Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 102


__ADS_3

Kayla terdiam dan terpana melihat foto-foto putri Hurry yang pernah hilang.


Bagi Kayla foto-foto gadis kecil itu tidak asing, dan sangat familiar dalam ingatannya.


"Sayang." Suara Hurry membuat Kayla tertegun dari lamunannya.


"Eh," gumam Kayla.


"Ada apa, Sayang?" tanya Hurry kepada wanita yang kini duduk di sampingnya.


"Enggak apa-apa, Bun." Kayla menggelengkan kepalanya.


Hurry asyik membukakan berbagai foto-foto kenangan sambil bercerita dengan Kayla.


Kayla dengan senang hati mendengarkan berbagai kenangan indah yang masih melekat di dalam ingatan wanita paruh baya itu.


Kayla juga asyik menikmati makanan yang di sediakan oleh PRT keluarga Hendra.


Hingga tak disadarinya, semua makanan di sana habis tak bersisa.


"Masih kurang, Nak?" tanya Hurry membuat Kayla sadar bahwa semua cemilan yang tadi terhidang di atas meja habis tak bersisa.


Kayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, Bun. Kayla merasa lapar," tutur Kayla jujur.


"Enggak apa-apa, Sayang. Ayo kita makan dulu, Bunda akan masakin buat kamu," ujar Hurry.


"Enggak usah, Bun. Gimana kalau kita pesan Gofood saja, Bunda kan masih kurang sehat. Enggak boleh capek," ujar Kayla sambil membuka aplikasi Gofood di ponselnya.


"Kamu enggak suka masakan bunda?" lirih Hurry merasa sedih.


"Bukan begitu, Bun. Aku kasihan sama bunda yang tadi Bang Agung bilang Bunda sedang kurang sehat," ujar Kayla.


"Ya udah, Bunda suruh bibi aja masak, enggak usah pesan Gofood," usul Hurry.


"Ya udah kalau gitu terserah bunda aja," jawab Kayla mengalah.


"Bi!" Hurry memanggil PRT di rumahnya.


"Iya, Nyonya." PRT itu datang menghampiri Hurry.


"Bibi, tolong masakin menu makan siang buat kami, ya. Kayla akan makan di sini bersama suaminya," ujar Hurry.


"Baik, Nyonya," jawab PRT tersebut.


PRT itu langsung melangkah menuju dapur untuk melakukan perintah dari majikannya.


"Seharusnya Bunda tidak perlu repot-repot," ujar Kayla merasa tidak enak hati.


"Kedatangan kamu sangat Bunda tunggu-tunggu, karena bertemu dengan kamu dapat mengobati rasa rindu Bunda pada Ara," jawab Hurry.


Kayla menggenggam tangan Hurry dengan erat.


"Terima kasih, Bunda. Dengan adaya Bunda akhirnya Kayla dapat merasakan kasih sayang seorang Ibu, walaupun Mama Arumi sangat menyayangi Kayla tapi, mama Arumi adalah mertua Kayla." Kayla mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.


"Begitu hausnya kamu dengan kasih sayang seorang ibu, maafkan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menemukan keluarga kandungmu," gumam Raffa di dalam hati.


Dia yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah beberapa jam menghabiskan waktu di teras rumah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.

__ADS_1


Apalagi dia sengaja memberi ruang waktu untuk Hurry dan Kayla menghabiskan waktu berdua.


Raffa melangkah mendekati istrinya.


"Aku senang melihat Kayla merasa nyaman bersama Bunda, ujar Raffa.


Raffa melihat beberapa piring dan toples yang isinya sudah kosong.


Dia mengernyitkan dahinya.


"Apakah semua makanan ini Kayla yang menghabiskannya, Bun?" tanya Raffa pada Hurry.


Hurry tersenyum lalu mengangguk. Dia tidak ingin Kayla tersinggung.


"Ya ampun, Sayang." Raffa menggelengkan kepalanya.


"Maafkan Kayla ya, Bun. Selera makan Kayla sekarang memang di luar atas normal, Bun. Maklum saja, Bun, wanita hamil butuh nutrisi," ujar Raffa meminta maaf pada Hurry.


"Kamu hamil, Sayang?" tanya Hurry pada Kayla memastikan perkataan Raffa.


Kayla mengangguk.


