
Kayla membalikkan tubuhnya lalu memeluk Rayna, dia menyadari tatapannya pada Satya membuat semua orang di kamar Rayna merasa curiga.
"Aku wanita baik-baik," isak Rayna lagi.
"Dek, ini kakak. Apa yang terjadi?" tanya Kayla pelan.
Rayna mulai sadar dengan keberadaan Kayla di sampingnya.
"Ya udah, kamu tenang dulu, ya," bujuk Kayla.
Melihat situasi Rayna yang mulai tenang, Bram mengajak besannya keluar dari kamar putrinya.
Satya dan Raffa juga ikut keluar bersama kedua orang tua mereka, tinggallah Kayla dan Rayna di kamar.
"Maaf, Pak, Bu. Kedatangan kalian malah di sambut dengan hal yang tidak menyenangkan," ujar Bram merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Pak Bram. Saya mengerti saat ini kondisi Rayna. Satya sudah menceritakan semuanya pada kami," sahut Surya.
"Begitulah, Pak. Kami sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri kami, kami sedang menyelidiki apa sebenarnya yang menyebabkan Rayna seperti ini." Bram menatap nanar ke depan.
Bram sangat terpukul dengan kondisi putrinya saat ini.
"Iya, Pak. Mungkin ini ujian yang harus kita hadapi, saat ini yang bisa kita lakukan hanya bersabar dan berdo'a," nasehat Surya dengan bijaksana.
"Iya, Pak." Arumi menimpali.
"Benar, Pak. Kami akan berusaha untuk bersabar dengan ujian yang diberikan Allah pada kami sekeluarga," ujar Bram.
Bi Nur datang membawakan minuman, dan beberapa cemilan lalu meletakkan makanan dan minuman tersebut di atas meja.
"Silakan, Pak, Bu," ujar Rita pada besannya.
Arumi dan Surya mengangguk. Mereka meraih cangkir teh lalu menyeruput sedikit teh yang tersedia.
"Pak Bram, kami sengaja langsung datang ke sini untuk menanggapi cerita yang disampaikan Satya kemarin pada kami," ujar Surya dengan bijaksana.
"Sebelumnya saya minta maaf kepada Pak Surya dan Buk Arumi, musibah yang kami alami saat ini sudah melibatkan keluarga Pak Surya," ujar Bram merasa bersalah.
"Kami tidak merasa keberatan dengan permintaan Satya, karena kami sendiri sudah mengenal Rayna dengan baik. Satya juga sudah menyatakan bahwa dia mencintai Rayna." Surya menjeda perkataannya.
"Berhubung Satya merupakan tanggung jawab kami, maka dari itu kami langsung datang ke sini untuk menyelesaikan berbagai urusan yang berkaitan dengan putra dan putri kita," ujar Surya terus terang menyampaikan tujuan kedatangannya.
"Saya sebagai ayah dari Rayna mengucapkan terima kasih atas niat baik yang Pak Surya lakukan terhadap putri kami," ujar Bram.
"Tidak perlu sungkan, Pak. Saya minta kita dapat melakukan pernikahan mereka secepatnya, walaupun resepsinya kita undur hingga Rayna merasa lebih sehat," ujar Surya terus terang.
"Baik, Pak. Satya juga sudah menyampaikannya kepada kami, semoga Rayna bisa membaik dan besok kita bisa melakukan akad nikah mereka," ujar Bram.
"Bagus kalau begitu," seru Surya bahagia.
Surya menatap wajah tampan putra angkatnya, terlihat Satya mengusap wajahnya sambil mengucapkan rasa syukur.
****
"Kak, kapan kakak datang?" tanya Rayna yang sudah mulai tenang.
"Aku baru saja sampai, apa yang terjadi, Dek?" tanya Kayla langsung.
Kayla tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengetahui masalah yang sedang dihadapi oleh sang adik.
"Kak, Jordy. Pria itu." Rayna kembali terisak.
Kayla mengelus lembut kepala adiknya.
"Tenanglah, aku di sini, katakan apa yang dilakukan Jordy?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Dia, dia. Arrrgghh!" Tiba-tiba Rayna kembali histeris.
"Tidak, aku wanita baik-baik!" teriak Rayna.
Kayla panik melihat Rayna yang kembali histeris, dengan susah payah Kayla berusaha menenangkan Rayna, tapi tenaganya yang belum sepenuhnya pulih tak dapat melawan amukan Rayna.
Satya membuka pintu kamar, dia langsung mendekati Rayna. Satya memeluk tubuh Rayna.
"Ray, tenanglah!" bisik Satya.
Kayla menatap marah ke arah Satya.
