Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 263


__ADS_3

Alita menatap dalam wajah sang suami. Terlihat jelas pancaran cinta yang tulus di mata pria tampan yang kini selalu ada untuknya.


"Makanlah, aku akan bersiap-siap untuk berangkat ke kafe. Kamu tidak usah kuliah dulu kalau masih sakit," ujar Raymond.


Raymond mengalihkan pembicaraan, dia memilih untuk menghindar sejenak memberi ruang pada istrinya untuk berpikir dan menata hatinya yang baru saja kecewa atas kebohongan yang sudah dilakukannya.


Raymond berdiri dan hendak pergi, tapi Alita langsung meraih tangan kekar suaminya menghentikan langkah Raymond yang hendak keluar dari kamar itu.


"Apakah kamu tidak mau menyuapiku?" pinta Alita dengan manja.


Alita berusaha menghilangkan rasa kecewanya, dia menyadari apa yang sudah terjadi pada dirinya saat ini adalah takdir Tuhan yang harus dijalaninya.


Raymond pun tak berbeda jauh dari Raffa yang tampan dan baik hati. Terlebih hati Raymond sudah tercurah untuknya.


Alita berusaha menerima takdirnya, dan menjalani semuanya dengan ikhlas.


Dia tidak ingin rumah tangga yang baru saja mereka mulai rusak karena rasa kecewanya.


Bahkan dia sehat bersyukur dengan apa yang sudah terjadi sehingga dia menyadari perbuatannya yang sudah melukai sang kakak.


Raymond membalikkan tubuhnya lalu mengambil kembali piring yang berisi nasi goreng yang dimasaknya dengan rasa penuh cinta, lalu mulai menyuapi sang istri.


"Terima kasih, kamu sudah mau bertahan memperjuangkan aku hingga aku kini jatuh cinta padamu," lirih Alita setelah menghabiskan sarapannya.


Raymond tersenyum.


"Apa pun akan aku lakukan hanya untuk mu," lirih Raymond.


"Gombal," lirih Alita tersipu mendapatkan sorotan mata penuh cinta dari sang suami.


Raymond meletakkan piring yang ada di tangannya di atas nakas, lalu mendorong tubuh istrinya hinga mereka terbaring di atas tempat tidur.


Pria tampan itu menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Kamu mau lagi?" tanya Raymond menggoda.


"Apaan, sih?" lirih Alita semakin malu.


Raymond memberikan kecupan lembut di puncak kepala sang istri.


Setelah itu, Alita memberanikan diri menc**m bibir sang suami. Tingkah nakal Alita membuat Raymond hilang kendali, dan akhirnya mereka pun kembali dibalut kehangatan meluapkan rasa yang ada di dalam hati mereka.


****


"Za, papa mau bicara," ujar Pak Sultan setelah mereka selesai sarapan.


Reza yang ingin melangkah meninggalkan meja makan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Mhm, ada apa, Pa?" tanya Reza pada Papanya.


"Papa dan mama perhatikan umur kamu sudah cukup matang untuk menikah, apakah kamu tidak ada rencana untuk berumah tangga?" tanya Sultan terus terang pada putranya.


"Iya, Za. Mama pengen liat kamu menikah, dan punya cucu dari kamu," ujar Maryam pada putra bungsunya.


Reza terdiam sejenak, bagaimana dia bisa mengungkapkan rencananya ingin menikahi gadis yang dicintainya sementara itu sang gadis tengah menghindarinya.


"Bagaimana, Nak. Kamu sudah cukup umur untuk menikah. kamu juga sudah mapan dalam segi ekonomi," ujar Sultan memberi pendapatnya.


"Teman mama ada yang punya anak gadis yang sudah siap buat menikah, apa kamu mau berkenalan terlebih dahulu dengan gadis itu?" tanya Maryam.


Sultan dan Maryam sudah sepakat untuk menjodohkan putranya dengan putri dari teman mereka.


"Ma, Pa. Aku belum memikirkan hal itu," ujar Reza berusaha menolak perjodohan yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa, Nak? Toh umur kamu sudah 30 tahun," ujar Maryam berusaha membujuk putranya.


"Aku masih ingin menikmati kesendirianku," gumam Reza pelan yang masih dapat didengar oleh kedua orang tuanya.


"Reza, apa salahnya berkenalan saja, kalau nantinya kamu mang merasa tidak cocok. Kami juga tidak akan memaksa," ujar Maryam terus berusaha untuk membujuk putranya.


