Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 271


__ADS_3

Reza menatap seorang wanita yang melewati resto, dia melangkah mencoba mengikuti wanita tersebut.


Dia yakin wanita yang baru saja dilihatnya adalah Lisa.


Tak berapa lama Reza mengikuti wanita tersebut masuk ke dalam sebuah kamar hotel.


"Lisa!" pekik Dian dan Kayla saat temannya baru saja sampai.


Dian dan Kayla berdiri lalu menghampiri Lisa, mereka memeluk sahabat mereka dengan sangat erat.


"Kami merindukan kamu, Lisa," lirih Dian.


"Aku juga merindukan kalian," balas Lisa.


Mereka pun melangkah mendekati Gita yang sedang di make over oleh salah satu MUA artis yang sengaja disewa untuk menghias pengantin hari ini.


Ketiga wanita itu pun melangkah menuju tempat tidur yangada di kamar tersebut.


“Aduh satu tahun enggak ketemu, sahabatku ini semakin cantik aja,” ujar Kayla memuji Lisa yang terlihat semakin anggun dan berwibawa.


“Ah, apaan sih? Biasa aja kali,” ujar Lisa malu.


“Ngomong-ngomong kamu udah dapat pengganti Reza belum, Lis?” tanya Dian penasaran.


Dian merasa kasihan pada sahabatnya, dan ingin sang sahabat mulai membuka hati untuk pria lain selain Reza.


“Mhm, untuk saat ini belum punya. Tapi, aku sudah cerita dengan kakak senior yang sama-sama dosen. Dia ingin mencarikan jodoh buat aku,” jawab Lisa dengan tersenyum.


Sepertinya Lisa sedang mencoba membuka hati terhadap pria lain dengan menyerahkan pada rekannya yang sesama dosen.


“Oh, begitu. Baguslah kalau begitu, kami senang mendengarnya. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik dalam hidup kamu,” ujar Kayla setuju dengan sikap yang diambil oleh sahabatnya itu.


Gita ikut tersenyum mendengar cerita dari sahabatnya, dia berharap Lisa juga segera menikah setelah dirinya menikah, supaya Lisa tak merasa kesepian setelah semua sahabatnya sudah menentukan pilihan hidup masing-masing.


“Done,” ujar sang MUA setelah pekerjaannya selesai.


“Amazing, sahabatku cantik banget,” puji Lisa.


Gita tersenyum mendnegar pujian dari sahabatnya.


Balutan gaun pengantin berwarna putih dengan hijab yang sangat anggun membuat Gita terlihat sangat cantik dan mempesona.

__ADS_1


“Foto, yuk,” ajak Lisa yang siap mengeluarkan ponselnya.


“Yuk,” sahut Dian dan Kayla setuju.


Keempat wanita itu pun berpose dengan berbagai gaya untuk mengabadikan moment penting dalam hidup Gita.


Mereka asyik mengobrol dan berfoto tanpa mengingat waktu bahwa acara akad nikah akan segera dilaksanakan.


Tak berapa lama, Ibu Gita datang menjemput putrinya.


“Eh, kalian di sini,” ujar Ibu Gita pada ketiga sahabat putrinya.


“Iya, tante,” jawab mereka serentak.


“Ya udah, kita turun, yuk. Akad nikah akan dilaksanakan,” ujar Ibu Gita.


“Siap, Tante,” seru Lisa.


Lisa pun menggandeng tangan Gita dan menggiring sahabatnya menuju ballroom tempat acara akad nikah akan dilaksanakan.


Saat mereka sampai di pintu ballroom, smeua mata tertuju kepada empat wanita yang sangat anggun. Raffa yang berada tak jauh dari pintu langsung menarik Kayla, begitu juga dnegan Agung, dia menarik Dian sehingga kini Lisa lah yang tengah mengantar Gita menuju kursi yang akan ditempati oleh mempelai wanita.


Lisa terus melangkah mengantarkan Lisa duduk tepat di samping Nick yang kini menunduk menunggu acara yang sangat sakral dalam hidupnya.


Setelah mengantar Gita, Lisa pun melangkah mundur dan mencari tempat duduk yang kosong di ruangan itu.


