Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 80


__ADS_3

Raffa terdiam saat mendengar ucapan Kayla.


Dia sadar saat ini Zahra yang selalu mengganggu hari-harinya belum tentu gadis kecilnya yang hilang selama ini.


Walaupun banyak kesamaan dengan gadis kecilnya, dia harus mencari tahu fakta sesungguhnya.


Perlahan Kayla melepaskan pelukan sang suami dari tubuhnya.


"Bang, aku akan mengizinkan Bang Raffa menepati janji Bang Raffa pada gadis kecilmu tapi dengan satu syarat, kamu harus membuktikan terlebih dahulu wanita itu benar gadis kecilmu yang hilang," ujar Kayla berlapang dada.


Kayla memberi kesempatan itu, karena dia yakin hati Raffa sudah menjadi miliknya. Kayla berharap, dengan kelapangan dadanya memberi kesempatan pada Raffa akan menambah cinta Raffa padanya.


"Baiklah,aku akan mencari tahu kebenarannya. Aku takkan memberikan perhatian lebih lagi pada wanita itu sebelum aku mengetahui siapa jati dirinya sesungguhnya. Terima kasih atas pengertianmu, Sayang," ucap Raffa.


DIa pun mengecup lembut puncak kepala sang istri.


"Aku akan memperbaiki hubungan kita, karena aku tak ingin kehilanganmu," lirih Raffa.


Kayla berusaha ikhlas dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Cobaan datang menghampiri hambaNya untuk memperkuat keimanan sang hamba.


"Kamu istirahat dulu, akad nikah Rayna dan Satya akan diadakan setelah dzuhur. Aku tidak mau kamu kelelahan dan sakit," ujar Raffa.


Kayla mengangguk, lalu dia melangkah menuju tempat tidur, dia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Raffa mengikuti langkah Kayla, Raffa melepaskan hijab sang istri, dia sudah merindukan keindahan mahkota sang istri.


Setelah itu, Raffa ikut membaringkan tubuhnya di samping Kayla. Raffa memeluk tubuh sang istri dengan lembut, perlahan dia mengelus pelan punggung Kayla hingga wanita yang dicintainya itu terlelap.


Setelah memastikan Kayla tertidur, Raffa keluar dari kamar. Dia ikut bergabung dengan keluarga lainnya yang sedang mempersiapkan acara akad nikah Rayna dan Satya di rumah keluarga Bramantyo.


Arumi melihat Raffa keluar dari kamar Kayla, dia langsung menghampiri putra kesayangannya.


"Raffa!" panggil Arumi.


Raffa menoleh ke arah suara sang ibu yang memanggilnya.


"Apa, Ma," tanya Raffa heran.


Arumi menarik tangan putranya menuju balkon rumah yang terdapat di lantai dua.


Raffa menautkan kedua alisnya bingung dengan sikap wanita yang melahirkannya.


"Ada apa, Ma?" tanya Raffa lagi.


"Kamu ada masalah dengan Kayla?" tanya Arumi terus terang.


"Ih, Mama kepo," ledek Raffa.


Arumi mengerucutkan bibirnya.


"Memangnya salah, mama kepo sama masalah ank mama sendiri?" tanya Arumi cemberut.


"Mamaku yang satu ini." Raffa mencubit hidung wanita paruh baya yang sangat disayanginya itu.

__ADS_1


"Mama melihat sikap Kayla yang berbeda dari biasanya, walaupun mama tahu kalian baru saja mendapat ujian, tapi mama merasa hubungan kamu dan Kayla sedang tidak baik-baik saja," ujar Arumi panjang lebar.


"Mhm, memang aku dan Kayla sempat bertengkar, tapi sekarang masalahnya sudah selesai, Ma." Raffa mulai menceritakan akar permasalahan yang terjadi di antara mereka.


"Kamu bertemu dengan gadis yang bernama Zahra? Lalu kamu mengira dia adalah Zahra teman kamu waktu kecil tanpa mencari tahu asal usul gadis itu?" tanya Arumi menyudutkan Raffa.