"Lepaskan Rayna! Kamu bukan muhrimnya!" bentak Kayla pada pria yang tengah memeluk adiknya.
Saat ini Kayla sangat marah pada Satya, karena dia yakin yang membuat adiknya seperti ini adalah Satya.
"Satya, pria itu, dia menggangguku," lirih Rayna mengadu pada pria yang kini tengah berada dalam pelukannya.
Kayla tak percaya melihat sikap Rayna pada pria yang sudah merenggut kesuciannya.
"Aauww," pekik Kayla tiba-tiba dia merasakan sakit di perutnya.
Raffa berlari menghampiri sang istri saat mendengar teriakkan wanitanya.
"Ada apa, Kay?" tanya Raffa panik.
"Sakit, perutku," lirih Kayla memegangi perutnya.
Raffa merangkul Kayla.
"Aaahh, sakit." Kayla kembali mengaduh kesakitan.
"Ada apa, Fa," tanya Arumi khawatir melihat Kayla yang merasa kesakitan.
"Raffa juga tidak tahu, Ma. Kayla bilang perutnya sakit," jawab Raffa bingung.
"Raffa, cepat bawa Kayla ke rumah sakit!" perintah Arumi panik.
Arumi berlari ke tempat, Surya dan yang lainnya berkumpul.
"Pa, Kayla. Kita harus bawa Kayla ke rumah sakit sekarang juga," ujar Arumi panik pada suaminya.
"Ada apa dengan Kayla?" tanya Surya dan Bram serentak.
"Tidak tahu, Pa. Ayo!" seru Arumi.
Surya pun berdiri saat melihat Raffa sudah menggendong Kayla.
"Kayla, kamu kenapa, Nak?" lirih Bram sedih melihat wajah Kayla yang pucat menahan rasa sakit di perutnya.
"Pak, Bram. Biar saya yang membawa Kayla ke rumah sakit," seru Surya.
Dia pun bergegas mengikuti langkah Raffa yang sudah menuruni anak tangga.
"Ya Allah, apalagi yang ujian yang Kau berikan kepada kami," gumam Bram menghela napas.
Pria paruh baya itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Rita menghampiri sang suami. "Sabar, Yah," lirih Rita berusah menenangkan sang suami.
Sementara itu Surya langsung melajukan mobilnya setelah Raffa dan Kayla masuk ke dalam mobil.
Dia melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, di tengah jalan mereka terjebak macet, karena bertepatan jam pulang kantor.
"Sakiit," lirih Kayla terus-terusan.
__ADS_1
Wanita itu benar-benar tidak sanggup lagi merasakan sakit yang di alaminya.
"Sabar ya, Sayang," ujar Arumi mengelus lembut kepala menantu kesayangannya.
Kayla meremas lengan Raffa tak kuat menahan rasa sakit yang menggigit.
Keringat dingin pun mulai mengucur di pelipis wanita itu.
"Bang, aku tidak kuat lagi." Kayla mulai mengeluh pada sang suami.
Raffa merasa kasihan melihat sang istri. Dia membuka jendela mobil. Dari kejauhan terlihat sebuah klinik tak terlalu jauh dari posisinya.
Raffa langsung membuka pintu mobil lalu mengangkat Kayla keluar dari mobil.
Dia menggendong sang istri menembus keramaian jalanan kota yang padat.
Raffa tak lagi memperdulikan tatapan mata sekitarnya, saat ini dalam pikirannya hanyalah bisa lekas sampai di rumah sakit secepatnya.
"Suster!" teriak Raffa saat dia sudah sampai di depan IGD.
Seorang perawat datang menghampiri mereka.
"Tolong istri saya!" seru Raffa.
"Mari, Tuan. Baringkan di sini," perawat mengarahkan Raffa untuk membawa Kayla ke ruang pemeriksaan.
Raffa membaringkan tubuh sang istri di tempat tidur. Tak berapa lama seorang Dokter jaga datang untuk memeriksa Kayla.
Raffa menunggu Kayla di luar ruang pemeriksaan. Dia melangkah mondar mandir menunggu dokter memeriksa sang istri.
"Bagaiman, Fa?" tanya Arumi menghampiri putranya.
Raffa hanya menggelengkan kepalanya.
"Dokter masih memeriksa Kayla, Ma," jawab Raffa.
"Ya Allah, lindungilah menantuku," lirih Arumi memohon pertolongan pada Sang Maha Kuasa.
Setengah jam berlalu, dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.
Bergegas Raffa menghampiri Sang Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Raffa pada Dokter tak sabar ingin mengetahui keadaan Kayla.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