Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 272


__ADS_3

Lisa meluapkan rasa sedih yang sempat kembali datang menghampiri relung hatinya yang hampa.


“Kenapa kamu kembali hadir dalam hidupku setelah aku merasa siap untuk melupakanmu,” gumam Lisa di dalam hati menyesali takdir yang harus dijalaninya.


Lisa keluar dari toilet setelah dia membasuh mukanya serta merapikan penampilannya yang sempat berantakan.


Lisa melewati lorong menuju ballroom tempat acara yang sedang berlangsung, sebelum dia masuk ke dalam ballroom, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya.


“Lisa, bisakah aku bicara denganmu?” tanya Reza tiba-tiba mengagetkan Lisa.


“Maaf, aku,--“ Lisa bingung harus menjawab apa.


“Sebentar,” pinta Reza memohon.


“Maaf, aku tidak bisa.” Lisa menolak dengan tegas.


Di benak Lisa, dia tidak ingin kedapatan berdua dengan suami orang sementara itu dia memiliki kewajiban untuk menjaga harga dirinya sendiri.


“Berikan alasanmu, tidak mau memberi waktumu padaku,” pinta Reza mulai memaksa Lisa agar Lisa mau berbicara sejenak dengannya.


“Kamu sendiri pasti tahu alasannya tanpa aku menjawab pertanyaanmu. Kamu saat ini bukanlah Reza yang aku kenal dulu,” ujar Lisa masih berusaha untuk tidak berurusan dengan Reza.


“Apa bedanya Reza yang dulu kamu kenal dengan yang sekarang ada di hadapanmu ini.” Reza tak mau kalah untuk terus meminta Lisa agar mau berbicara sejenak walaupun itu untuk terakhir kalinya.


“Kamu tidak perlu bertanya padaku yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya,” ujar Lisa.


Lisa mulai muak berdebat dengan Reza yang terus memaksa dirinya untuk berbicara dengannya. Semakin lama berada di dekat membuat hatinya semakin terasa sakit. Dia hendak melangkah meninggalkan Reza.


“Lisa,” panggil Reza dengan nada yang lebih tinggi.


Seketika Lisa menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Reza, Lisa sudah tak sanggup lagi menahan air matanya.


“Sebelum kamu pergi, aku mohon izinkan aku meminta waktumu sejenak. Jika setelah itu kamu ingin aku pergi jauh dari hidupmu. Aku janji tidak akan pernah datang lagi dalam kehidupanmu,” ujar Reza memohon pada Lisa.


Lisa mengusap air matanya yang sudah sempat membasahi pipinya, dia membalikkan tubuhnya.


“Katakan,” lirih Lisa menguatkan diri.


“Ikutlah denganku,” lirih Reza meminta Lisa mengikuti langkahnya.


Reza melangkah ke sebuah taman yang terdapat di belakan hotel. Dia duduk di sbeuah kursi panjang yang menghadap pada tanaman yang tersusun dengan rapi.


Lisa ikut duduk di samping Reza, dia sengaja duduk berjarak dengan Reza.


Lima menit berlalu Reza masih diam, hingga akhirnya Lisa menoleh padanya.

__ADS_1


“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Lisa pada Reza.


Lisa semakin takut berlama-lama duduk berdua dengan suami orang.


“Bolehkah aku meminta penjelasan atas sikapmu yang tiba-tiba menjauhiku,” ujar Reza memohon.


“Hal itu tidak perlu diungkit lagi, toh dengan jawabanku tak akan mengubah kenyataan bahwa kamu sudah menjadi suami orang,” ujar Lisa tegas.


“Lisa aku mohon.” Reza menatap Lisa penuh harap.


Sorotan matanya masih memperlihatkan cinta yang mendalam di hatinya untuk Lisa. Lisa menghela napas panjang saat mendapatkan tatapan yang sama dari Reza seperti 4 tahun yang lalu.


“Aku tidak cukup berani menjalin hubungan dengan seseorang yang status sosialnya jauh di atas diriku yang hanya seorang anak petani,” jawab Lisa jujur.


“Terima kasih atas jawabanmu, jika saat ini aku ingin kita kembali seperti dulu. Apakah kamu masih memberi kesempatan untukku memperjuangkan dirimu?” tanya Reza pada Lisa.


“Apa maksudmu? Mana mungkin aku bisa menjadi istri keduamu, aku tidak ingin menyakiti hati wanita lain demi kebahagiaanku seorang diri,” tolak Lisa.


