Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 167


__ADS_3

Raffa menghentikan mobilnya di depan gedung Fakultas Syari’ah. Dia menoleh ke arah istrinya.


“Sayang, aku antar sampai di sini aja, ya,” ujar Raffa pada sang istri.


“Iya, Sayang. Enggak apa-apa, lagian aku kan masih bareng sama Rayna dan Fitri,” ujar Kayla.


“Ya udah, kamu hati-hati, ya.” Raffa mengecup puncak kepala istrinya.


"Ciee, jiwa jomblo diriku meronta," ujar Fitri sebelum dia turun dari mobil.


Raffa tersenyum ke arah Fitri.


"Mau aku carikan jodoh buat kamu?" tanya Raffa menggoda Fitri.


"Jangan, Mas. Lebih enak jomblo, santai dan bebas," jawab Fitri menggelengkan kepalanya.


Fitri dan Rayna turun dari mobil terlebih dahulu. Mereka memilih untuk menunggu Kayla di luar mobil.


Rayna berangkat ke kampus bersama Raffa karena saat ini Satya tengah berada di Bandung.


"Aku keluar ya, Bang. Kasihan mereka nungguin aku," ujar Kayla.


Kayla pun meraih tangan kekar sang suami, dia menciumi dan menyalami tangan sang suami.


Setelah itu Kayla keluar dari mobil milik sang suami.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam gedung kelas Fakultas Syari'ah. Di pintu gedung, ketiga sahabat Kayla sudah menunggunya di sana.


"Kayla!" panggil Dian sambil melambaikan tangannya.


"Dek, Fit, aku gabung sama teman-teman aku, ya," ujar Kayla.


"Iya, Kak. Kami langsung ke kelas aja," ujar Rayna.


Mereka pun berpisah, Rayna dan Fitri melangkah menaiki anak tangga menuju lantai 3 kelas mereka hari ini.


"Hei, gimana udah selesai tugas kemarin?" tanya Kayla memulai pembicaraan dengan ketiga sahabatnya.


"Udah, dong," jawab Dian, Gita dan Lisa serentak.


"Duh, berarti tinggal aku aja, dong. Kita ke kelas, yuk!" ajak Kayla.


Dia belum menyelesaikan semua tugas-tugasnya karena masih ada tugas negara yang harus dilakukannya di rumah sampai dia lupa dengan tugas-tugas kampusnya.


"Emang susah, ya. Nikah sambil kuliah," gumam Dian pelan.


Namun, Kayla, sahabatnya masih dapat mendengar apa yang diucapkannya.


"Di bilang susah sih enggak, tapi yang sedikit repot," sahut Kayla menanggapi ocehan Dian tadi.


"Emangnya kenapa, Yan. Kamu mau nikah juga kayak Kayla?" tanya Gita terus terang.


"Mhm," gumam Dian.

__ADS_1


Wajahnya seketika berubah menjadi merah, dia mengingat pertemuannya dengan pria yang dijodohkan dengannya.


Entah mengapa hari-harinya kini terisi dengan wajah tampan pria yang memiliki brewok halus di pipinya


"Kamu kenapa, Yan?" tanya Lisa heran melihat Dian tiba-tiba tersenyum sendiri.


"Yan, are you oke?" tanya Kayla heran melihat tingkah Dian.


Kayla dan teman-temannya saling melempar pandangan, mereka heran dengan sikap Dian tidak seperti biasanya.


"Eh." Dian tersentak dari lamunannya yang tengah membayangkan wajah pria sholeh yang sekarang menjadi calon suaminya.


"Yuk, ke kelas. Aku belum selesaikan tugas," ajak Kayla.


Sejenak mereka melupakan tingkah Dian yang aneh.


Sesampai di kelas Kayla buru-buru mengerjakan tugasnya.


Tak berapa lama tugas Kayla selesai, dosennya pun masuk kelas. Mereka mengikuti mata kuliah dengan baik hingga waktu istirahat pun tiba.


Di saat istirahat, Kayla dan teman-temannya memilih untuk makan siang di kantin.


Seperti yang dikatakan Raffa dia akan selesai kuliah nabati setelah jam 3. Jadi Raffa juga sudah berpesan pada Kayla untuk makan siang sendiri tanpa dirinya.


Keempat wanita hijabers itu melangkah menuju kantin. Gita dan Lisa sibuk bercerita tentang cowok-cowok keren yang ada di kampus mereka.


