
“Bukan urusan kamu,” ujar Alex santai.
“Ish, kasih tahu aku dong, Bang!” rengek Alita.
Gadis itu takut Alex pulang ke Pandang akan membeberkan sifat jeleknya pada semua keluarga. Alita tidak mau Om Rahman dan Bunda Hurry memarahinya.
“Sudah di bilang bukan urusan kamu, kamu masih kecil,’ ujar Alex lagi.
“Kamu enggak laporin tentang aku sama Om Rahman dan Bunda, kan?” Tanya Alita terus terang.
“Jadi kamu takut aku kasih tahu sama Om Rahman dan Bunda?” tanya Alex balik.
Alita hanya diam.
“Makanya, Dek. Kamu jangan banyak ulah, aku enggak akan buka mulut,” jawab Alex sambil menagacak-acak rambut Alita.
Alex sangat sayang sama semua saudaranya, termasuk Alita. Sikap keras yang ditunjukkan Alex pada Alita hanya ingin mendidik adiknya menjadi wanita yang lebih baik, karena di antara saudara perempuannya hanya Alita yang melenceng dan nakal.
Alex pun melangkah menuju kamar tidurnya. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dia pun bersiap-siap untuk beristirahat sejenak.
Keesokan harinya, Alex sudah siap untuk berangkat ke Padang. Dia ingin langsung meminta izin pada kedua orang tuanya untuk menikahi Irene kekasihnya sejak duduk di bangku SMA.
“Mak, Alex berangkat, ya.” Alex pamit sama Mak Ijah.
“Iya, Nak. Hati-hati, ya,” ujar Mak Ijah.
“Alita mana, Mak?” tanya Alex ketika dia teringat Alita juga ada di rumah kontrakannya.
“Oh, Alita sudah berangkat ke kampus katanya tadi,” jawab Mak Ijah.
“Oh, ya udah, Mak. Aku berangkat, ya. Nanti kalau ALita sudah pulang jangan bolehkan ke mana-mana ya, Mak,” pesan Alex pada Mak Ijah.
“Iya, Nak.” Mak Ijah mengiyakan.
“Oh iya, Mak. Satu lagi, mak harus laporin apa saja yang dilakukan Alita ke aku,” pesan Alex lagi sebelum dia benar-benar keluar dari rumah.
“Siap, Nak Alex!” seru Mak Ijah.
Alex pun berlalu menggunakan ojek online yang sudah dipesannya. Sedangkan Mak Ijah kembali melanjutkan pekerjaannya di rumah.
Sebelum waktu dzuhur Alex sudah sampai di kota Padang. Alex langsung bertemu dengan Irene di tmpat yang sudah mereka janjikan.
Dari Bandara Alex langsung menuju kafe yang mana Irene sudah menunggu kedatangannya di sana.
“Sayang,” panggil Irene melambaikan tangannya saat melihat Alex masuk ke dalam kafe.
Alex langsung melangkah mendekati Irene yang duduk di pojok kafe. Dia memilih tempat agak pojok agar merekabisa berbicara lebih privasi.
“Kamu udah lama di sini?” tanya Alex kasihan pada kekasihnya.
__ADS_1
“Lumayan, setengah jam, kamu pasti capek,” jawab Irene.
“Enggak kok, Jakarta-Padang sekarang udah dekat,” ujar Alex.
“Makasih ya, Sayang. Kamu bela-belain datang ke Padang. Aku takut Ayah nekat dan nikahin aku lagi seperti waktu itu.” Irene mencurahkan kecemasannya.
“Kali ini apa alasan Ayah kamu nekat jodohin kamu dengan pria lain?” tanya Alex heran dengan sikap Ayah kekasihnya.
“Kolega bisnis Ayah mau menanam saham di perusahaan ayah kalau Ayah bersedia menikahkan aku dengan putranya,” jawab Irene sedih.
“Astghfirullah, ayah kamu benar-benar keterlaluan. Zaman sekarang masih ada acara buat menjodohkan putrinya,” dengus Alex kesal.
“Aku juga bingung,” lirih Irene.
“Kali ini, sudah bisa dipastikan aku tidak bisa lagi kabur seperti perjodohan sebelumnya, karena aku yakin Ayah dan Ibu pasti menjagaku dengan ketat,” keluh Irene.
“Kalau masalahnya seperti ini aku harus memikirkan cara agar ayah kamu setuju menikahkan kamu dengan aku, dia pasti menolak aku karena aku hanya seorang mahasiswa yang belum jelas masa depannya,” ujar Alex mulai pusing memikirkan cara untuk menghadapi Ayah Irene.
