Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 199


__ADS_3

Sesuai keputusan yang sudah diambil Hendra dan Hurry untuk menikahkan Raymond dan Alita setelah mereka di Padang, kini Hendra dan Hurry sudah berada di rumah Rahman, adik Hurry yang selama ini membesarkan Alita.


"Bagaimana, Rahman? Kamu setuju dengan keputusan kami?" tanya Hendra pada Rahman.


Hurry tahu, adiknya itu sangat menyayangi keponakannya Alita. Jadi Hurry tidak mungkin bertindak tanpa izin dari adiknya.


"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Rahman terlihat tidak setuju dengan keputusan kakaknya.


"Kamu tahu, kan. Di Jakarta pergaulan anak muda sangat bebas. Kakak khawatir, jika kita membiarkan Alita yang seorang gadis tinggal di sana seorang diri, apalagi kemarin kakak dapat kabar anak dari teman kakak yang kuliah di Jakarta tau-tau nya pulang sudah bawa anak, kamu mau Alita seperti itu?" Hurry terus berusaha membujuk sang adik.


"Kebetulan pemuda yang ingin meminang Alita sudah memiliki pekerjaan yang mapan," tambah Hendra membantu sang istri membujuk adiknya.


"Ma, tolong panggilkan Alita," pinta Rahman pada istrinya yang sedari tadi hanya diam duduk di samping sang suami.


"Iya, Pa," ujar Rahma.


Rahma berdiri memanggil keponakan kesayangannya.


Rahman dan Rahma memang sangat menyayangi Alita, karena mereka tidak memiliki anak sehingga semua kasih sayang tercurah pada Alita.


Sedangkan Akifa lebih sering tinggal bersama Hurry walaupun biaya pendidikan Akifa mereka yang menanggung.


Akifa lebih memilih untuk sekolah di sebuah pondok pesantren dengan tujuan dia ingin memberikan hadiah terbaik untuk Abi dan Umminya yang sudah meninggal di akhirat kelak dengan cara menghafal Alquran.


"Iya, Om," lirih Alita yang baru saja ikut bergabung dengan Hurry dan Hendra di ruang keluarga.


"Duduklah!" perintah Rahman pada Alita.


"Apakah kamu benar-benar mau menikah dengan pria yang dikatakan oleh Bundamu?" tanya Rahman meminta pendapat Alita.


Alita terlihat berpikir sejenak, gadis itu mengingat ancaman yang dilayangkan Hendra dan Hurry padanya saat mereka pergi berlibur.


Gadis itu tidak mau Rahman dan Rahma tahu perbuatan menjijikkan yang sudah dilakukannya dengan Raymond.


Akhirnya Alita pun mengangguk pasrah menerima pernikahan dirinya dan pria yang saat ini sangat dibencinya.


"Kalau Alita memang setuju aku ikut saja, Kak." Akhirnya Rahman pun setuju.


"Ya sudah pernikahannya akan kita lakukan sebelum Alita kembali ke Jakarta. untuk saat ini mungkin kita hanya mengadakan acara akad nikah saja, resepsinya kita pikirkan setelah itu," usul Hurry.


"Terserah kamu saja, Kak. segala urusannya aku serahkan padamu, Kak," ujar Rahman.

__ADS_1


Rahman memang tipe orang yang yang sangat simple, dia tidak ingin ribet oleh karena itu dia menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan pernikahan Alita pada sang kakak.


"Berapapun biayanya biar aku yang mengatur," ujar Rahman lagi.


Sebenarnya huri dan Hendra tidak mempermasalahkan masalah biaya karena mereka juga sanggup untuk membiayai pernikahan Alita.


Mereka hanya menghargai sang adik yang sudah merawat Alita sejak kecil, yang mana mereka lebih berhak atas Alita.


Sesudah Hurry dan Hendra menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah sang adik, mereka pun izin pamit meninggalkan kediaman Rahman.


Sepasang suami-istri itu pun menyiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan acara pernikahan Talita dan Raymond.


Berbagai urusan surat menyurat selesai diurus oleh Hendra dalam waktu 1 hari.


2 hari menjelang liburan semester usai, pernikahan Alita dan Raymond pun dilaksanakan di kediaman keluarga Hendra.


