
“Ada apa?” tanya Alita membalikkan tubuhnya.
Dia menatap heran pada mantan bosnya itu.
“Seperti inikah kau memperlakukan orang sudah berbuat baik padamu?” tanya Raymond menyindir Alita.
“Lalu? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Alita cuek.
“Hei, paling tidak kamu menawarkanku untuk masuk dan beristirahat sejenak,” ujar Raymond.
“Maaf, Pak. Saya tidak mau ada gosip yang aneh-aneh di antara kita,” bantah Alita.
Alita malas menanggapi Raymond, dia merasa mantan bosnya itu menyukai dirinya.
“Kalau begitu, ikutlah denganku sekadar minum kopi?” tawar Raymond.
“Ma-“ Belum sempat Alita menolak, Raymond menarik tangan Alita.
“Ikutlah denganku sejenak,” pinta Raymond.
Akhirnya, Alita terpaksa ikut dengan Raymond menggunakan sepeda motor milik Raymond.
Raymond membawa Alita ke sebuah kafe yang tak jauh dari kost Alita.
“Alita, aku tahu semua yang terjadi di antara kamu, Raffa dan Kayla,” ujar Raymond saat mereka sudah duduk di dalam kafe dan sedang menunggu pesanan mereka datang.
“Apa maksudmu?” tanya Alia pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Raymond.
“Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura lagi, aku tahu apa pun yang sudah kamu lakukan terhadap rumah tangga kakakmu sendiri,” jelas Raymond.
“Aku sebagai teman Raffa, hanya ingi menasehatimu untuk melupakan cintamu pada Raffa,” nasehat Raymond terus terang.
“Jadi ini tujuan kamu mengajakku datang ke sini?” bentak Alita tidak suka dengan cara Raymond yang ikut campur dengan urusan pribadinya.
“Tenanglah, aku hanya ingin memberikan saran dan nasehat padamu. Masih banyak pria lain yang lebih tampan dan lebih baik dari Raffa untukmu. Jangan menyakiti kakak kandungmu,” ujar Raymond lagi.
“Aku menyesal ikut denganmu,” ujar Alita kesal.
Dia berdiri dan bersiap melangkah hendak meninggalkan Raymond. Namun, Raymond menarik tangan Alita.
“Tenanglah, aku hanya ingin kamu tidak mengganggu hubungan rumah tangga kakak kandungmu sendiri,” ujar Raymond lagi menahan Alita.
“Aku ingatkan padamu, jangan ikut campur urusanku!” bentak Alita.
__ADS_1
Dia menghempaskan tangan Raymond yang masih memegang tangannya. Alita melangkah keluar dari kafe meninggalkan Raymond.
Raymond hanya bisa menghela napas panjang, dia tak menyangka Alita sangat keras kepala, padahal selama dia bekerja di kafe bersamanya. Alita terlihat ramah dan santun, jauh berbeda yang ditemuinya saat ini.
Raymond memang sudah lama tertarik pada Alita, semenjak gadis itu bekerja di kafenya. Perhatian yang diberikan Raffa padanya dengan memberi bonus-bonus pada gadis itu membuat Raymond ingin mengetahui lebih apa yang tentang sosok Alita.
Dia tak menyangka Alita menyukai Raffa, dan dia juga kaget saat mengetahui bahwa istri Raffa merupakan kakak kandung gadis itu. Raymond tidak suka saat mendengar penuturan Alita, bahwa dia tidak mau menerima hubungan darah yang terjadi di antara mereka dengan alasan dia membenci Kayla yang telah merebut Raffa darinya.
“Alita, aku akan membuatmu melupakan Raffa,” lirih Raymond setelah Alita tak terlihat lagi di kafe itu.
****
Setelah selesai makan malam di rumah, Raffa dan Kayla memilih langsung masuk ke dalam kamar. Mereka ingin lekas beristirahat agar besok bisa beraktifitas dengan fit.
Sebelum sepasang suami istri itu bersiap untuk tidur, terlebih dahulu mereka melaksanakan shalat isya berjama’ah.
“Bang, ada yang mau aku bicarakan,” ujar Kayla saat dia tengah merapikan mukena dan sajadah yang baru saja mereka pakai.
“Bicara apa, Sayang,” lirih Raffa mendekati sang istri lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Pria tampan itu mengelus lembut perut istrinya yang semakin membesar, Kayla meletakkan tangannya di atas tangan suaminya. Dia menuntun suaminya meraba posisi perutnya yang mulai bergerak.
“Hei, anak ayah!” seru Raffa bahagia saat merasakan gerakan lembut calon bayinya.
