
Seorang pria menatap Kayla heran, dia bertanya-tanya dengan keberadaan Kayla di rumahnya.
"Kamu?" ujar Kayla dan pria itu bersamaan.
Hurry yang baru saja masuk ke dapur heran melihat ekspresi dua orang di hadapannya.
"Kalian saling kenal?" tanya Hurry pada Kayla dan putra bungsunya.
"Mhm," gumam Kayla bingung.
Hurry menghampiri putra bungsunya, dia mengelus lembut pundak putra yang jarang pulang ke rumahitu.
"Alex, lihatlah wanita itu adalah kakakmu, Ara," ujar Hurry memberitahu putra bungsunya.
Alex yang masih belum mulai masuk kuliahnya, dia masih berada di Padang sengaja pulang karena ada sesuatu yang dibutuhkannya.
Alex terdiam mematung. Buliran bening mulai membasahi pipinya.
"Ya Allah, apakah karena ini aku selalu merasakan sesuatu yang aneh saat berada di dekatnya?" gumam Alex di dalam hati.
Begitu juga dengan Kayla, air matanya jatuh begitu saja mulai membasahi pipinya. Saat berada di dekat Alex dia merasa sangat dekat.
Hurry menggiring Alex mendekati Kayla, saat ini Hurry berada di antara Kayla dan Alex.
"Akhirnya kalian bisa kembali bersatu, Nak," lirih Hurry juga ikut menangis.
Hurry merangkul putra dan putrinya dengan kedua tangannya.
"Kakak, aku merindukanmu," lirih Alex.
Alex yang merasa kehilangan sosok Ara, bersyukur dengan kehadiran Kayla.
Dia menggenggam tangan Kayla erat, "Bertahun-tahun, aku kehilangan sosokmu, Kak."
Kayla yang selama ini tidak bisa mengontrol jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat saat berada di dekat Alex mengerti dengan ikatan bathin yang terjalin antara dirinya dan Alex.
Sejenak mereka larut meresapi anugrah Tuhan yang telah mempertemukan mereka kembali setelah perpisahan yang panjang.
"Eh, kamu tumben pulang?" tanya Hurry pada putra bungsunya.
Hurry mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak lagi bersedih.
"Emangnya aku enggak boleh pulang, Bun?" tanya Alex protes.
"Kamu itu sudah terlalu jarang pulang, sampai bunda lupa kalau masih punya putra di luar sana," ujar Hurry jujur.
Alex memang jarang pulang, semenjak dia duduk di bangku SMA, Alex meminta izin pada kedua orang tuanya untuk tinggal di sebuah kost-an.
Alex tidak suka berada di rumah karena dia akan selalu bertengkar dengan Agung hanya gegara masalah yang sepele, apalagi jika mereka membahas masalah hilangnya Ara.
Alex selalu menyalahkan Agung atas hilangnya kakak perempuannya. Seakan Alex tidak rela dengan kepergian Ara.
__ADS_1
Hurry mengizinkan Alex tidak tinggal di rumahnya dengan syarat Alex dapat bertanggung jawab dengan apa saja yang menyangkut dirinya.
"Bilang aja Alex enggak boleh pulang," gerutu Alex.
Kayla tersenyum melihat tingkah pria yang selalu membantunya di saat dia berada dalam bahaya.
Ikatan bathin di antara mereka membuat Alex selalu menjadi pelindung bagi dirinya.
"Lihatlah, Kayla. Adikmu yang satu ini selalu seperti ini," ujar Hurry.
Mereka pun tertawa bersama. Rasa sedih selama ini yang melanda keluarga Hurry hilang begitu saja, keceriaan menghiasi kediaman keluarga Hendra.
Gelak dan tawa terdengar jelas dari dapur, Alex menemani dua wanita beda usia itu sambil bercerita hal-hal yang lucu.
Sambil memasak, Hurry menatap dalam pada Alex dan Kayla, dua orang yang bisa dibilang tidak pernah terpisahkan sejak lahir hingga Ara diculik.
"Ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan yang kau limpahkan pada kami. Alex yang biasa terlihat diam dan jarang ingin berkomunikasi dengan kami, kini dia terlihat sangat ceria," gumam Hurry di dalam hati.
Keseruan di dapur membuat Hendra dan Agung penasaran dengan apa yang terjadi.
Mereka pun melangkah menuju dapur sekaligus ruang makan.
"Ada apa ini, Bun?" tanya Hendra pada istrinya sambil mengernyitkan dahinya.
Hendra belum sadar dengan kehadiran putra bungsunya di sana.
"Ayah," lirih Alex.
"Kamu tumben pulang?" tanya Hendra pada putra bungsunya yang hanya menghubunginya di saat uang saku.
"Maafin Alex, Yah. Alex malas bertengkar terus sama bang Agung," tutur Alex jujur sambil melirik ke arah Agung.
"Terus sekarang kamu masih marah sama aku?" tanya Agung sambil melirik ke arah Kayla.
Agung tahu betul alasan Alex tidak menyukai dirinya karena Alex marah Agung tidak menjaga Ara sewaktu mereka sedang asyik bermain pasir di pantai waktu itu.
"Maafkan aku, Bang. Mulai hari ini kita akan jaga Ara sebaik mungkin, takkan ada yang bisa membawanya jauh dari keluarga kita." Alex memeluk tubuh Sang kakak.
Dia mulai menyesali sikapnya terhadap sang kakak.
Kayla menatap anggota keluarganya satu persatu, dia bersyukur memiliki keluarga kandung yang sangat menyayanginya.
"Sudah masak, bun?" ujar Ayah Hendra mencairkan suasana yang kembali sendu.
"Sudah, Yah. Ayo kita semua makan siang bersama," ajak Hurry pada anggota keluarganya.
Tiga orang pria itu pun duduk di kursi meja makan, Kayla dan hurry mulai menghidangkan masakan yang baru saja mereka masak.
Setelah semua makanan terhidang di atas meja makan seluruh anggota keluarga Hendra mulai menikmati makan siang bersama dengan kebahagiaan yang terpancar di setiap wajah mereka.
Mereka mulai menikmati makanan yang terhidang di atas meja dengan lahapnya, tanpa mengeluarkan suara, hanya dengan sendok dan garpu yang berada di atas piring menemani santapan makan siang mereka.
__ADS_1
Pada sore hari Rafa datang mengantarkan beberapa pakaian yang dibutuhkan oleh istrinya.
Saat itu Kayla belum sempat menceritakan kenyataan jati dirinya yang sudah ditemukannya.
Kayla akan menyampaikan kenyataannya pada sang suami di saat waktu yang tepat.
Entah mengapa Rafa merasa tenang meninggalkan Kayla bersama keluarga Hendra, dia yakin bahwa keluarga Hendra akan menjaga sang istri dengan baik.
Alex yang biasanya hanya singgah sebentar di rumahnya untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkannya sekarang dia betah berlama-lama di kediaman orangtuanya tersebut.
"Tumben kamu masih disini, Lex?" tanya Agung pada adik laki-lakinya saat mereka berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.
"Suka-suka gue dong, sirik lo," ketus Alex menjawab ocehan Agung.
"Makanya, kamu punya keluarga punya saudara malah milih tinggal di luaran sana," ujar Hurry mendukung ucapan putra sulungnya.
"Iya, Bun," lirih Alex mengangguk.
Lagi-lagi mereka bercengkrama menghabiskan waktu malam dengan bahagia.
Malam semakin larut, Kayla dan Hurry masih belum mengantuk. Ketiga pria yang tadi menemani mereka kini tak lagi berada di ruang keluarga.
Mereka sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar masing-masing sehingga tinggallah ibu dan putrinya masih duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.
"Sayang, Bunda akan menceritakan sesuatu yang harus kamu ketahui," lirih Bunda Hurry di sela-sela keasyikan mereka menonton.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