"Iya, Ma. Semua salahku, aku yang terbawa suasana karena terikat dengan janjiku pada gadis kecil itu," ujar Raffa mengungkapkan isi hatinya pada wanita yang paling mengerti dirinya semenjak kecil.


"Fa, Mama dan Papa sudah mengingatkan padamu, lupakanlah Zahra karena saat ini ada hati yang harus kamu jaga, Kayla adalah wanita yang baik, kamu tidak pantas melukai hatinya," nasehat Arumi pada putra semata wayangnya.


"Iya, Ma. Kayla sudah memberikan aku peluang untuk menepati janjiku pada Zahra dengan syarat aku harus memastikan Zahra itu adalah gadis kecilku yang hilang," ujar Raffa lagi pada Arumi.


Arumi mengangguk mendengar penjelasan dari Raffa.


"Ya sudah, saat ini kamu harus memberikan perhatian lebih pada istrimu. Kewajiban suami adalah menjaga hati sang istri agar tak terluka," nasehat Arumi lagi pada putranya


Raffa mengangguk mengiyakan nasehat dari ibunya.


****


Setelah shalat dzuhur semua anggota keluar sudah berada di ruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat acara akad nikah yang akan dilakukan oleh Satya.


Sementara itu Kayla dan Rayna berada di dalam kamar dengan seorang perias kecantikan.


Rayna yang jiwanya saat ini masih terguncang, sesekali dia tenang sesekali dia mengamuk.


Saat ini Rayna mulai tenang, dia juga merasa senang dengan tanggung jawab yang ditunjukkan Satya padanya.


"Tidak ada orang yang merasa direpotkan," ujar Kayla.


"Kak, Satya sudah menunjukkan tanggung jawabnya padaku, apakah kakak masih membencinya?" tanya Rayna pada sang kakak yang sempat marah besar pada Satya.


"Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi. Yang penting kalian sudah menyadari kesalahan yang kalian lakukan," nasehat Kayla.


"Iya, Kak." Rayna mengangguk.


Di ruang tamu, Satya tengah duduk berhadapan dengan Bram selaku ayah kandung Rayna.


Bram akan menjadi wali nikah Rayna putri semata wayangnya.


Kayla melihat akad nikah yang akan berlangsung dari lantai 2.


Melihat pria yang sangat dibanggakannya langsung menjadi wali nikah sang adik membuat hati Kayla bersedih.


Di saat itu, Kayla merasakan ada jarak yang terbentang antara dirinya dan Bram, pria yang selalu dianggapnya sebagai ayah kandungnya.


Tanpa disadarinya buliran bening membasahi pipinya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Raffa yang tiba-tiba datang menghampirinya.


Raffa mengusap buliran bening yang membasahi pipi sang istri.


"Impianku sejak kecil adalah dinikahkan oleh pria yang sangat kubanggakan di dunia ini. Namun ,--" Kayla tidak menyambung kata-katanya.

__ADS_1


Raffa merangkul pundak sang istri, "Sabar ya, Sayang. Inilah takdir yang harus kita jalani, semoga kamu masih bisa berjumpa dengan orang tua kandungmu jika mereka masih hidup," ujar Raffa.


Kayla merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Bagaimana, Pak Bram? Kita mulai acaranya?" tanya penghulu pada Bram.


Bram mengangguk.


"Apakah mempelai pria sudah siap?" tanya penghulu pada Satya yang dijawab anggukan oleh Satya.


Tamu yang datang tidak terlalu banyak,karena Bram hanya mengundang orang-orang terdekat dan tokoh masyarakat.


"Baiklah, mari kita mulai," ujar Sang Penghulu.


"Saya nikahkan anak gadisku yang bernama Rayna Azzahra Bramantyo dengan mahar 10 gram emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai," ujar Bram tegas.


"Saya terima nikahnya Rayna Azzahra Bramantyo dengan mahar tersebut dibayar tunai," balas Satya dengan lantang.


"Bagaimana?" seru Penghulu menghadap pada saksi.


"SAH!" sahut dua orang saksi tegas.


"SAH!" seru penghulu.


"Alhamdulillah," sahut para tamu yang ada di ruangan tersebut.


"Alhamdulillah," lirih Raffa dan Kayla bersamaan.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2