
"Ma-maaf," lirih Rayna menahan malu.
"Kenapa berdiri di sini, Nak?" sapa pria paruh baya menghampiri Rayna.
"Mhm." Rayna hanya bisa bergumam bingung harus menjawab apa.
Sementara itu dari kejauhan ada seorang yang menahan tawa melihat wajah gadis aneh yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya.
"Ya sudah, saya masuk dulu, ya," ujar Pak Hanif supir sekaligus asisten Surya.
"I-iya, Pak," lirih Rayna.
"Makanya, kalau nungguin orang itu di teras aja," ujar Satya datar.
"Astaghfirullah, bikin kaget aja lu," ketus Rayna.
"Ayo berangkat!" ujar Rayna dan dia berlalu masuk ke dalam mobil yang dibawa pak Hanif tadi.
"Bukain!" perintah Rayna pada Satya dengan kesal.
Satya menekan tombol buka kunci, dan ternyata bukan mobil yang hendak dimasuki Rayna.
Mobil yang akan mereka gunakan telah terparkir di depan gerbang pagar yang tinggi.
"Kenapa gak bilang sedari tadi?" gerutu Rayna kesal.
Dia melangkah sambil menghentakkan kaki, diikuti Satya dari belakang sambil menyimpan senyumannya.
Rayna duduk di kursi belakang, dia merasa kesal dengan kelakuan Satya.
Satya tidak menghiraukan kekesalan Rayna.
Dia pun melajukan mobil meninggalkan kediaman Surya menuju rumah bibi Rayna.
Dalam fokus mengendarai mobilnya, Satya sesekali mencuri pandang pada gadis aneh yang bersamanya melalui kaca spion.
Rayna membuang muka, dia menoleh ke arah jendela, walau sesekali dia juga mencuri pandang pada pria yang sedang fokus mengendari mobil yang ditumpanginya.
Saat dalam perjalanan, terdengar suara ponsel berdering.
"Kenapa dering ponselnya sama dengan ponselku?" gumam Rayna di dalam hati.
"Ya ampun, kenapa ponsel itu tiba-tiba berdering?" gumam Satya di dalam hati.
"Ponselmu berbunyi," ujar Rayna memberitahu Satya.
"Enggak penting," jawab Satya datar.
"Yeay, dibilangin songong." Rayna memonyongkan bibirnya ke arah Satya.
Lagi dan lagi ponsel milik Raina yang berada di dalam saku celana Satya berdering.
"Kalau nggak mau diangkat matiin dong atau di silent gitu, berisik," ketus Rayna merasa terganggu dengan jaringan ponsel tersebut.
Dengan terpaksa Satya mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya dengan hati-hati agar Rayna tidak melihat ponsel tersebut.
"Eh, itu kan ponsel gue kok bisa sama lu, sih?" tanya Rayna penasaran.
Tak sengaja Raina menoleh ke arah Satya dan melihat dengan jelas ponsel yang dipegang Satya adalah ponsel miliknya.
Raina memajukan tubuhnya ke depan dan langsung meraih ponsel yang ada di tangan Satya.
Dia membolak-balikkan ponsel tersebut untuk memastikan bahwa ponsel itu memang miliknya.
__ADS_1
"Kenapa ponsel ini bisa ada sama kamu? Bukannya,--?" Rayna menggantung ucapannya.
Dia mencoba berpikir mengingat kejadian ponselnya yang hilang.
"Jangan-jangan kamu,--?" Rayna berprasangka buruk terhadap Satya.
Dia mengira bahwa anak yang mencuri ponselnya adalah orang suruhan Satya.
"Kamu salah! aku mengambil ponsel itu dari anak remaja yang sudah mencuri ponselmu," ujar Satria tegas membela diri.
Dia tidak ingin Rayna mengira
"Lalu kenapa kamu tidak mengembalikannya kepadaku?" tanya Rayna sanksi.
"Siapa suruh jadi orang jutek, ujung-ujungnya aku kan malas mengembalikan ponselmu, paling tidak aku sudah mengetahui apa isi ponsel itu," ujar Satya santai.
"What? kamu buka apa aja di ponselku?" pekik Rayna kesal bercampur malu.
Rayna ingat bahwa galeri ponselnya berisikan foto pria menyebalkan yang kini tengah berada di hadapannya.
Seketika wajah Rayna berubah menjadi merah bagaikan tomat masak, dia benar-benar malu membayangkan bahwa pria menyebalkan itu sudah mengetahui rahasianya.
