
"Yuk!" ajak gadis yang dipanggil Zahra pada temannya.
Mereka pun melangkah meninggalkan Raffa. Tanpa disadarinya, sang gadis telah menjatuhkan mainan yang tadi tergantung di buku agenda miliknya.
Mata Raffa tertuju pada benda tersebut, dia merunduk mengambil benda yang telah dijatuhkan oleh sang gadis.
Raffa memperhatikan benda itu, seketika ingatan Raffa beralih pada 15 tahun yang lalu.
"Bang Raffa, aku mau beli kalung," rangek Zahra kecil sambil menunjuk pada sebuah kalung yang dijajakan oleh pedagang di pinggir pantai.
"Kalung yang mana?" tanya Raffa pada Zahra.
"Kalung yang ada inisialnya itu, Bang." Zahra menunjuk ke sebuah kalung yang terdapat huruf Z di di sana.
Raffa melihat ke arah kalung yang ditunjuk oleh Zahra.
"Ini berapa, Pak?" tanya Raffa sambil mengulurkan kalung yang ditunjuk Zahra tadi.
"Oh yang itu, 20.000 aja, dek," jawab bapak Si pedagang aksesoris.
"Pak ini bisa ditambah inisial yang lainnya, nggak?" tanya Raffa pada si pedagang.
"Bisa, Dek," jawab si pedagang aksesoris tersebut.
"Aku mau tambah inisial R, jadi tolong dibikinkan inisial ZR ya, Pak. 2 buah ya, Bang," pinta Raffa pada si pedagang.
"Tunggu sebentar ya, Dek," ujar pedagang aksesoris.
Si pedagang pun mengambilkan kalung tersebut dan menambahkan inisial yang terdapat di kalung yang diminta Zahra.
"Ini, Dek." Si pedagang memberikan kaleng tersebut pada Zahra.
"Makasih, Bang," ucap Zahra.
Dengan senang hati Zahra menerima kalung yang diberikan oleh Si pedagang.
Raffa membayar kalung itu, dan kembali ke tempat orang tua mereka yang sedang asyik bercengkrama.
"Ma, fotoin aku sama Zahra, dong," pinta Raffa pada Arumi sambil memegang kalung yang baru saja dibelinya untuk Zahra.
Terlihat jelas, bentuk kalung yang ada di tangan mereka.
"Raffa, kamu udah di sini?" tanya Gamal mengagetkan Raffa.
Kedatangan Gamal membuat lamunan Raffa hilang seketika dari benaknya.
Gamal tidak sengaja melihat Raffa saat dia hendak ke toilet.
"Eh, iya," lirih Raffa sambil celingak-celinguk mencari gadis yang tadi sempat di panggil Zahra oleh temannya.
"Teman-teman udah pada ngumpul, lu ke sana duluan, deh," ujar Gamal dan berlalu.
Dia meninggalkan Raffa yang masih termangu dengan kalung ukuran kecil dengan inisial ZR tergantung di sana.
Raffa menggenggam kalung itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Dia pun melangkah menuju tempat teman-temannya sudah berkumpul.
"Zahra, lu kenapa tinggalin gue?" gerutu gadis yang tadi sempat ditinggal oleh gadis yang bernama Zahra.
"Lagian, lu lelet banget," maki Zahra.
__ADS_1
Shelly menarik lengan Zahra yang berjalan di depannya.
Tak sengaja, Zahra menjatuhkan minuman di dekat Raffa, sehingga membuat kemeja Raffa kotor.
"Ma-maaf," lirih Zahra merasa bersalah.
"Ti-"
"Zahra, kamu ngapain di sini?" tanya Gamal.
Raffa mengernyitkan dahinya heran.
"Aku ke sini mau makan sama Shelly, eh malah bikin gaduh di sini," jawab Zahra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maafkan aku, ya," ucap Zahra berusaha membantu membersihkan kemeja Raffa yang kotor akibat tumpahan kopi.
Raffa hanya terpana melihat gadis yang kini tengah menyentuh kemejanya. Di saat itu, dia lupa bahwa sang gadis bukanlah muhrim baginya.
Dibenaknya saat ini mengingat wajah gadis kecil yang pernah mengisi hari-harinya dan hatinya selama ini.
"Zahra," lirih Raffa.
