesaikan berbagai urusan persiapan sidang tesis yang akan dilaksanakan 1 minggu lagi.
Setelah semua urusan kampus dan sidang tesisnya selesai Raffa langsung berangkat menuju cabang cafe SatRa yang dikelola oleh Raymond, dia harus memastikan keadaan cafe aman dan terkendali.
Dia harus memastikan stok persediaan makanan yang ada di kafe tersedia hingga satu Minggu ke depan.
Setelah shalat dzuhur, Raffa duduk di salah satu kursi pelanggan yang ada di kafe.
Dia sedang menunggu kedatangan pengacara yang sudah dihubunginya sesuai janjinya mereka akan berjumpa di kafe milik Raffa.
Tak berapa lama dia menunggu, seorang pria tampan dengan penampilan yang sangat rapi melangkah masuk ke dalam kafe, pria itu mengenakan kemeja dan jas serta tak lupa dasi yang terpasang di kemejanya dengan warna senada kemeja yang dikenakannya.
Sekilas terlihat pemuda tampan itu seumuran dengan Raffa.
"Assalamu'alaikum, Bang," sapa si pemuda dengan santun saat dia sudah berada di samping Raffa.
"Wa'alaikummussalam, Farhan. Bagaimana kabarmu?" jawab Raffa surprise melihat adik kelasnya itu.
Raffa tak menyangka adik kelasnya yang dulunya bandel dan acak-acakan kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sangat sempurna. Jauh berbeda dengan penampilannya beberapa tahun yang lalu.
Mereka saling berjabat tangan, setelah sekian lama mereka tak berjumpa kini banyak perubahan yang terjadi pada diri Farhan.
"Alhamdulillah baik, Bang. Kalau Abang gimana kabarnya?" tanya Farhan pada Raffa dengan santun.
"Alhamdulillah, Baik." Raffa tersenyum takjub melihat adik kelasnya itu.
"Silakan duduk!" ujar Raffa.
Farhan duduk di hadapan Raffa.
"Kamu mau pesan apa untuk makan siang?" tawar Raffa pada Farhan.
"Mhm, apa ya?" lirih Farhan sambil melihat-lihat list menu yang ada di atas meja.
"Ah, seperti pecel ayam selalu jadi makanan favorit aku, Bang," ujar Farhan.
"Minumannya apa?" tanya Raffa lagi.
"Es lemon," jawab Farhan cepat.
Panasnya matahari membuat Farhan ingin menyegarkan tenggorokannya dengan minuman dingin.
Raffa mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan.
Pelayan yang melihat Raffa mengangkat tangannya langsung bergegas melangkah menghampiri pemilik kafe tempat mereka bekerja.
__ADS_1
"Iya, Tuan," lirih sang pelayan saat dia sudah berada di samping Raffa.
"Bawakan pecel ayam 2 porsi, serta es lemon 2. Jangan pakai lama, ini tamu istimewa," perintah Raffa pada sang pelayan.
"Baik, Tuan," lirih si pelayan lalu dia melangkah meninggalkan Raffa untuk menyiapkan pesanan yang di minta oleh Raffa.
"Aku tak menyangka, sekarang kamu sudah menjadi pengacara terkenal, ya," ujar Raffa memulai pembicaraan dengan adik kelasnya itu.
"Hahaha, beginilah, Bang. Tamat SMA, papa memaksaku untuk kuliah di fakultas hukum UNAND, beliau ingin aku jadi pengacara hebat seperti dia," tutur Farhan mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Flash back On...
"Aaaakkkhh," teriak Farhan saat dia berdiri di pinggir pantai Padang.
"Gue benci kalian!!!" teriak Farhan lagi.
"Dasar orang tua egois!" Lagi-lagi Farhan memaki kedua orang tuanya.
"Kalian selalu saja memaksakan kehendak kalian padaku!" Suara Farhan mulai meredup.
"Kenapa orang tua Abang yang disalahkan?" tanya seorang gadis remaja yang tiba-tiba menghampiri Farhan.
Farhan terdiam saat mengetahui seorang gadis remaja kini sudah berdiri tepat di sampingnya sambil menatap jauh pada lautan lepas.