"Terserah mama dan papa saja," ujar Reza mengalah.


Dia yakin kedua orang tuanya akan terus memaksanya untuk setuju dengan usulan mereka yang ingin menjodohkan dirinya dengan putri dari teman mereka.


Dia melirik sang suami yang tersenyum puas.


"Aku sudah bisa pergi?" tanya Reza izin keluar dari ruang makan.


Sultan dan Maryam mengangguk membiarkan Reza kini mulai melangkah keluar dari ruang makan.


Reza melangkah menuju taman yang ada di depan rumahnya, taman yang menghadap pada pemandangan indah lautan Pesisir Selatan.


Reza mulai memandang jauh ke depan, dia menatap kosong keindahan alam yang terhampar di depan matanya.


Rasa sedih dan kecewanya yang belum hilang disebabkan oleh sikap Lisa yang tidak dipahaminya kini pikirannya ditambah pusing dengan permintaan kedua orang tuanya yang ingin melihat dirinya segera menikah.


"Lisa, apa salahku sehingga kamu berbuat seperti ini terhadapku?" lirih Reza dengan nada penuh kekecewaan.


"Tuhan apakah ini takdir yang harus aku jalani, Apakah aku tidak akan bisa bersatu dengan Lisa?" gumam Reza bermonolog seorang diri.


"Mama senang Reza setuju dengan rencana kita untuk menjodohkannya dengan gadis pilihan kita," ujar Maryam setelah Reza tak lagi berada di ruang makan.


"Alhamdulillah Ma semoga perjodohan ini berjalan dengan lancar," ujar Sultan menanggapi ucapan sang istri.


"Mama sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu," ujar Maryam bersemangat.

__ADS_1


"Iya, kita tunggu saja hari esok semoga mereka cocok dan kita langsung membahas acara pernikahannya," ujar Sultan.


"Aamiin," sahut Maryam.


Hari ini Reza memilih untuk berdiam di rumah, dia enggan untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukannya.


Hatinya yang kacau membuat hari-harinya terasa hampa dan tidak bersemangat untuk melakukan apapun.


Sejak selesai berbicara dengan kedua orang tuanya setelah sarapan tadi pagi, Reza semakin pusing memikirkan jalan hidupnya yang akan dijalani nantinya.


Wajah gadis yang sangat dicintainya terus membayang-bayangi dirinya. Namun, sikap Lisa membuat dirinya sangat kecewa sehingga dia tidak bersemangat untuk memperjuangkan cintanya terhadap gadis itu.


Keesokan harinya, Reza masih mengurung di kamar.


Maryam melangkah menuju kamar putranya.


"Reza," panggil Maryam setelah mengetuk pintu kamar sang putra.


Reza yang sedang asyik menghilangkan rasa kecewa dengan bermain game di ponselnya menoleh ke arah pintu.


Dengan langkah gontai Reza bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu kamarnya.


"Za, kita jadi berangkat ke Padang, kan?" tanya Maryam khawatir melihat putranya belum juga bersiap-siap.


"Iya, Ma," jawab Reza malas.


"Lalu kenapa kamu belum bersiap-siap?" tanya Maryam kesal.


"Memangnya mau berangkat sekarang, Ma? Aku akan berangkat dengan pakaian seperti ini saja," ujar Reza.


"Ya ampun Reza masa pakai baju ini aja? Kamu harus tampil rapi dong supaya putri teman mama terpikat sama kamu," ujar Maryam protes.


"Mama tenang aja kalau udah siap panggil aku," ujar Reza terlihat kesal.


"Ya udah kalau gitu kamu sarapan dulu, Mama dan Papa juga sudah siap, kok," ujar Maryam pada putranya.


"Iya," lirih Reza.


Akhirnya Reza keluar dari kamar lalu melangkah menuju ruang makan, sebenarnya dia tidak berselera untuk sarapan tapi demi menghormati perintah sang Mama dia mengganjal perutnya dengan dua potong roti.


Reza dan kedua orang tuanya berangkat menuju kota Padang.


Mereka sudah berjanji akan bertemu di mall pada pukul 11.00.


Reza dan kedua orang tuanya sampai di kota Padang pada pukul 10.00 pagi.


Sambil menunggu kedatangan teman Maryam dan putrinya, Maryam dan Sultan berkeliling-keliling mall sementara itu Reza memilih untuk menikmati secangkir kopi di sebuah foodcourt.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2