Lisa berdiri dari duduknya, dia tidak ingin lagi terlibat percakapan yang lebih dengan Reza karena taku akan kembali tenggelam dalam lautan cinta terlarang menurutnya.


“Maaf, teman-temanku sudah menungguku,” ujar Lisa.


Lisa melangkah meninggalkan Reza yang belum sempat memberitahukan pernikahannya yang sudah hancur.


Reza berusaha memanggil Lisa, tapi sayang langkah Lisa terlalu cepat sehingga kini Lisa sudah masuk ke dalam ballroom.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel Lisa berdering saat dia baru saja masuk ke dalam ballroom.


“Halo, Kak,” ujar Lisa setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.


“Lisa, aku sudah menemukan calon yang baik buat kamu. Dia memiliki agama yang kuat, dia pria yang sholeh. Menurutku dia sangat cocok denganmu,” ujar seseorang di seberang sana.


“Benarkah?” lirih Lisa kaget.


“Sekarang tinggal keputusanmu saja,” ujar rekan kerja Lisa di seberang sana.


Lisa terdiam sejenak, dia teringat dengan ucapan Reza tadi.


“Mungkin lebih baik aku menikah secepatnya agar Reza tak lagi hadir dalam hidupku,” gumam Lisa di dalam hati.


“Baiklah, Kak. Aku setuju, aku yakin kakak tidak akan salah pilih dalam mencari pendamping hidupku,” ujar Lisa setuju.


“Tapi, ada satu hal yang harus kamu ketahui,” ujar rekan kerja Lisa tersebut.

__ADS_1


“Apa?” tanya Lisa.


“Pria yang akan dijodohkan denganmu merupakan seorang pria yang lumpuh. APakah kamu siap menerima kekurangan pria ini?” tanya rekan kerja Lisa.


“Bismillah, aku menerimanya, Kak.” Lisa menjawab dengan mantap.


Kali ini Lisa tidak boleh memilih lagi, dia harus membuka hatinya untuk pria yang sudah dicarikan oleh rekan kerjanya tersebut.


“Kalau memang iya, dia mau menikah secepatnya kalau bisa dalam bulan ini juga,” ujar rekan kerja Lisa tersebut.


“Iya, Kak. Aku setuju, tapi aku minta pada kakak agar dia yang langsung ke rumah kedua orang tuaku di Yogyakarta,” pinta Lisa pada sang rekan kerja.


Entah mengapa Lisa tiba-tiba mantap menerima pria yang diberitahukan oleh rekan kerjanya itu.


“Reza, maafkan aku. Mungkin dengan ini aku akan bisa melupakanmu,” lirih Lisa lalu dia menutup panggilan telpon dari rekan kerjanya tersebut.


Setelah selesai menerima telpon Lisa langsung bergabung denga Kayla dan Raffa serta Agung dan Dian yang lagi asyik bermain dengan 3R.


“Lisa, kamu dari mana?” tanya Kayla saat Lisa baru saja menghampiri mereka.


“Mhm, tadi ke toilet,” jawab Lisa.


“Kamu sudah makan?” tanya Dian.


“Mhm,” gumam Lisa bingung.


“Ya udah, kita ambil makan yuk!” ajak Dian.


Dian pun berdiri lalu menarik tangan Lisa dan mengaja Lisa mengambil makanan untuk mereka, dengan bantuan seorang pelayan mereka dapat membawa makanan yang bisa dimakan oleh Kayla dan yang lainnya.


“Gue boleh gabung di sini?” tanya Reza yang tiba-tiba datang dan ikut bergabung dnegan mereka.


“Boleh, dong,” jawab Raffa tersenyum.


Reza memilih duduk tepat di samping Lisa, mereka pun tersenyum melihat Lisa yang hanya diam canggung berada di samping Reza.


Dian memanggil pelayan dan meminta tolong untuk membawakan makanan untuk Reza. Tak berapa lama makanan untuk Reza sudah terhidang, lalu mereka pun menyantap makanan tersebut.


“Mhm, lalu rencanamu setelah ini apa, Za?” tanya Agung pada Reza setelah mereka menyelesaikan kegiatan makannya.


“Belum tahu, Gung. Yang jelas aku mau fokus aja dengan pekerjaan saat ini. Jika nanti Allah memberi takdir jodoh yang lebih baik dari Gisella mungkin aku akan mempertimbangkannya,” jawab Reza terus terang.


Reza melirik ke arah Lisa yang duduk di sampingnya.


Lisa menautkan kedua alisnya, dia berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Reza.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2