"Ternyata kamu suka curi foto aku, ya?" ledek Satya membuat wajah Rayna semakin merah.
"Berhenti!" teriak Rayna.
Rayna memilih untuk turun dari mobil yang dikendarai oleh Satya agar dia bisa menutupi rasa malu yang telah memuncak.
"Udah sampai, ya berhentilah," ujar Satya santai dengan wajah meledek Rayna.
Rayna pun melihat ke sekelilingnya, ternyata saat ini dia telah berada di depan rumah bibinya Lina.
"Lain kali kalau mau ambil foto ya langsung minta aja sama orangnya," ujar Satya sebelum Rayna keluar dari mobil.
Rayna keluar mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.
Satya hanya tersenyum melihat tingkah Rayna.
Dia pun langsung meninggalkan kediaman keluarga Wisnu.
"Sayang, udah siap?" tanya Raffa pada istrinya yang masih bersiap-siap.
"Udah," jawab Kayla sambil merapikan hijabnya.
Kayla melangkah menghampiri Raffa, lalu dia langsung menggandeng lengan suaminya dengan mesra.
Raffa tersenyum melihat sikap sang istri, saat ini mereka telah menjadi pasangan suami istri yang sangat bahagia.
Buih-buih cinta telah mengisi relung hati mereka. Kebahagian terpancar jelas di wajah sepasang suami istri itu.
Mereka melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"Ma, kami pamit, ya," ujar Raffa sambil menyalami tangan wanita yang telah melahirkannya.
"Hati-hati ya, Sayang," ujar Arumi.
Kayla juga berpamitan pada ibu mertuanya, setelah itu mereka pun keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
Sebelum Raffa bertemu dengan teman-temannya, dia mengantarkan Kayla ke rumah bibi Lina.
Raffa sengaja meminta Kayla untuk tidak berangkat bersama Rayna karena dia sendiri yang ingin mengantar sang istri.
"Aku enggak bisa turun, ya! Tolong sampaikan salamku sama Bu Lina dan Pak Surya." Raffa berpesan pada istrinya.
__ADS_1
"Iya, Sayang," ucap Kayla.
Kayla pun menyalami dan menciumi punggung tangan suaminya. Setelah itu Kayla pun turun dari mobil masuk ke dalam rumah bibinya.
Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam rumah sang bibi, Raffa pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Wisnu menuju cafe tempat dia akan bertemu dengan teman-teman SMA nya.
Raffa sampai di cafe saat waktu dzuhur masuk, dia memilih untuk menunggu teman-temannya di mushala yang tersedia di cafe
sambil melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba.
"Raffa di mana, ya?" tanya Gamal pada Rio dan Hanif yang sudah stand by di sebuah sofa privasi yang terdapat di cafe itu.
" Sabar, Bro. Gue yakin bentar lagi di pasti nongol, Raffa kan enggak pernah ingkar janji," ujar Rio menanggapi pertanyaan Gamal.
Sambil menunggu Raffa, dan yang lainnya, Ponsel Gamal berdering.
Gamal langsung menekan tombol hijau saat mengetahui Agung menghubunginya.
"Hallo, Bro," ujar Gamal.
"Sorry, gue enggak bisa ikut kali ini karena bunda minta gue buat nemanin beliau mengambil barang-barang butik," ujar Agung dari seberang sana memberitahukan bahwa dia tidak dapat hadir dalam acara meet up kali ini.
"Oh, ya udah, kalau gitu. Salam ya buat bunda." Gamal menanggapi.
Dia pun memutus panggilan dari Agung.
"Zahra, tunggu!" teriak seorang gadis pada sahabatnya.
Gadis yang dipanggil Zahra membalikkan tubuhnya tanpa melihat seseorang di sampingnya, sehingga dia menjatuhkan beberapa barang-barang di tangannya ke lantai.
"Ma-maaf," lirih wanita yang bernama Zahra itu pada pria yang baru saja ditabraknya.
"Zahra, kamu kenapa sih tinggalin aku begitu saja," protes gadis yang datang menghampiri gadis yang bernama Zahra.
"Enggak apa- apa," jawab Raffa.
Raffa ikut membantu gadis yang kini tengah mengumpulkan beberapa barangnya yang berserakan.
Mata Raffa tertuju pada suatu benda yang tergantung di sebuah buku agenda milik si gadis yang sedang sibuk merapikan barang-barangnya yang berserakan.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya πππ