Kayla membalikkan tubuhnya, hingga kini mereka saling berhadapan. Raffa menatap penuh kasih sayang pada wajah anggun milik istrinya, sedangkan Kayla menatap sang suami dengan berpikir bagaiman cara menyampaikan sesuatu yang akan dibicarakannya.
“Kamu mau ngomong apa, Sayang?” tanya Raffa pada sang istri sambil mengecup puncak kepala Kayla dengan penuh kasih sayang.
Kayla mencoba menari napasnya agar perkataannya nanti dapat diterima oleh Raffa.
“Bang, a-aku merasa kasihan dengan Alita yang tinggal di kost. Sementara itu dia memiliki aku sebagai kakaknya.” Kayla menjeda ucapannya.
Raffa masih diam, dia berusaha mencerna apa yang diinginkan oleh istrinya.
“Bagaimana kalau kita bawa Alita tinggal di sini juga?” usul Kayla dengan ragu.
Kayla takut suaminya akan menolak permintaannya, dan hal itu akan membuatnya bingung menyampaikan penolakan itu pada Alita.
Alita pasti berpikiran Kayla lebih menyayangi Rayna dari pada dirinya yang merupakan adik kandungnya.
Raffa masih diam, dia melepaskan tangannya yang tadi masih melingkar di pinggang sang istri. Raffa melangkah menuju tempat tidur, dia membaringkan tubuhnya tanpa memberi jawaban ada Kayla.
Kayla yang masih menunggu jawaban dari sang suami merasa esal dengan sikap Raffa, Kayla pun melangkah menuju tempat tidur. Dia duduk di samping Raffa yang tengah memejamkan matanya, Kayla tahu saat ini suaminya belum tidur.
__ADS_1
“Bang, bagaimana? Jawab dong!” rengek Kayla sambil mengguncangkan tubuh sang suami.
“Saat ini aku belum bisa menjawab permintaanmu,” ujar Raffa masih dalam posisi memejamkan matanya.
“Kenapa, Bang? Apa susahnya sih untuk jawab iya?” ujar Kayla kesal.
Raffa membuka matanya saat mendengar ucapan Kayla, dia menatap kesal pada istrinya.
“Sayang, aku harus memikirkannya terlebih dahulu. Aku tidak bisa langsung mengiyakan permintaanmu,” ujar Raffa tegas.
Sebenarnya Raffa sangat menolak permintaan Kayla, tapi dia tidak bisa langsung menolak permintaan sang istri, dia harus memikirkan jawaban yang tepat untuk disampaikan pada istrinya.
Kayla kecewa dengan perkataan Raffa, Kayla sudah yakin suaminya pasti menolak permintaannya.
“Alita itu adik kandungku, Bang. Bagaimana perasaannya melihat Rayna yang tinggal bersama kita, sedangkan dia tinggal seorang diri tanpa keluarga, sementara itu kita juga berada di kota yang sama dengannya.” Kayla terus menyampaikan alasan-alasan agar Raffa mau menerima Alita tinggal di rumah mereka.
“Permasalahannya tidak semudah yang kamu bayangkan, sudahlah lebih kamu istirahat dulu. Besok ita bahas masalah ini,’ ujar Raffa.
Raffa pun menarik selimut lalu memejamkan matanya.
“Kamu nyebelin,” celetuk Kayla.
Kayla pun ikut membaringkan tubuhnya bersiap untuk tidur, dia membelakangi sang suami karena kesal. Raffa membuka matanya saat melihat sang istri yang tengah merajuk.
Raffa memiringkan tubuhnya menghadap ke arah sang istri, lalu Raffa menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
“Setiap masalah harus kita pikirkan dengan kepala dingin tidak hanya dengan egois dan perasaan saja,” bisik Raffa.
Kayla hanya diam lalu mereka pun tertidur dengan lelap.
Keesokkan harinya, di saat sarapan pagi di ruang makan. Semua orang sudah siap untuk menyantap hidangan yang telah tersedia di meja makan, di rumah itu Fitri selalu memasak untuk mereka, sedangkan untuk membersihkan rumah mereka lakukan secara bersama-sama.
“Bagaimana, Bang?” tanya Kayla kembali membahas permintaannya tadi malam.
Satya dan Rayna menautkan kedua alisnya penasaran dengan apa yang dibahas oleh kakaknya dan kakak iparnya.
Raffa masih diam.
“Bagaimana apanya, Kak?” tanya Rayna penasaran.
“Kayla memintaku untuk mengizinkan Alita tinggal di rumah ini,” jawab Raffa.
“Apa?” sahut Rayna, Satya dan Fitri bersamaan.
__ADS_1