Tak banyak persiapan, Raymond yang hidup sebatang kara membuat segala urusan menjadi lebih mudah.


Sejak kecil Raymond hidup bersama neneknya, di umur 15 tahun neneknya meninggal dunia lalu dia pun meninggalkan kampung halaman menuju Jakarta untuk mencari pekerjaan.


Berbagai pengalaman pekerjaan ditekuninya dengan giat, tekun serta jujur sehingga dia dipercaya Satya dan Raffa sebagai manager di kafe milik mereka.


Kayla masuk ke dalam kamar itu untuk menemui sang adik.


"Dek," lirih Kayla menghampiri Alita.


Alita yang sejak tadi sudah selesai berdandan seadanya kaget melihat Kayla masuk ke dalam kamarnya.


Kayla meletakkan tangannya di pundak sang adik.


"Kamu cantik," puji Kayla.


Alita hanya menatap Kayla melalu cermin yang ada di hadapannya.


Saat ini dia tidak tahu harus bagaimana, ada rasa kesal dan benci pada Kayla. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia membutuhkan kakaknya untuk berbagi.


"Ada apa kakak ke sini?" Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Alita.


"Apakah aku salah datang ke sini?" tanya Kayla balik.


Kayla mengingat pernikahannya dengan Raffa dulu, dia yang terpaksa menikah mendadak merasa takut dan cemas menghadapi kehidupannya setelah menikah nanti.

__ADS_1


Namun, setelah dia menjalaninya dengan ikhlas kebahagiaan terus datang menghampirinya sehingga dia dapat mengetahui jati dirinya.


"Kakak pasti akan menertawakan aku," tuduh Alita pada Kayla.


Sontak Kayla menautkan kedua Alisnya.


"Apa maksudmu?" tanya Kayla pada sang adik.


"Selama ini aku selalu mengganggu hubungan rumah tangga kakak, dan dengan aku menikah kakak pasti senang karena aku tak akan bisa mengganggu kamu dan Raffa lagi," ujar Alita.


"Apakah kamu ada niat untuk mengganggu hubungan rumah tanggaku dengan Bang Raffa?" tanya Kayla menganalisa ucapan Alita tadi.


"Mhm," gumam Alita bingung harus menjawab apa.


Secara tidak langsung Alita sudah mengungkapkan niat jahatnya terhadap sang kakak yang pernah direncanakannya.


"Al, aku tahu kamu tidak akan tega menggangu rumah tanggaku setelah kamu tahu adalah kakak kandungmu. Aku yakin tak ada saudara yang bisa menyakiti saudaranya yang terlahir dari rahim yang sama. Apalagi saat ini kita sudah yatim piatu, dan hanya saudaralah menjadi tempat satu-satunya kita bertumpu," ujar Kayla.


Kayla menatap dalam pada adiknya lewat pantulan cermin. Seolah kakak dua adik itu menumpahkan rasa kasih sayangnya pada adiknya.


Alita berdiri dari duduknya, dia membalikkan tubuhnya sehingga kini dia saling berhadapan dengan Sang kakak.


Gadis itu menatap dalam mata sang kakak, Alita melihat jelas ketulusan yang terpancar dari bola mata hitam milik sang kakak.


Kasih sayang yang ditunjukkan Kayla pada adiknya benar-benar tulus tanpa mengharapkan balasan.


Deg


Seketika jantung Alita berdegup dengan kencang. Semua rasa bersalah kini menumpuk di hatinya membuat Alita merasakan sesak di dadanya.


Entah rasa apa yang kini menghampiri relung hati gadis yang sebentar lagi akan menikah.


Tanpa disadarinya buliran bening mulai jatuh membasahi pipinya, penyesalan demi penyesalan hinggap di hati Alita.


Terlintas jelas di benak Alita bayangan berbagai perbuatan jahat yang sudah dilakukannya terhadap sang kakak kandung hingga akhirnya dirinya mendapatkan karma dari perbuatan jahat itu.


"Hei, kamu kenapa nangis?" tanya Kayla lembut.


kelembutan sikap Kayla terhadap Alita membuat gadis itu semakin merasa bersalah.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2