
“Bun, tolong jelaskan semua ini!” pinta Kayla bingung.
Kayla shock dengan apa yang terjadi, dia tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Kayla terjatuh dan tak sadarkan diri.
“Kayla!”
“Kakak!”
Pekik Bunda, Raffa, Akifa dan Rayna bersamaan memanggil Kayla panik.
Raffa langsung menangkap tubuh Kayla, dia mengangkat tubuh istrinya dan membawa keluar dari mall. Satya dan Rayna pun mengikuti langkah Raffa.
“Kita langsung ke rumah sakit!” teriak Raffa pada Satya saat mereka sudah berada di parkiran.
Hurry dan kedua putrinya juga langsung keluar dari mall. Mereka langsung memean taxi online untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Kayla.
“Kita ngapain ngikutin dia, Bun?” protes Alita tidak suka.
“Al, kakak kamu pingsan, Bunda mengkhawatirkannya,” ujar Bunda kesal pada putri keduanya.
Kasih sayang Hurry pada ketiga putri adik kandungnya itu sama, tapi dikarenakan Ara yang menyusu dengannya membuat ikatan bathinnya semakin kuat pada Ara. Kedekatan Hurry dengan Alita dan Akifa semakin berkurang sejak Rahman adik laki-lakinya membawa kedua putrinya itu.
Rahman yang tidak memiliki anak, meminta izin pada Hurry untuk merawat Alita dan Akifa di rumahnya. Rahman dan istrinya sangat menyayangi Alita dan Akifa, tapi walau bagaimanapun tetaplah kasih sayang seorang ibu yang membuat seorang anak tumbuh dengan baik.
Alita yang sangat disayangi Rahman mulai berbuat sesuka hatinya saat Akifa meminta sekolah di pondok pesantren. Akifa ingin memperdalam ilmu agama di pesantren agar dia dapat mendekatkan diri pada Allah dan bisa mendo’akan kedua orang tuanya.
Akifa menuntut ilmu di sebuah pesantren ternama di Jakarta, setiap kali liburan Alita sengaja tidak pulang karena dia mengikuti program tahfizulqur’an.
Hurry sengaja datang ke Jakarta karena dia ada urusan butik, kebetulan saat dia datang ke Jakarta mengunjungi Kayla, Hurry tidak datang mengunjungi Alita karena saat itu Alita masih berada di Padang.
“Suster!” teriak Raffa saat mereka telah berada di IGD rumah sakit terdekat.
“Iya, Tuan,” ujar seorang perawat.
“Tolongin istri saya!” pinta Raffa panik.
“Bawa ke sini, Tuan,” perintah sang perawat mengarahkan Raffa membawa istrinya masuk ke ruangan pemeriksaan.
Raffa masuk ke dalam ruangan pemeriksaan lalu dia membaringkan sang istri yang masih belum sadarkan diri
“Silakan tunggu di luar, Tuan,” pinta perawat setelah seorang dokter jaga masuk ke dalam ruangn itu.
Raffa keluar dari ruangan pemeriksaan. Dia menunggu di luar, Satya dan Rayna juga menunggu kabar dari dokter.
Tak berapa lama,Hurry juga masuk ke dalam ruangan IGD dengan kedua putrinya. Mereka ikut bergabung dengan Raffa.
__ADS_1
“Fa, Bunda minta maaf atas kejadian malam ini,” ujar Hurry merasa bersalah.
“Bun, semua ini bukan salah, Bunda. Mungkin Kayla hanya shock mendengar penuturan Akifa tadi. Selama ini yang Kayla tahu Ayah dan Ibu kandungnya adalah Bunda dan Ayah Hendra,” ujar Raffa bijak.
Raffa tidak ingin mempermasalahkan sikap Alita pada Kayla, walaupun dia sempat membenci Alita, tapi justru dia merasa kasihan pada adik istrinya itu.
Walau bagaimanapun sikap Alita, dan apapun yang sudah dilakukannya terhadapa Raffa dan Kayla tidak perlu dipermasalahkan karena Raffa tidak ingin membuat kaka beradik itu bertengkar dan saling membenci. Raffa berharap suatu hari nanti Alita sadar dengan perbuatannya dan berbaikan dengan istrinya.
Raffa memperhatikan Alita yang terlihat cuek dengan kondisi Kayla saat ini, sedangkan Akifa dan Hurry jelas terlihat sangat panik.
