Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 123


__ADS_3

Rayna mengalihkan pandangannya ke arah tunjuk sang suami. Dia melihat sebuah meja dan dua kursi yang disediakan untuk sepasang kekasih. Di sekitar meja terdapat hiasan karangan bunga yang indah.


“Berhubung waktunya masih sore, kita makan sore aja, ya.” Satya melebarkan senyumannya.


Rayna melihat ekspresi sang suami, dia merasa tersanjung. Rayna pun memeluk sang suami.


“Terima kasih, Sayang,” lirih Rayna.


“Yuk,” ajak Satya.


Satya pun membawa Rayna ke tempat yang sudah disediakan temannya. Dalam perjalanan tadi, Satya menghubung temannya yang memiliki kafe di daerah pantai ini dan meminta mereka menyediakan tempat khusus untuk dirinya dan sang istri.


”Aku belum bisamenyediakan makan malam yang romantic, jadi anggap saja ini maka sore yang romantis untuk kita,” ujar Raffatersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ini saja sudah cukup untukku, Mas. Kamu memang pria yang so sweet,” puji Rayna.


Satya memang memiliki jiwa lebih romantis daripada Raffa, dia juga memiliki berbagai keahlian yang lebih dari Raffa. Untuk itu Surya memintanya tetap berada di samping Raffa, agar Raffa bisa banyak belajar dari Satya.


"Silakan duduk, Bidadariku," lirih Satya melayangkan rayuan mautnya.


Satya membukakan kursi untuk sang istri.


Wajah Rayna berubah merah tersipu malu mendengar ucapan sang suami.


Dia tak menyangka suaminya benar-benar romantis, padahal ketika mereka baru saja kenal Satya selalu bersikap dingin dan cuek pada dirinya.


"Silakan makan, aku sengaja memerankan menu spesial kafe ini, karena kafe ini milik temanku," jelas Satya.


Mata Rayna berbinar melihat menu lezat dihadapannya. Dia sudah tak sabar ingin menyantap hidangan yang disajikan di atas meja.


Satya memotongkan daging ikan salmon, lalu dia pun menyendokkan sesuap nasi ke mulut sang istri.


Rayna membuka mulutnya dan mencicipi suapan yang diberikan oleh Satya.


"Terima kasih, Mas." Rayna mengembangkan senyumannya.


"Kamu suka?" tanya Satya.


Rayna mengangguk.


Mereka pun melanjutkan menyantap hidangan tersebut dengan lahapnya.


"Mas," lirih Rayna setelah hidangan yang ada di atas meja habis tak bersisa.


"Mhm," gumam Satya menatap intens pada sang istri.


"Sebenarnya aku merasa keberatan dengan keputusan Mas Satya membiarkan Ibu berangkat ke Padang," tutur Rayna mengungkap rasa yang terpendam di hatinya sejak kemarin pagi.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi ini demi kebaikan kalian. Jika kita tetap memaksa Ibu tinggal di Bandung itu artinya kita membiarkan ibu tenggelam dalam kesedihannya. Ibu pasti senang berada di Padang karena keluarganya masih banyak di sana, aku tidak akan melepaskan tanggung jawabku terhadap ibu. Kita akan mengirimkan beliau uang untuk kebutuhannya selama berada di sana," ujar Satya menjelaskan alasannya.


"Lagipula sebentar lagi kamu harus masuk kuliah setelah, walaupun kamu sudah ketinggalan sekitar satu bulan aku akan usahakan kamu bisa masuk di Universitas Al-azhar tahun ini," tambah Satya.


"Jadi kamu mau berpisah denganku? Bagaimana aku bisa menjalani hari-hari tanpa kamu, Mas?" Rayna khawatir harus berpisah dengan suaminya.


"Aku takut, jika ada orang berbuat jahat padaku," ujar Rayna mengungkapkan rasa takutnya.


"Kamu tenang saja, ya. Di sana ada Raffa dan Kayla yang akan menjaga kamu, aku juga akan menyediakan bodyguard untuk kamu 24 jam, aku takkan membiarkan kamu disakiti oleh siapapun." Satya mulai membujuk istrinya.


"Mhm," gumam Rayna masih ragu.


