
Raffa kaget saat merasakan tangan seseorang melingkar di tubuhnya.
Perlahan tapi pasti Raffa melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya.
Dia menatap sang istri yang shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Namun, terlihat wanita di hadapannya menahan segala emosi yang bergejolak di hatinya.
Raffa membalikkan tubuhnya, dia menatap tajam ke arah Zahra.
"Apa yang kau lakukan, Zahra?" ujar Raffa dengan nada tegas.
Dia tidak suka dengan sikap lancang yang dilakukan wanita tersebut.
Selama ini Raffa memang mengikuti semua kehendak Zahra, tapi kali ini dia tidak akan mengingkari janjinya pada Kayla istrinya.
"Aku merindukanmu," lirih Zahra manja tak tahu malu.
"Kau tidak ada hak untuk merindukanku, karena aku bukan siapa-siapa bagimu," ujar Raffa penuh penekanan agar gadis itu sadar dengan perlakuan yang tidak pantas dilakukannya terhadap Raffa yang bukan muhrimnya.
"Lalu kamu menganggap apa kedekatan kita selama ini?" tanya Zahra.
Matanya mulai berkaca-kaca menatap marah ke arah Kayla yang hanya berdiri diam di belakang Raffa.
"Aku hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih dari itu," jawab Raffa tegas.
"Lalu, apa hubunganmu dengan wanita ****** tak tahu diri ini. Pakaiannya sopan tapi aslinya murahan," ketus Zahra menunjuk ke arah Kayla.
Raffa semakin marah dengan sikap Zahra yang sudah melewati batas.
"Jaga ucapanmu, Zahra." Raffa menahan emosinya yang sudah memuncak.
"Kau memeluknya, bahkan mencium keningnya. Wanita apa kalau bukan murahan," ejek Zahra lagi tak suka.
Zahra tidak mengetahui hubungan Raffa dan Kayla yang sesungguhnya, mungkin dia tak pernah mendengar rumor yang beredar tentang hubungan yang terjalin antara Raffa dan Zahra.
"Diam!" bentak Raffa.
"Jangan sekali-sekali kamu memaki wanita ini, dia lebih baik darimu. Bercerminlah! dan pikirkanlah siapa yang wanita murahan memeluk suami wanita lain di hadapan istrinya," ujar Raffa lagi tegas.
Raffa mendekati Kayla, dia meraih tangan Kayla yang kini terasa begitu dingin.
Lalu Raffa merangkul pundak Kayla.
"Lihatlah! Wanita yang berada di sampingku saat ini adalah istriku!" tegas Raffa.
Kayla menoleh ke arah suaminya, dia menatap dalam kesungguhan sang suami.
"Tidak mungkin, mana ada mahasiswa menikahi mahasiswi yang masih kuliah, pernikahan macam apa ini?" ledek Zahra tak percaya.
Dia menyangkal pernikahan yang telah terjadi antara Raffa karena dia sangat berambisi untuk mendapatkan hati Raffa.
"Terserah apa pun pendapatmu, sekarang pergilah dari hadapan kami," usir Raffa.
Raffa sudah kehilangan kesabaran menghadapi Zahra yang semakin tidak tahu malu.
"Baiklah, aku akan pergi, tapi katakan kalau semua yang kamu ucapkan adalah kebohongan," pinta Zahra memelas.
"Semua yang aku katakan adalah sebuah kebenaran," balas Raffa.
"Tidak, aku tidak percaya," bantah Zahra.
Raffa muak dengan sikap Zahra, dia menoleh ke arah Kayla.
"Sayang, masuklah! Sudah terlalu malam, aku akan kembali ke asramaku," lirih Raffa meminta Kayla untuk masuk.
Cara satu-satunya untuk menghadapi Zahra adalah mengabaikannya.
Kayla mengangguk, lalu dia meraih tangan sang suami, menyalami dan menciumi punggung tangan sang suami.
__ADS_1
Kayla sengaja melakukan itu, untuk membuktikan pada Zahra bahwa dia adalah istri Raffa sesungguhnya.
Raffa pun mengecup lembut puncak kepala sang istri sebagai bukti dia menepati janjinya atas kesalahannya selama ini pada istrinya.
Setelah itu Kayla melangkah masuk ke dalam asrama, Raffa memandangi punggung Kayla hingga menghilang di balik pintu asrama.
Raffa masuk ke dalam mobil setelah memastikan Kayla masuk ke dalam asramanya. Dia mengabaikan keberadaan Zahra yang diam mematung tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Dia merasa sakit hati dengan sikap Raffa pada Kayla. Selama ini dia hanya mengetahui wanita itu telah menarik perhatian Raffa.
