
"Baiklah, karena semua keluarga sudah berada di dalam ruangan ini, maka saya akan mulai membacakan wasiat terakhir Pak Bram pada ahli warisnya.
"Dengan surat wasiat ini, saya Bramantyo menyatakan memiliki aset berupa perusahaan Brama Corp dan sebuah rumah. Saya akan menghibahkan perusahaan Brama Corp pada putri sulung saya yang bernama Kayla Azzahra Bramantyo. Dan rumah akan saya berikan pada putri bungsu say yang bernama Rayna Azzahra Bramantyo."
Pengacara membacakan isi surat wasiat yang disampaikan oleh Bram di saat dia tahu bahwa dia memiliki sakit jantung yang selama ini dirahasiakannya dari keluarganya.
"Tidak mungkin!" bantah Rita tidak setuju dengan isi surat yang baru saja dibacakan oleh pengacara.
"Jika Nyonya tak percaya, Nyonya Rita silakan baca sendiri isi suratnya," ujar Rahmat menyodorkan surat yang tadi dibacanya.
Rayna hanya diam saja, dia tidak ingin mempermasalahkan harta warisan.
Bagi Rayna yang terpenting saat ini adalah bagaimana dia bisa menjalani hidup tanpa bimbingan sosok ayahnya yang sangat bijaksana.
"Puas kamu anak sial!" bentak Rita pada Kayla.
Rita tidak peduli dengan keberadaan Raffa di samping Kayla.
"Dari kasih sayangnya yang sudah lebih banyak kamu dapatkan, dan sekarang harta milik suamiku jatuh ketanganmu!" Rita memaki Kayla.
Kayla menggelengkan kepalanya, dia sendiri tak pernah berharap akan menjadi penerus perusahaan yang telah dirintis ayahnya dari awal.
"Kamu pembawa sial dalam hidupku dan putriku!" bentak Rita pada Kayla.
"Pak, bisakah isi surat wasiat itu diubah isinya?" tanya Kayla pada si pengacara.
Kayla tidak ingin banyak masalah saat hatinya masih berduka.
"Tidak bisa, Nona. Ini sudah keputusan dari almarhum Tuan Bram, tugas saya hanya menyampaikannya pada ahli waris klien saya," jawab Rahmat bersikap profesional.
"Jika anda sebagai ahli waris yang sudah berhak atas warisan itu ingin merubah isinya itu hak anda, asalkan wasiat ini dijalankan dalam beberapa tahun," ujar pengacara memberi informasi.
"Jangan munafik kamu, Anak sial!" bentak Rita lagi.
"Maaf, Bu. Kami tidak membutuhkan harta warisan dari Ayah Bram, karena saya masih sanggup untuk menafkahi kebutuhan istri saya," ujar Raffa yang sudah kesal dengan sikap Rita yang sangat membenci istrinya.
Raffa tak menyangka ibu mertuanya itu bisa berprasangka buruk pada istrinya.
Matta hatinya sudah tertutup untuk melihat sisi baik yang terlihat jelas dalam pribadi Kayla.
"Kayla ayo kita pergi," ajak Raffa pada istrinya.
Raffa muak dengan makian ibu mertuanya terhadap sang istri. Satu kali dua kali Raffa sudah cukup bersabar untuk menghormati wanita yang sudah ikut andil membesarkan istrinya.
Keberadaannya di samping Kayla tak dipedulikan oleh Rita.
"Kak, tunggu!" panggil Rayna.
Kayla dan Raffa menghentikan langkahnya. Mereka membalikkan tubuh menghadap pada sang adik.
"Aku setuju dengan pesan terakhir ayah, kita sebagai putrinya harus melaksanakan wasiat terakhir ayah," ujar Rayna mengabaikan aksi protes sang ibu.
"Jika kakak tidak mengambil andil perusahaan Ayah, siapa yang akan menghandle karyawan di sana, perusahaan butuh kakak untuk melanjutkan tugas ayah," ujar Rayna bingung.
"Kamu tenang saja, Ray. Walaupun surat wasiat sudah menyatakan perusahaan itu atas nama Kayla, untuk sementara waktu Satya bisa mengurus berbagai hal tentang perusahaan milik ayah," ujar Raffa mengambil jalan pintas.
"Tapi, Mas," bantah Rayna.
"Kamu tenang saja, Satya akan menyelesaikan masalah ini," ujar Raffa lagi.
Raffa pun menarik tangan Kayla dan melangkah keluar dari rumah kediaman Bramantyo.
"Dasar anak sial!" bentak Rita lagi mengantar kepergian Kayla dan menantunya.
Rita tidak suka Raffa bersikap seperti bos terhadap menantunya.
__ADS_1
"Cukup, Bu! Aku malu dengan sikap ibu. Apakah ibu tidak pernah melihat perlakuan mama Arumi terhadap aku dan kakak. Di rumah itu aku tidak pernah dibedakan, mereka sangat menyayangiku. Sekarang ibu sudah melukai hati Mas Raffa, dengan begitu ibu juga sudah melukai hati Mas Satya sebagai menantu ibu," ujar Rayna semakin kesal dengan sikap ibunya yang tak pernah bisa bersikap baik pada kakak angkatnya itu.