"Alhamdulillah," seru Hurry ikut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang suami istri itu.


Mereka kembali mengobrol, kali ini Raffa juga ikut terlibat pembicaraan dengan Kayla dan Hurry.


Tak berapa lama, PRT datang menghampiri mereka.


"Nyonya, maan siang sudah siap," ujarnya memberitahukan.


"Oh ya udah, yuk kita makan dulu," ajak Hurry.


Hurry pun merapikan album-album yang tadi mereka lihat lalu menyimpannya ke dalam lemari.


Seketika hati Raffa berdebar tak karuan, dia merasa kenal dengan gadis yang ada di dalam foto itu


"Yuk, kita makan!" ajak Hurry.


"Yuk," lirih Kayla.


Kayla menarik lengan Raffa membuat Raffa tersadar dari lamunannya.


Mereka melangkah menuju ruang makan untuk menyantap makan siang bersama.


"Lain kali kalian kalau datang ke sini jangan pas lagi sepi seperti ini," ujar Hurry di sela-sela kegiatan makan mereka.


"Iya, Bun. Semoga masih ada waktu dan kesempatan untuk kembali ketemu sama bunda dan keluarga lainnya," ujar Kayla.


Kayla merasa sangat nyaman berada di rumah Hurry, dia merasa rumah itu seperti rumahnya sendiri.


Setelah makan siang, Raffa dan Kayla melaksanakan shalat dzuhur di rumah Hurry.


Obrolan mereka kembali bersambung, kali ini Hurry mengajak Kayla dan Raffa mengobrol di taman belakang yang di sana terdapat gazebo dan beberapa pohon.


Suasana di taman belakang rumah keluarga Hendra terasa sejuk dan nyaman untuk bercengkrama.


Mereka terus bercerita satu sama lain, ada saja topik yan akan mereka bicarakan hingga tak terasa waktu sore pun datang.


"Udah sore, Bun," ujar Raffa sambil melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 15.00.

__ADS_1


"Masa, sih?" Hurry juga melirik ke jam tangannya.


"Benar, Bun," jawab Raffa.


"Ya ampun tidak terasa kita sudah menghabiskan waktu seharian dengan mengobrol," ujar Hurry dengan wajah sumringah terpancar di wajahnya.


"Iya, Bun. Enggak terasa waktu berlalu begitu cepat," ujar Kayla menyetujui ucapan Hurry.


"Bagaimana, Sayang? Kita pulang sekarang?" tanya Raffa pada Kayla meminta persetujuan.


"Kalian enggak menginap di sini?" tanya Hurry penuh harap.


"Mhm, kali ini mungkin kita belum bisa menginap di sini, Bun. Nanti malam aku ada seminar," jawab Raffa.


"Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau begitu sering-seringlah bawa Kayla ke sini ya, Fa," pinta Hurry pada teman putra sulungnya.


"Tenang saja, Bun. Kalau kami ada waktu, aku akan ajak Kayla main ke sini lagi." Raffa menatap Kayla menunggu reaksi Kayla yang diajak pulang.


"Kayla masih senang berada di sini sama Bunda, tapi waktu udah sore. Kayla pamit pulang ya, Bun," lirih Kayla.


Kayla memeluk tubuh Hurry dengan penuh kehangatan, seolah dia enggan untuk berpisah dengan Hurry.


Hurry membalas pelukan dari Kayla.


"Iya, Sayang. Kapan kamu mau datang ke sini datang saja. Pintu rumah bunda selalu terbuka untuk kalian," ujar Hurry sambil membelai lembut pundak Kayla.


"Makasih ya, Bun, atas semuanya. Maaf kalau aku merepotkan Bunda," ujar Kayla sebelum berpamitan pada Hurry.


"Iya, Sayang. Kamu jangan sungkan, Bunda senang kalian datang ke sini dan tidak merepotkan sama sekali," ujar Hurry.


Akhirnya Raffa dan Kayla pun berpamitan dengan Hurry.


Mereka keluar dari rumah Hurry dan masuk ke dalam mobil. Raffa pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Hurry.


Saat mobil sudah melaju, Kayla melihat seorang pria yang tidak asing baginya dengan mengendarai sepeda motor Gede klasik.


"Pria itu," gumam Kayla di dalam hati.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan

__ADS_1


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2