
Seketika Raffa menghentikan gerakannya. Dia meninggalkan Alex yang sudah babak belur terbaring di tanah.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Raffa khawatir.
"Aku enggak apa-apa. Kenapa Bang Raffa memukul dia?" tanya Kayla.
Ada rasa sakit menyelinap di hatinya saat melihat Alex terluka karena suaminya. Kayla menatap sendu ke arah pria yang telah menyelamatkan dirinya.
"Bang, Dia sudah menolongku," lirih Kayla pada sang suami.
"Apa maksudmu?" Raffa masih belum paham apa yang dikatakan oleh sang istri.
"Dia sudah menolongku dari tabrakan motor ATV yang melaju kencang di hadapanku," jawab Kayla mengingat kejadian yang bau saja menimpa dirinya.
"Hah?" Raffa tidak percaya.
"Iya, Bang. Kalau dia tidak ada mungkin saat ini aku sudah terluka," jelas Kayla.
Raffa masih diam mencerna ucapan Kayla.
"Bang, bantuin dia," pinta Kayla pada sang suami.
Raffa menoleh ke arah Alex, dia pun menghampiri pria itu dan membantu Alex yang masih terbaring untuk berdiri dan duduk di pondok.
"Maafkan suamiku, Lex," lirih Kayla.
Raffa mengernyitkan dahinya saat mendengar sang istri menyebut nama pria yang wajahnya sudah lebam ulah Raffa.
"Kamu mengenali pria ini?" tanya Raffa penuh selidik.
Ada rasa cemburu di saat dia mengetahui sang istri mengenali pria lain selain dirinya.
"Iya, ini Alex. Temannya Irene, kami pernah bertemu saat di rumah Bibi Lina," jelas Kayla.
"Kamu enggak apa-apa, Lex?" tanya Kayla penuh perhatian pada pria yang selalu membuat jantungnya berdetak tak keruan.
"Tidak apa-apa," jawab Alex.
Dia menatap kesal ke arah Raffa, tapi saat mengetahui Raffa adalah suami Kayla dia mencoba berdamai dengan hatinya.
"Ya sudah, lain kali kamu harus hati-hati. Jangan ceroboh!" ujar Alex.
Alex pun melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri itu dalam diam.
Raffa menatap dalam ke arah istrinya.
"Apa yang baru saja dilakukan Kayla sehingga pria itu sampai berpesan seperti itu padanya?" gumam Raffa di dalam hati.
"Maaf, Bang. Tadi aku berjalan tidak memperhatikan ke sekitar, dan aku tidak menyadari ada motor ATV yang hendak menabrakku. Alex menarik tanganku hingga aku selamat dari tabrakan itu," jelas Kayla dengan kepala menunduk.
Dia mengerti dengan tatapan Raffa, sehingga dia berinisiatif untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Mhm, Sayang lain kali kamu harus lebih hati-hati. Jangan biasakan ceroboh karena kecerobohanmu akan membuat dirimu celaka," nasehat Raffa pada sang istri yang masih menunduk mengakui kesalahannya.
"Ya sudah, ayo kita makan! Lain kali hati-hati," ujar Raffa sambil mencubit pelan hidung Kayla gemas melihat sang istri.
Kayla langsung menghambur di pelukan sang suami.
__ADS_1
"Kamu enggak marah sama aku, Bang?" tanya Kayla yang di jawab Raffa dengan sebuah gelengan kepala.
Raffa menggandeng tangan istrinya.
"Mungkin sifat ceroboh sudah menempel dalam dirimu, untuk itu aku harus hati-hati menjagamu," gumam Raffa yang masih dapat didengar oleh Kayla.
Kayla mencubit pelan pinggang Raffa.
"Bang Raffa," gerutu Kayla sambil mengerucutkan bibirnya.
Raffa meraih pundak Kayla lalu melangkah sambil merangkul tubuh sang istri.
****
Di tempat lain. Di depan kawasan Bandara Internasional Husein Sastranegara.
Satya dan Rayna tengah berdebat dengan sengit sambil menunggu seseorang mengantarkan mobil yang biasa di pakai Satya saat berada di Jakarta.