"Sayang, perusahaan Brama saat ini sedang terguncang dengan kepergian ayah. Aku harus fokus menyelesaikan berbagai masalah di perusahaan Brama. Saat ini aku belum bisa mempercayai siapapun di perusahaan karena aku takut salah orang dan akan berakibat buruk pada perusahaan yang sudah lama dirintis oleh ayah," jelas Satya lagi.


Satya berharap istrinya mengerti dengan situasi yang harus dijalani Satya saat ini.


Selama ini Satya memang santai memantau bisnis onlinenya yang berkecimpung di bidang aplikasi dan perangkat lunak, karena semua itu hanya dilakukannya di depan laptop.


Bisnis kuliner yang dijalaninya bersama Raffa memiliki kepala cabang di setiap kafe, jadi dia tidak perlu terlalu pusing memikirkan berbagai hal tentang kafe.


Sekarang dengan adanya tanggung jawab terhadap Brama Corp, Satya harus bekerja lebih keras untuk menghandle semua bisnisnya agar tidak ada yang harus ditinggalkannya.


"Aku harap kamu mengerti dengan posisiku saat ini,suntuk sementara kita berpisah untuk masa depan kita juga nantinya." Satya terus berusaha meyakinkan istri belianya itu agar tidak ragu lagi dalam melangkah ke depannya.


Akhirnya Rayna mengangguk paham dengan apa yang di maksud oleh sang suami, walaupun berat berpisah dengan pria yang dicintainya, dia berharap dengan adanya Kayla dan Raffa semua ketakutannya akan sirna.


Sepanjang perjalanan Rayna tertidur dengan lelapnya. Sesampai di rumah Satya tidak tega membangunkan istri kecilnya, akhirnya Satya mengangkat tubuh mungil sang istri menuju kamar.


Di kamar, Satya membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur, dia membuka hijab Rayna agar sang istri tidak merasa kepanasan.


Setelah itu Satya pun mengecup puncak kepala sang istri sebagai ucapan selamat malam pada sang istri.


Satya hendak bangun dari posisinya tapi tiba-tiba,


"Mas, aku takut jauh-jauh dari kamu," lirih Rayna menarik lengan kekarnya.


Seketika Satya menghentikan gerakannya, dia menoleh ke arah sang istri yang masih memejamkan matanya.


"Aku takut kangen sama kamu," oceh Rayna lagi membuat Satya tersenyum.


Satya menatap dalam pada wajah polos istrinya, dia mengagumi kecantikan sang istri


Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung serta bibir mungil yang selalu menggoda baginya.


Tatapan Satya kini tertuju pada bibir mungil yang berwarna pink menggoda jiwanya.


Satya pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri hingga kini jarak bibir mereka hanya satu cm.

__ADS_1


Satya mulai membungkam bibir mungil menggoda itu, dia menci*um bibir sang istri yang terasa bagaikan Cherry yang manis.


Tanpa disadarinya hasrat jiwanya yang selama ini terpendam kini mulai menggelora.


Setelah beberapa bulan Satya sah menjadi suami Rayna ini pertama kali dia mulai menyentuh bibir sang istri dengan hasrat menggebu.


Pergerakan bibir Satya membuat Rayna terbangun dari tidurnya. Rayna pun membuka matanya perlahan karena merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.


"Mmm-Mas," lirih Rayna merasa susah untuk bernapas.


Rayna mengumpulkan nyawanya yang masih belum menyatu di tubuhnya, lalu dia mendorong Satya hingga Satya pun melepaskan ci*umannya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Satya dengan tatapan penuh naf*u.


"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Rayna takut


"'Aku ingin melakukan apa yang pernah kita lakukan tanpa sadar, sekarang kita akan melakukannya dengan kesadaran penuh dan dalam sebuah ikatan suci yang sah," jawab Satya.


Wajah Rayna memerah menahan malu, dia mengerti apa yang dimaksud oleh sang suami.


Satya pun memulai aksinya, dan Rayna menerima sentuhan dari sang suami dengan senang hati, hingga akhirnya mereka pun kembali menyatukan rasa cinta yang sudah tumbuh di dalam hati dan jiwa mereka.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏


__ADS_2