Mata Lisa tertuju pada sebuah kursi kosong, dia melangkah menuju kursi tersebut tanpa memperhatikan siapa yang duduk di sampingnya karena dia merasa sangat malu melangkah seorang diri.


Lisa duduk di kursi kosong itu lalu mulai memperhatikan jalannya acara. Dia melihat haru pada sepasang calon pengantin yang mampu bertahan hingga akhirnya mereka dapat bersanding di pelaminan.


“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” ucap seorang MC mulai membacakan urutan acara.


Satu per satu urutan acara dibacakannya hingga akhirnya prosesi yang paling mengharukan tiba. Kedua mempelai meminta izin pada kedua orang tua mereka. Lantunan music yang sangat mengharukan, membuat suasana semakin merasuk ke hati semua tamu yang datang.


Tanpa disadarinya Lisa ikut menangis, dia mengusap air matanya dengan ujung hijabnya. Melihat apa yang dilakukan oleh Lisa, seseorang menyodorkan tisu padanya.


Lisa mengambil tisu itu tanpa menoleh pada orang yang sudah berbaik hati memberikan tisu padanya. Lisa masih saja hanyut dalam keharuan yang ada di ruangan tersebut.


“Acara selanjutnya adalah acara yang kita tunggu-tunggu, ijab Kabul yang akan di pandu oleh bapak penghulu,” ujar pembawa acara.


“Wahai mempelai wanita, apakah kamu siap untuk dinikahkan?” tanya sang penghulu pada mempelai wanita.

__ADS_1


Gita hanya diam dengan memberi sebuah anggukkan.


“Baiklah, kalau begitu acara ijab Kabul mari kita mulai,” ujar penghulu.


Penghulu pun mulai menuntun wali dan mempelai pria untuk melaksanakan acara yang paling mendebarkan hati Nick. Ayah Gita meraih tangan Nick lalu mereka berjabat tangan.


“Saya nikahkan putriku yang bernama Gita Khairunnisa binti Sulaiman dengan mahar 10 gram emas 24 karat serta seperangkat alat shalat dibayar tunai,” ujar Ayah Gita mengucapkan lafaz ijab.


“Saya terima nikahnya Gita Khairunnisa binti Sulaiman dengan mahar 10 gram emas 24 karat serta seperangkat alat shalat dibayar tunai,” balas Nick dengan satu nafa dia mengucapkan lafas Kabul.


“Bagaimana saksi?” tanya penghulu pada dua saksi yang duduk tidak jauh dari posisi mereka.


“Sah!” seru kedua saksi tersebut serentak.


“Alhamdulillah,” sahut tamu yang datang.


Setelah itu, penghulu menuntun semua tamu membaca do’a untuk keharmonisan keluarga kedua mempelai yang baru saja dimulai.


Usai berdo’a semua tamu disuguhkan dengan hidangan yang sudah disediakan.


Lisa hendak berdiri dari posisinya, tapi seketika dia teringat dengan tisu yang diberikan oleh seseorang yang berada di sampingnya.


Lisa menoleh ke samping.


“Te-ri-ma ka-sih,” lirih Lisa saat hendak berterima kasih pada orang yang sudah berbaik hati berbagi tisu dengannya.


Dia kaget saat mengetahui orang yang berada di sampingnya tadi adalah Reza.


Jantungnya berdegup dengan kencang saat mendapati sosok yang selama ini masih mengisi ruang hatinya.


"Terima kasih," ujar Lisa lagi lalu dia berlalu meninggalkan Reza.


Lisa yang sudah tahu bahwa pria yang dicintainya itu sudah memiliki istri, dia memilih untuk menjauh dari pria tersebut.


Sebagai seorang wanita baik-baik, Lisa tidak ingin merusak hubungan Reza dengan istrinya, dia tidak ingin dicap sebagai seorang pelakor.


"Maaf, aku harus pergi," lirih Lisa lalu dia meninggalkan Reza yang sejak tadi hanya diam dan tak bisa berkata apa-apa.


Lisa melangkah menuju toilet, dia pun mulai menangis di sana. Dia meluapkan rasa sedihnya yang kembali datang setelah sekian lama berusaha untuk tegar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2