"Aku akan pulang sendiri! Kau tidak perlu mengantarku," maki Rayna pada pria yang sedari tadi hanya tersenyum mengejek ke arah dirinya.
"Kau mau pulang sendiri, silakan! Aku akan menghubungi kakak iparmu dan mengatakan padanya bahwa adik iparnya adalah manusia yang tidak tahu terima kasih," ujar Satya tegas.
"Katakanlah padanya! Aku tidak peduli," bentak Rayna kesal.
Kekesalan Rayna terhadap Satya hanyalah bentuk usahanya menutup rasa malu yang sudah ketahuan menyukai pria yang bersamanya saat ini.
"Kamu yakin?" tanya Satya penuh penekanan.
Di dalam hatinya tengah tertawa lucu melihat tingkah anak gadis ingusan yang bersamanya.
Rayna melirik ke arah Satya yang ancang-ancang membuka ponselnya.
"Menyebalkan atau menyenangkan?" Satya semakin gencar menggoda Rayna yang masih menyembunyikan rasa malu yang melandanya.
"Bagaimana caraku terbebas dari pria aneh ini?" gumam Kayla berpikir keras.
Tak berapa lama seorang pria yang seumuran dengan Satya datang menghampiri mereka.
"Ini, Bos," ujar Pria itu sambil menyodorkan kunci mobil pada Satya sambil menunjuk ke arah mobil yang sudah terparkir tak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Terima kasih," ucap Satya.
Pria itu pun pergi meninggalkan mereka.
Tanpa aba-aba, Satya bergegas memasukkan barang-barang Rayna ke dalam bagasi mobil.
"Eh, apa yang kamu lakukan?" protes Rayna tak terima.
Setelah semua barang bawaan mereka masuk ke dalam mobil. Satya langsung menarik tangan Rayna dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Eh, lu mau ngapain?" bentak Rayna berusaha melepaskan diri dari Satya.
Namun, apalah daya seorang Rayna melawan kekuatan pria kekar itu. Satya membuka pintu mobil, dan memaksa Rayna untuk masuk.
Setelah itu dia pun masuk mobil lewat pintu kemudi, tanpa mempedulikan Rayna yang protes pria tampan itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Bandara.
Satya fokus mengendarai mobilnya, dia tidak menghiraukan gerutuan Rayna yang masih saja protes atas perlakuannya.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Satya melaju membelah jalan raya yang terlihat ramai dipadati oleh kendaraan.
"Pria macam apa kau ini, berani-beraninya memaksa seorang gadis untuk ikut denganmu, atau kamu memiliki niat jahat padaku. Hah?"
"Ya Allah, lindungi aku dari kejahatan orang-orang yang ingin menyakitiku." Rayna terus mengoceh tanpa arah.
Sementara itu Satya masih fokus dengan melajukan mobilnya, dia sama sekali tidak menghiraukan umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut gadis itu.
Sikap Satya yang cuek membuat Rayna semakin geram pada pria itu.
Setelah setengah jam perjalanan, Rayna mulai lelah mengomeli pria yang sama sekali tidak peduli dengan omelan dan makiannya.
"Astaghfirullah," lirih Satya.
Dia langsung menginjak pedal rem secepatnya saat melihat seorang nenek dan cucunya menyebrangi jalan tanpa melihat kiri dan kanan.
Sehingga hampir saja Satya menabrak mereka.
"Aaauwww," pekik Rayna sambil mengusap dahinya yang kejedot dashboard mobil.
"Lu bisa nyetir dengan baik nggak, sih!" bentak Rayna protes.
Kali ini dia benar-benar marah dengan tindakan yang dilakukan oleh Satya.
Rayna langsung menyerang Satya, dia memukul-mukul lengan Satya dengan tas selempang yang di pakainya.
"Eh."Satya bingung saat mendapat serangan dari Rayna.
Satya membiarkan Rayna memukulnya, setelah tenaga Rayna mulai melemah.
Pria kekar itu mencengkram lengan Rayna dengan erat lalu mengunci pergerakan Rayna.
Satya menatap tajam ke arah Rayna.
"Mmmpphh." Rayna mematung.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