Zahra menatap dalam pada pria yang baru saja menyebut namanya.
Tatapan mata mereka terkunci sesaat, degup jantung Raffa mulai tak dapat dikendalikan.
"Zahra, ikut gabung di sini saja," seru Gamal menyadarkan kedua insan itu.
"Mhm," gumam Zahra menimbang tawaran dari temannya.
Raffa dan teman-temannya memang tak hanya laki-laki saja, ada beberapa orang perempuan yang juga ikut berada di sofa privasi yang tersedia untuk banyak orang.
"Aku ke toilet, dulu," ujar Raffa melangkah meninggalkan teman-temannya
****
"Kay, aku minta maaf, ya. Aku tahu, aku udah salah sama kamu," ujar Irene pada sahabat sekaligus sepupunya itu saat mereka telah berada di kamar Irene.
Sedangkan Rayna sedang asyik mengobrol dengan Bibi Lina di ruang keluarga sambil menonton TV.
"Iya, aku udah maafin. Toh semuanya sudah berlalu." Kayla tersenyum.
"Suami kamu,--" Irene tak berani menyambung perkataannya.
Dia takut, pertanyaan yang dilontarkannya nanti malah membuat Kayla bersedih.
"Alhamdulillah, Bang Raffa sayang sama aku, mungkin inilah takdir jodohku. Dia sangat menyayangi istrinya, walaupun di awal dia bersikap dingin terhadapku" ujar Kayla jujur mengungkapkan kisahnya bersama Raffa.
"Benarkah? Alhamdulillah, kalau begitu. Belum tentu dia bisa sayang sama aku, kalau waktu itu aku yang jadi menikah dengannya," celoteh Irene.
Dia bersyukur, Kayla bahagia dengan sang suami yang awalnya akan dijodohkan dengan dirinya.
"Iya juga, sih," sambut Kayla menanggapi.
"Aku kabur waktu itu karena aku sudah memiliki pacar, Kay." Irene mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya.
"Aku sangat mencintai Alex, dia adalah pria yang terbaik dalam hidupku,"
Akhirnya Irene menceritakan semua kisah cintanya bersama Alex.
__ADS_1
Dia menyesal membuat Kayla terperangkap dalam pernikahan dini. Namun, kini dia ikut bahagia setelah mengetahui kebahagiaan yang didapat oleh Kayla.
Mereka pun saling bercerita tentang berbagai hal yang mereka alami.
Kayla juga menceritakan kenyataan yang sudah diketahuinya bahwa dia bukanlah anak kandung dari ayah Bram, dan dia mengerti dengan sikap Ibu Rita yang selalu tidak suka terhadapnya.
"Maksud kamu?" tanya Irene tak percaya saat mengetahui kenyataan bahwa Kayla. tidak memiliki ikatan darah dengannya.
"Saku bukanlah anak kandung Ayah Bram, dia menemukan diriku di taman Gunung Padang, tempat yang sering kita kunjungi," jelas Kayla.
"Lalu bagaimana dengan suami dan keluarganya?" tanya Irene khawatir.
"Mereka sudah tahu," jawab Kayla.
Keluarga Raffa memang sudah mengetahui status Kayla di keluarga Bramantyo, bersyukur keluarga besar Raffa tidak mempermasalahkan hal itu.
Tok tok tok...
Terdengar suara pintu kamar Irene diketuk dari luar.
"Kak, ada tamu cariin kakak!" teriak Rayna dari luar kamar.
Irene dan Kayla pun menghentikan obrolan mereka.
"Siapa?" tanya Irene setelah dia membuka pintu kamar.
"Enggak tahu, Kak," jawab Rayna.
"Oh, ya udah, aku turun," ujar Irene.
"Kay, kita ke bawah, yuk!" ajak Irene pada Kayla.
Kayla mengangguk lalu merapikan hijab yang dikenakannya, mereka pun melangkah menuruni anak tangga menuju lantai satu.
"Sia-?" Irene kaget saat melihat kekasihnya Alex tengah duduk di ruang tamu.
"Kamu? Ngapain ke sini?" tanya Irene pada tamu yang sudah duduk di sofa ruang tamu menunggunya.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
__ADS_1
-Vote
Terima kasih atas dukungannya πππ