"Maafkan aku, Bang. Jika Abang tersinggung dengan ucapanmu, tapi aku hanya tidak suka Abang memaki kedua orang tuamu," ujar gadis remaja itu dengan sopan.
"Sok pintar lu, ini hidup gue." Farhan semakin kesal dengan ucapan sang gadis.
"Maaf, memang bukan urusanku mengomentari hidup kamu, Bang. Aku hanya bersedih mendengar kamu mengatai kedua orang tuamu, sementara itu aku sejak kecil sudah tidak memiliki orang tua, jika saja aku memiliki orang tua aku akan menuruti apa pun yang diperintahkan oleh kedua orang tuaku," lirih sang gadis dengan nada mulai menangis.
Farhan tertegun mendengar kata-kata sang gadis, setelah itu gadis remaja itu pergi meninggalkannya.
Farhan terduduk di bebatuan pinggir pantai, dia termenung mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut gadis kecil itu.
Sejak itu Farhan bertukar pikiran, dan mulai mengikuti apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.
Dia melanjutkan studinya di UNAND dengan sepenuh hati hingga akhirnya Farhan kini menjadi pengacara sukses seperti ayahnya.
Flash back off.
"Hei, kenapa?" tanya Raffa heran melihat Farhan yang tiba-tiba melamun.
"Eh, enggak apa-apa, Bang," jawab Farhan tertegun dari lamunannya.
Farhan merupakan putra dari salah satu sahabat Surya. Saat Raffa memberitahukan kasus Raymond pada papanya, Surya mengutus Farhan untuk menyelesaikan masalah yang kini di hadapi oleh Raffa.
__ADS_1
Di usianya yang masih muda Farhan sudah memenangkan beberapa kasus yang dipercayakan klien terhadapnya.
Oleh karena itu, Surya yakin Farhan sanggup menyelesaikan masalah ini.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang membawakan pesanan Raffa tadi, lalu menghidangkan makanan tersebut di atas meja.
"Silakan, Tuan," lirih sang pelayan setelah dia menyelesaikan tugasnya.
"Terima kasih," ucap Raffa dengan ramah.
"Wah, kilat ya, Bang," ujar Farhan takjub dengan pelayanan yang diberikan oleh pelayan kafe itu.
"Alhamdulillah, di sini pelayan sudah terlatih untuk bekerja cepat dan telaten," ujar Raffa.
"Sepertinya, kamu paham sekali dengan kafe ini," puji Farhan.
Raffa tersenyum mendengar pujian Farhan.
"Iya, aku sudah sering datang ke sini," ujar Raffa.
"Kafenya nyaman, pelayanan juga bagus. Wajar saja pengunjungnya rame," puji Farhan lagi tanpa diketahuinya bahwa pemilik kafe itu adalah pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Kita makan siang dulu, ya. Nanti setelah itu kita bahas kasusnya," ujar Raffa.
Farhan mengangguk setuju, setelah itu mereka pun menikmati makan siang yang sudah terhidang di hadapan mereka.
"Bagaimana kasusnya?" tanya Farhan setelah dia menyelesaikan makan siangnya.
Raffa mulai menceritakan kasus yang di hadapi oleh Raymond.
"Berarti penyelidikan polisi belum tuntas lalu Raymond sudah dinyatakan bersalah?" tanya Farhan memastikan.
"Ya, begitulah." Raffa mengangkat bahunya.
"Sebelumnya kita harus selidiki, siapa keluarga Alvaro," ujar Farhan.
Farhan membuka ponselnya. Lalu mencari tahu siapa sosok lawan yang akan dihadapinya dalam kasus ini.
"Keluarga Alvaro Fernandez merupakan salah satu orang penting di kota ini, mereka memiliki sebuah beberapa hotel dan mall yang ada di Jakarta," jelas Farhan setelah mendapatkan informasi tentang keluarga Alvaro.
"Berarti lawan kita lumayan kuat?" tanya Raffa memastikan prediksi Farhan.
"Ya begitulah, kita harus hati-hati dan memiliki bukti-bukti yang lebih kuat dari mereka. Mereka akan melakukan apa saja agar kita kalah," ujar Farhan.
Bersambung...
__ADS_1