
"Kenapa, Pa?" tanya Arumi heran melihat Surya yang terdiam di ambang pintu ruangan.
"Raffa, Kayla?" lirih Surya tampak bingung.
"Kayla sama Rafa kenapa, pa?" tanya Arumi langsung panik.
Arumi mendorong tubuh Surya, dia berusaha masuk ke dalam ruangan, ingin mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.
"Raffa, Kayla," teriak Arumi mulai cemas karena tidak mendapati putra dan menantunya di ruangan tersebut.
Rafa dan Kayla kaget mendengar teriakan Arumi. mereka saling beradu pandang.
"Ma Ma," lirih Raffa dengan suara yang pelan tetapi masih dapat didengar oleh Arumi.
"Fa, kamu di mana, Nak?" tanya Arumi sambil menguatkan Indra pendengarannya.
"Kami di sini, Ma," ujar Raffa berusaha mengeraskan suaranya.
Arumi dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan, mereka mengedarkan pandangan mencari sosok Raffa dan Kayla.
"Astaghfirullahaladzim," pekik Arumi tak percaya putra dan menantunya kini tengah berada di lantai.
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Arumi panik.
Arumi, Hurry, Surya, dan Hendra heran dengan apa yang terjadi pada sepasang suami istri tersebut.
Surya dan Hendra langsung menolong Raffa untuk naik ke atas tempat tidur sedangkan Arumi dan Hurry membantu Kayla untuk naik ke tempat tidurnya.
“Apa yang terjadi Raffa?” tanya Surya meminta penjelasan.
“Mhm, tadi itu aku ingin pindah ke tempat tidur Kayla. Eh, taunya aku terjatuh dari tempat tidur. Melihat aku sudah berada di lantai, Kayla langsung turun dari tempat tidur ingin menolongku, tapi karena kami sama-sama dalam keadaan lemah, Kayla juga ikut jatuh. AKhirnya kami pasrah untuk berbaring di sini sampai ada orang yang bisa membantu kami,” jelas Raffa sambil tersenyum melirik istrinya.
Mereka berdua merasa malu atas kekonyolan yang baru saja menimpa mereka.
“Ya ampun, hehe.”
Mereka pun tertawa mendengar penjelasan Raffa.
“Seharusnya kita tadi tidak meninggalkan mereka berdua.” Arumi menepuk jidatnya.
Dia merasa bersalah karena dialah yang memiliki ide untuk meninggalkan Kayla dan Raffa. Dia tak menyangka hal ini akan dialami oleh putra dan menantunya.
__ADS_1
“Trus kalian, enggak apa-apa, kan?” tanya Arumi mencemaskan putra dan menantunya.
Arumi khawatir mana tahu terjadi sesuatu pada mereka berdua karena terjatuh tadi.
“Kami enggak apa-apa kok, Ma,” jawab Kayla.
Dia masih tersenyum lucu mengingat kejadian tadi.
****
Sesampai di Bandara, Raymond dan Alita pamit pada Alex dan Irene.
“Thanks, Bro,” ucap Raymond pada Alex.
“Sama-sama,” sahut Alex.
Mereka pun berjabat tangan perpisahan. Alita dan Irene tak banyak bicara karena mereka memang tidak terlalu dekat.
Setelah Raymond dan Alita masuk ke dalam Bandara. Alex dan Irene langsung pulang ke rumah Irene, awalnya sepasang suami istri ini juga ingin berangkat ke Jakarta bersama. Raymond dan Alita, tapi Ibu Irene meminta mereka menginap satu hari sebelum berangkat ke Jakarta sehingga mereka pun terpaksa membatalkan keberangkatan hari ini dan diundur hingga dua hari ke depan.
“Sayang, Kayla beruntung, ya. Mendapatkan suami sebaik dan sekaya Raffa,” ujar Irene membuka pembicaraan dengan Alex di perjalanan pulang dari bandara menuju rumah kediaman keluarga Wisnu.
Irene mengernyitkan dahinya bingung melihat ekspresi sang suami yang kini sudah bermuka masam.