Mereka hanya sekadar kagum dan tidak lebih dari itu. Kayla yang sudah memiliki pujaan hati tak tertarik dengan pembahasan Gita dan Lisa.


"Yan, kalau kamu mau nikah. Dari sekarang atuh dilirik-lirik calonnya," ujar Gita iseng ingin menggoda Dian yang sedari tadi hanya diam mendengar ocehan dirinya dan Lisa.


"Ya sekali-sekali kita bahas kaum Adam kenapa sih, Yan," gerutu Lisa.


"Kalaupun enggak diomongin, yang nama jodoh juga takkan ke mana," celetuk Dian.


"Emangnya kamu udah punya jodoh gitu, Yan?" Gita heran mendengar ucapan Dian.


"Hah?" Dian melototkan matanya.


Wajahnya kini sudah memerah seperti udang rebus.


"Yan, kamu kenapa tiba-tiba aneh gini, sih?" tanya Kayla sambil duduk di kursi yang ada didekatnya.


Karena keasyikan mengobrol sambil jalan, tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di kantin.


Keempat wanita itu mengambil posisi masing-masing.


"Mhm, sebenarnya kemarin waktu Ayah dan Ibu datang ke Jakarta, mereka mau menjodohkan aku sama seseorang," ujar Dian mula bercerita.


"Hah? Kamu serius?" tanya Gita antusias.


Dia tak menyangka temannya akan sold out lagi.


"Iya," jawab Dian mengangguk.

__ADS_1


"Terus kamu terima perjodohan itu, Yan?" tanya Kayla.


"Mhm," gumam Dian sambil mengangguk.


Dian mengiyakan pertanyaan Kayla.


"Kamu yakin sama pria itu?" tanya Kayla khawatir.


"Saat pria itu melihat aku, dia yang awalnya ingin menolak perjodohan itu langsung setuju. Katanya aku adalah cinta pertamanya," jelas Dian.


"Berarti dia pernah ketemu sama kamu sebelumnya, di mana?" tanya Lisa mulai penasaran.


Sesaat mereka lupa untuk memesan makanan untuk mereka.


"Aku juga enggak tahu, katanya dia,--" Dian sengaja menggantung ucapannya.


"Dia apa?" Gita semakin penasaran.


"Dia Abangnya Kayla," jawab Dian tersipu.


"Apa?" Kayla tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dian.


"Benar, aku enggak bohong. Aku ingat wanita yang membawanya ke pertemuan itu bunda kamu, Kay." Dian mengingat peristiwa itu.


"Alhamdulillah, berarti kamu calon kakak iparku, Yan," ujar Kayla semangat.


"Alhamdulillah, teman aku sol out lagi. Aku kapan, ya lakunya?" oceh Gita mempertanyakan kapan jodohnya datang menghampiri dirinya.


"Tunggu aku selesai kuliah S2," sahut seseorang yang berada di belakang Gita.


Gita membalikkan tubuhnya untuk melihat pemilik suara yang baru saja menjawab pertanyaan darinya.


Gita memutar bola matanya saat melihat Nick sedang duduk sendiri tepat di belakangnya.


Nick tersenyum ke arah Gita.


"Kamu masih sabar nungguin aku, kan?" tanya Nick terus terang pada Gita.


Selama ini dia memendam rasa cintanya pada gadis sederhana itu. Gaya bicara ceplas-ceplos dan selalu berpenampilan apa adanya.


Jantung Gita berdegup dengan kencang, wajahnya memerah bagaikan tomat masak. Tiba-tiba dia salah tingkah dan tidak tahu mau berbuat apa.


Ketiga sahabat Gita tersenyum melihat tingkah sang sahabat.


Akhirnya, Gita memilih untuk menundukkan kepalanya hingga Nick meninggalkan tempat itu.


Sebelum pergi, Nick berhenti tepat di samping Gita.


"Aku harap kamu bisa menunggu aku siap untuk menikahimu, bagiku kamu adalah cinta pertamaku," ujar Nick.


Setelah itu Nick pun berlalu meninggalkan kantin.


"Nah, kamu juga mau sold out tuh, Git. Lha aku?" Lisa mengoceh seorang diri.

__ADS_1


"Buat aku asalkan sahabatku bahagia. Aku juga ikut bahagia," ujar Lisa tersenyum bahagia.


bersambung...


__ADS_2