Rayna menarik tangan Satya untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia capek dan lelah melihat sikap ibunya.
****
Sesampai di Jakarta, ketiga sahabat Kayla langsung memeluk Kayla.
Mereka ikut bersedih dengan kesedihan yang dialami oleh sahabatnya.
"Kamu yang saba ya, Kay. Semoga amal ibadah ayahmu diterima Allah di sisi-Nya. Aamiin," ujar Dia menyambut kedatangan sahabatnya.
"Makasih, ya. Aku senang memiliki sahabat seperti kalian," ujar Kayla terharu.
Mereka pun masuk ke dalam asrama untuk memberikan kekuatan pada sahabatnya yang masih berduka.
Waktu terus berlalu, hari demi hari terus bergulir bergantian
Kayla dan Raffa pun kembali melanjutkan kegiatan sehari-harinya dengan kuliah.
Hari-hari Kayla terus berlalu, tapi dia masih sibuk memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa pergi ke Padang untuk menemui bunda Hurry.
"Ada apa, Sayang?" tanya Raffa heran melihat istrinya yang tengah melamun di teras kamar mereka.
"Eh." Kayla kaget dengan kedatangan sang suami yang tiba-tiba.
"Ada apa? Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu terlihat sering melamun," ujar Raffa mengkhawatirkan sang istri.
Kayla menoleh ke arah Raffa, dia menatap dalam pada suaminya. Raffa pun langsung duduk di samping sang istri.
Tak menunggu lama Kayla langsung merebahkan kepalanya di lengan kekar sang suami.
"Bang, aku kangen sama Bunda Hurry," tutur Kayla jujur.
Kayla hanya diam, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin mereka terbang ke Padang hanya untuk bertemu dengan Bunda Hurry.
"Kenapa diam? Kalau kamu mau ke Padang, Jumat sore kita berangkat." Raffa tersenyum.
Raffa mengerti suasana hati sang istri. Apa pun akan dilakukannya untuk membahagiakan istrinya.
"Serius, Bang?" tanya Kayla antusias.
Raffa mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.
Wajah Kayla yang tadi murung kini berubah ceria.
Raffa bahagia melihat ekspresi sang istri yang kembali ceria.
Kayla memeluk erat tubuh kekar sang suami.
"Makasih, Bang," lirih Kayla bahagia.
"Apapun akan aku lakukan untuk kamu, Sayang. Senyum di wajahmu adalah semangat hidupku," ujar Raffa bahagia.
Sesuai janji Raffa pada istrinya, kini Kayla dan Raffa bersiap-siap untuk berangkat ke Padang.
Sepanjang perjalanan, Kayla bergelayut manja di lengan kekar sang suami.
Kayla tak sedikitpun membiarkan Raffa jauh darinya.
Kayla terus menempel di tubuh sang suami hingga mereka sampai di Padang.
"Assalamu'alaikum," ucap Raffa dan Kayla saat mereka telah sampai di teras rumah kediaman Surya.
Arumi dan Surya yang sedang duduk santai di ruang keluarga heran saat mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka.
__ADS_1
"Kayla, Raffa, kalian?" Arumi kaget saat mendapati anak dan menantunya berada di dalam rumahnya.
"Iya, Ma." Raffa dan Kayla tersenyum melihat Arumi yang kaget dengan kedatangan mereka.
"Kalian enggak kasih kabar mama kalau mau pulang?" tanya Arumi
"Surprise, Ma," jawab Raffa.
Kayla dan Raffa tersenyum melihat ekspresi Arumi.
Raffa dan Kayla memang tidak memberitahukan kedua orang tuanya tentang kepulangan mereka.
"Kamu udah makan, Sayang?" tanya Arumi pada Kayla dan Raffa.
"Udah, Ma. Tadi Kayla udah kelaparan di jalan, jadi kami makan di luar sekalian shalat isya," jawab Raffa.
Raffa dan Kayla ikut nimbrung bersama Arumi dan Surya.
"Ada acara apa kalian pulang?" tanya Surya yang ikut heran dnegan kedatangan anak dan menantunya.
"Kayla kangen mama sama bunda Hurry," jawab Raffa.
Arumi merasa terharu mendengar jawaban putranya, dia memang sangat merindukan Kayla dan ternyata menantunya juga merindukan dirinya.
Raffa dan Kayla mengobrol sejenak dengan kedua orang tua mereka sebelum mereka masuk ke dalam kamar.
Keesokan harinya Kayla dan Raffa datang ke rumah Bunda Hurry, sebelumnya Raffa sudah menghubungi Agung bahwa mereka ingin berkunjung ke rumahnya.
"Sayang, Bunda kangen banget sama kamu?" lirih Hurry sambil memeluk Kayla saat mereka bertemu di rumah Hurry.
"Aku juga kangen sama Bunda," ujar Kayla melepas rasa rindunya.
Hurry mengajak Kayla masuk dan duduk di ruang keluarga agar mereka dapat mengobrol dengan santai. Sedangkan Raffa meminta izin untuk pergi karena ingin berkumpul dengan teman-temannya.
Dia ingin memberi ruang pada dua wanita beda usia tersebut melepas rindu.
"Bun, kedatangan aku ke sini ingin mempertanyakan sesuatu," lirih Kayla.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1