Sejenak mereka pun terdiam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ya sudah, aku akan bicarakan masalah ini sama Ayahku, semoga ayah mau membantu untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Alex berusaha menenangkan pikirannya.
“Sayang, bagaimana kalau kita nikah lari saja,” usul Irene mulai putus asa.
“Itu tidak mungkin,” ujar Alex tidak setuju dengan keputusan Irene.
“Sayang, kamu mencintai aku, kan?” tanya Irene pada Alex.
Irene menggaruk dahinya yang tidak gatal, dia pusing dengan permasalahan yang dihadapinya saat ini.
“Maaf,”lirih Irene menundukkan kepala.
Dia sadar pertanyaan yang dilontarkannya sudah menyinggung hati Alex.
Aekx menggenggam taha Irene dengan erat. Dia menatap dalam wanita yang sudah lama mengisi hatinya itu.
“Sayang, kamu tenang dulu, ya. Aku akan berusha memperjuangkanmu. Seandainya ayah dan Bunda memberikan izin untuk kita menikah, itu artinya aku tinggal mencari uang untuk diberikan pada Ayahmu sebagai ganti kerja sama yang akan dilakukannya dengan kolega bisnisnya tersebut,” ujar Alex dengan penuh percaya diri.
“Kamu serius, Sayang?” tanya Irene memastikan.
Alex mengangguk meyakinkan wanita yang dicintainya itu.
“Baiklah,” lirih Irene penuh harap pada sang kekasih.
Setelah itu, merekapun pulang ke rumah masing-masing. Irene pulang menggunakan sepeda motornya sedangkan Alex memilih menggunakan ojek online. Dia tidak ingin merepotkan Irene untuk mengantarkan dirinya pulang.
Sebelum ashar Alex sudah sampai di rumah kediaman Hendra, saat dia tiba di rumah, Allex tak mendapati seorang pun di rumah kecuali pelayan rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
Alex memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya, dia merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak.
__ADS_1
Setelah shalat ashar, Hurry dan Agung baru pulang dari butik. Hurry kaget melihat putra bungsunya sedang duduk menonton di ruang keluarga.
“Alex?” seru Hurry.
Alex menoleh ke arah suara Bunda Hurry yang memanggil namanya.
“Bunda sudah pulang,” ujar Alex.
Dia berdiri melangkah menghampiri Bunda Hurry untuk memeluk wanita yang sudah melahirkannya.
“Kamu kapan pulang?” tanya Hurry heran.
“Tadi pagi, Bun,” jawab Alex.
Sementara itu Agung memilih langsung masuk kamar setelah melemparkan senyuman pada adiknya itu.
“Bukannya kamu kuliah? Kenapa pulang?” tanya Hurry heran dengan kedatangan putra bungsunya.
“Mhm, ada urusan yang harus aku selesaikan, Bun,” jawab Alex.
Alex sedang berusaha memikirkan cara untuk menyampaikan iatnya apda kedua orang tuanya.
“Oh, kamu sudah makan?” tanya Hurry.
“Udah, Bun,: jawab Alex.
“Ya udah, bunda bersih-bersih dulu, ya. Bentar lagi ayah kamu datang,” ujar Hurry.
Hurry melangkah masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Alex langsung melanjutkan menonton di ruang keluarga.
Saat makan malam, Hendra menatap Alex yang tampak ingin menyamapaikan sesuatu.
“Lex,” ujar Hendra saat mereka sudah menghabiskan santapan makan malam mereka.
Alex mengangkat wajahnya dan menatappria yang paling dihormati di rumahnya.
“Kamu ada masalah apa?” tanya Hendra terus terang.
Dia yakin putra bungsunya saat ini sedag memiliki masalah yang tengah dihadapinya.
“Yah, a-aku datang ke sini ingin meminta izin Ayah dan Bunda,” jawab Alex memulai memnyampaikan niatnya pulang.
“Izin apa, Nak?” lirih Hurry penasaran dengan apa yang akan diminta oleh putra bungsunya.
Selama ini Alex tak banyak kehendak, dia tidak pernah mengelu berapa pun uang yang diberikan oleh Ayahnya. Dia juga tidak banyak kehendak, karena Hendra selalu memberikan hal yang sama pada Alex apa saja yang diberikannya kepada Agung.
“Alex mau minta izin menikah, Yah, Bun,” jawab Alex jujur.
“Apa?” Hurry dan Hendra kaget mendengar permintaan putranya.
__ADS_1
Bersambung...