Akifa melihat Raffa yang tengah memperhatikan kakaknya, Akifa pun mendekati Alita.
“Kak, kenapa kakak membenci kak Ara?” tanya Akifa penasaran.
Akifa mulai mempertanyakan permasalahn apa yang terjadi antara kedua kakaknya.
Alita menatap tajam ke arah adik bungsunya, dia tidak mungkin menceritakan alasan yang sebenarnya pada Akifa, karena sudah jelas dirinya yang salah.
“Itu bukan urusan kamu, Dek,” jawab Alita cuek.
“Kak,” lirih Akifa.
Dia sedih dengan sikap Alita,
Raffa pun mendekati Alita.
“Haruskah kamu bersikap seperti itu pada kakak kandungmu?” tanya Raffa pada Alita.
Raffa ingin mencoba untuk membujuk Alita, agar hati gadis itu terbuka dan melupakan cintanya terhadap kakak iparnya.
Alita hanya diam.
“Bun, aku harus pergi,” ujar Alita.
Gadis itu berdiri dan melangkah keluar dari rumah sakit.
“Al, jangan pergi!” teriak Hurry.
“Biarkan kak Alita menenangkan dirinya terlebih dahulu,” ujar Akifa menenangkan Hurry yang terlihat bingung dengan situasi yang terjadi antara Kayla dan Alita.
Raffa menghela napasnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Raffa mengusap wajahnya kasar.
Tak berapa lama seorang dokter keluar dari tuangan pemeriksaan.
Semua orabg yangtengah menunggu kabar tentang Kayla pun berdiri menghampiri sang Dokter.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Raffa.
“Pasien hanya shock, karena dia sedang hamil membuat kondisi tubuhnya tidak stabil. Semoga sebentar lagi pasien bisa sadar,” ujar Dokter.
“Lalu bagaimana dengan kandungannya, Dok?” tanya Raffa pada sang Dokter.
Di sampan Raffa mengkhawatirkan kondisi Kayla, dia juga mengkhawatirkan keadaan calon buah hatinya yang tengah dikandung oleh istrinya.
“Alhamdulillah, janin di dalam Rahim pasien baik-baik saja,” ujar Dokter menjelaskan.
“Alhamdulillah,” ujar Raffa dan Hurry bersamaan.
“Kalian bisa menunggu di dalam ruangan, nanti jika pasien sadar langsung hubungi perawat atau dokter jaga,” ujar Dokter sebelu meninggalkan keluarga pasien.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, tempat Kayla berada. Mereka duduk di sofa menunggu Kayla sadar.
“Bun,” lirih Raffa memulai pembicaraan.
“Ya,” sahut Hurry.
“Menurut aku lebih baik kita menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada Kayla. Aku yakin, Kayla akan kuat menerima kenyataan ini, taka da yang harus kita tutupi dari dia.” Raffa memberi saran pada Hurry.
“Kamu benar, Fa. Bunda juga berpikir seperti itu, banyak hal yang harus diketahuinya tentang siapa dirinya sesungguhnya. Perlahan Bunda akan memberitahukan semuanya padanya,” lirih Hurry setuju dengan pednapat Raffa.
Hurry ingin permasalahan yang terjadi antara Kayla dan Alita dapat selesai dengan cepat. Dia tidak sanggup melihat kedua putrinya bertengkar.
“Ara,” panggil dua orang yang tidak jelas terlihat oleh Kayla.
Kayla berlari mengejar dua orang yang memanggil dirinya.
“Ara, Abi dan Ummi merindukanmu, Nak,” ujar wanita yang mengenakan pakaian putih dan hijab panjang seperti yang digunakannya.
“Abi, Ummi, kalian,--“ lirih Kayla berat.
“Kamu adalah putri kami yang paling kuat, jagalah adik-adikmu dengan baik,” ujar seorang pria tampan dengan wajah yang sangat teduh.
“Abi, Ummi kenapa kalian meninggalkan aku?” lirih Kayla.
“Kami harus pergi, Nak! Abi dan Ummi titip kedua adik-adikmu,” pesan wanitayang mengaku sebagaiummi Kayla.
“Tidak! Jangan tinggalkan aku,” isak Kayla.
Kayla melihat dua orang itu semakin jauh meninggalkan dirinya.
“Tidak, tidak, jangan tinggalkan aku. Tidak!” teriak Kayla.
__ADS_1