“Kamu apaan, sih? Cemburu?” tanya Irene tersenyum lucu melihat Alex.
“Ya iyalah cemburu, suami mana coba yang enggak cemburu di saat istrinya mengagumi pria lain,” ujar Alex ketus.
“Hahaha, kalau kamu cemburu itu artinya kamu cinta banget sama aku,” kekeh Irene sambil tersenyum.
“Kalau aku enggak cinta sama kamu, mana mau aku bawa kabur anak gadis orang. Terus kalau aku enggak cinta sama kamu mana mungkin aku mau menikahi kamu dengan berbagai cobaan untuk menghadapi kedua orang tuamu,” ujar Alex.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Irene manja.
Irene pun reflek mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami, lalu dia mengecup singkat pipi Alex.
“Aku sayang, Kamu,” lirih Irene dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Eh, kamu nakal, ya?” ujar Alex menatap dalam pada istrinya.
“Nakal sama suami sendiri enggak dosa, bahkan malah dapat pahala,” ujar Irene membela diri.
__ADS_1
Sambil fokus mengendarai mobil, Alex mengelus lembut pipi mulus sang istri.
“Iya, Sayang. Semoga Allah meridhoi pernikahan kita ini dan takkan berpisah hingga maut datang menghampiri,” ujar Alex.
Tiba-tiba Alex ingat bagaimana dia bisa mendapatkan sang istri. Semua adalah karena kebaikan Raffa dan keluarganya. Alex bersyukur memiliki kakak ipar sebaik Raffa.
Asyiknya mengobrol membuat mereka lupa bahwa mereka sudah sampai di depan kediaman pak Wisnu. Alex menghentikan mobilnya, lalu mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah kedua orang tua Irene.
“Assalamu’alaikum,” ucap Irene sebelum masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Nur.
Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah, mereka ikut bergabung dengan Lina dan Rita yang duduk di ruang keluarga.
"Ren, seharusnya kamu itu enggak usah pacaran dulu," ujar Rita tiba-tiba tanpa memikirkan perasaan Alex yang juga berada di sana.
"Maksud tante apaan?" tanya Irene kesal mendengar ucapan adik dari ibunya itu.
"Iya coba aja kalau dulu kamu nggak pacaran terus kamu pasti akan menikah dengan Raffa, dan sudah pasti kamu yang menikmati segala kekayaan Rafa dan keluarganya.
Lagi-lagi Rita tidak memperdulikan perasaan Alex yang juga berada di ruang keluarga itu.
Seketika wajah Alex berubah, dia mulai merasa tidak nyaman berada di ruang keluarga itu bersama ibu mertuanya dan adik mertuanya.
Lina hanya bisa diam saja mendengar ucapan sang adik, sebenarnya dia juga setuju dengan ucapan Rita, tapi dia lebih memiliki perasaan dia tetap menjaga perasaan sang menantu.
"Aku nggak peduli, Tante. yang penting aku bisa hidup bahagia bersama orang yang aku cintai bukan bersama orang yang sama sekali tidak kucintai," ujar Irene menanggapi ucapan Kayla.
Irene tidak menyangka Rita bisa terus terang menyampaikan ketidaksukaannya terhadap Alex sebagai suami yang sudah sah di mata hukum dan agama bagi Irene.
Kini Alex hanya bisa diam saja, dia tidak ingin menanggapi kata-kata yang keluar dari mulut adik dari ibu mertuanya itu.
"Sekarang kamu sudah sah jadi istrinya Alex, apakah kamu tahu apa pekerjaannya terus kamu yakin dia bisa menafkahi kamu lahir batin dengan berkecukupan?" tanya Rita dengan mulutnya yang tajam.
"Kamu coba lihat Kayla, kalaupun suaminya hanya tidur makan, sudah pasti mereka akan tetap bisa makan karena kekayaan ayah mertua Kayla termasuk orang terdepan dalam menjalani berbagai bisnis yang ditekuninya." Rita sama sekali tidak mau diam.
"Cukup!" bentak Alex.
Alex tak bisa lagi menahan penghinaan dari adik ibu mertuanya.
Bersambung..
__ADS_1