"Raffa!" teriak Zahra saat sadar mobil yang ditumpangi Raffa sudah berlalu meninggalkan asrama Kayla.
"Lihatlah, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia! Aku akan merebut Raffa darimu!" gumam Zahra penuh kebencian terhadap Kayla.
****
"Pa, nanti sore kita ke rumah Hurry, yuk!" ajak Arumi pada sang suami.
Arumi membuka pembicaraan setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi di meja makan.
"Ya udah, nanti kamu susul aku ke kantor saja, ya," ujar Surya menanggapi ucapan sang istri.
"Ya udah, nanti aku berangkat sama Pak Ujang. Sekalian ke salon," ujar Arumi tersenyum.
"Iya, Deh. Oh iya, kamu jangan lupa pastikan Hurry ada di rumahnya." Surya mengingatkan.
Surya tahu, Hurry yang sibuk dengan butiknya, dia takut saat mereka datang ke rumah Hurry tidak bertemu dengannya.
"Siap, nanti aku chat dia," ujar Arumi.
"Ya sudah, aku berangkat dulu, ya!" ujar Surya pamit pada istrinya untuk berangkat bekerja.
Arumi mengangguk lalu mereka pun melangkah menuju teras, Arumi mengantarkan sang suami hingga teras rumah.
"Aku berangkat ya, Sayang," ucap Surya sambil menciumi puncak kepala istrinya.
Arumi mengangguk, dia melambaikan tangannya pada suami yang sudah melangkah menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya.
π Hai, Hur.
π Apa Kabar?
Arumi mengirimi pesan singkat lewat aplikasi hijau kepada Hurry, sahabatnya.
π Hai, Rum.
π Aku baik, ada apa?
Ponsel Arumi bergetar tanda pesan masuk.
Dia bergegas membuka pesan dari sahabatnya.
π Hur, hari ini sibuk?
^^^π Tidak terlalu sibuk, cuma mengecek stock barang di butik.^^^
^^^π Ada apa, Rum?^^^
π Sore nanti ada acara?
^^^π Kayaknya kosong.^^^
^^^π Ada apa, sih?^^^
^^^π Aku jadi penasaran.^^^
π Hehe
__ADS_1
π Aku mau main ke rumahmu, boleh?
^^^π Boleh, aku kira ada apa gitu.^^^
^^^π He^^^
π Nanti sore aku datang.
π Tungguin, ya.
^^^π Oke^^^
Sore hari, Arumi langsung menuju kantor Surya setelah dia menyelesaikan segala ritual persalonan yang rutin sekali seminggu dilakukannya.
Di kantor, Surya sudah menunggu Arumi di lobi agar Arumi tak perlu masuk ke ruangannya.
Surya melangkah menghampiri mobil yang ditumpangi sang istri saat telah berada tepat di depan perusahaannya.
Mereka pun berangkat menuju kediaman keluarga Hendra yang terletak di kawasan Belimbing permai.
Arumi dan Surya memang pernah mengunjungi kediaman sahabatnya beberapa kali karena Hendra dan Surya pernah menjalin kerja sama.
"Assalamu'alaikum," ucap Arumi saat mereka sudah berada di teras rumah besar dengan desain minimalis membuat kesan sederhana dan asri.
"Wa'alaikummussalam," jawab Hurry dari dalam rumah.
Dia bergegas keluar menyambut kedatangan sahabatnya.
"Silakan masuk!" ujar Hurry mempersilakan Arumi dan Surya memasuki rumahnya.
"Yah, Ada Pak Surya!" teriak Hurry memanggil sang suami.
Tak berapa lama Hendra keluar dan ikut bergabung dengan istri dan temannya yang sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Pak Surya, apa kabar?" sapa Hendra basa-basi.
"Baik, Pak Hendra bagaimana kabarnya? Bisnisnya lancar?" tanya Surya.
"Alhamdulillah," jawab Hendra.
Beberapa saat mereka saling berbasa-basi, seorang pelayan datang membawakan minuman dan cemilan untuk tamu majikannya.
"Silakan!" ujar Hurry mempersilakan tamunya mencicipi jamuan yang disediakan pelayannya.
"Pak Hendra, mungkin langsung saja. Tujuan kedatangan kami ingin mempertanyakan sesuatu tentang Kayla menantu kami," ujar Surya memulai pembicaraan pentingnya.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