
Dokter membuka kaca matanya, dia menghela napas panjang.
"Kondisi pasien saat ini masih kritis, pasien mengalami koma," jawab Dokter.
Dengan berat hati Dokter menyampaikan kondisi Raffa.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruangan khusus," ujar Dokter lagi.
"Apa?" teriak Arumi tak percaya saat mendengar bahwa putranya tengah mengalami koma.
"Ini tidak mungkin, Dok!" teriak Arumi lagi tak percaya.
"Pa, lakukan sesuatu," pinta Arumi mulai tak bisa mengendalikan emosinya.
Arumi sangat terpukul mendengar berita dari dokter.
"Kamu sabar ya, Ma. Kita akan usahakan pengobatan terbaik untuk Raffa," ujar Surya berusaha menenangkan sang istri.
Surya menghampiri sang dokter.
"Dok, kami mohon berikan pengobatan terbaik untuk putra kami, berapa pun biayanya akan kami keluarkan," pinta Surya memohon pada dokter.
"Kami mengerti, Tuan. Dalam hidup kita ini anggota keluarga adalah yang paling berharga. Kita rela menghabiskan biaya berapa pun untuk keselamatan salah satu anggota keluarga kita yang sedang sakit, tapi semua itu tergantung pada Takdir Tuhan. Kami dokter hanyalah sebagai wasilah, yang menentukan tetap Tuhan," ujar dokter.
Arumi dan Surya terdiam mendengar ucapan sang dokter, perkataan dokter itu memang benar. Hal yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah berdo'a.
"Setelah nanti pasien pindah ruangan, jika ada keluarga yang ingin menemuinya diperbolehkan maksimal 2 orang," ujar dokter lagi.
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap Alex.
Arumi dan Surya masih diam, mereka mencoba menerima nasehat dari dokter.
"Bun, aku mau lihat Bang Raffa," pinta Kayla.
Sejak kemarin dia dirawat, dia belum bisa melihat bagaimana keadaan pria yang sangat dicintainya.
"Bentar, ya. Bunda cari perawat dulu, supaya kamu ke sana menggunakan kursi roda," ujar Hurry.
"Biar Ayah yang mencarinya," tawar Hendra yang juga berada di ruang itu.
Satya dan Rayna pulang ke rumah, karena kondisi Rayna yang berada di rumah sakit membuat dia pusing dan selalu ingin muntah.
Hurry sengaja menyuruh Satya untuk membawa istrinya pulang karena kasihan. Mereka tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan jika Rayna kecapean.
Hendra keluar dari ruang rawat Kayla untuk mencari kursi roda.
Tak berapa lama Hendra masuk dengan seorang perawat yang mendorong sebuah kursi roda, perawat membantu Kayla turun dan duduk di kursi roda.
Kesehatan Kayla memang sudah membaik, hanya saja Hurry masih mencemaskan kondisi kesehatan Kayla saat ini.
Sang perawat mulai mendorong kursi roda Kayla menuju ruang rawat Raffa yang sudah dipindahkan.
__ADS_1
Kayla diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan sang suami.
Perawat itu mendorong kursi roda Kayla hingga masuk ke dalam ruangan tempat Raffa berada.
Setelah Kayla berada di samping Raffa, perawat pun mulai meninggalkan Kayla di sana.
Kayla menatap dalam wajah tampan pria yang dicintainya, dia tak menyangka pria yang kini berstatus sebagai suaminya tengah kritis atau koma.
Kayla meraih telapak tangan sang suami, dia menciumi punggung tangan milik suaminya.
"Bang, bangun." Kayla mencoba mengajak Raffa mengobrol.
Menurut ilmu yang diketahuinya, orang yang koma masih mendengarkan ucapan siapapun yang mengajaknya mengobrol.
"Bang, kamu tidak mau melihat anak-anak kita lahir? Ayolah Bang, bangun aku tidak sanggup hidup tanpamu," lirih Kayla terus berusaha.
"Bang Raffa, ayo bangun, hiks hiks," tangis Kayla mulai pecah.
Kayla tak sanggup melihat pria yang selalu melindunginya di setiap langkah dan keberadaannya kini terbaring lemah tanpa membalas ucapannya.
Kayla terus menggenggam erat tangan kokoh yang selalu menjaga dirinya.
"Bang Raffa, bangun, hiks hiks,"
Sakit yang kini dirasakan Kayla melebihi rasa sakit yang dirasakannya saat melihat ayah angkatnya Bram yang terbaring waktu itu.
Kayla menangis sejadi-jadinya di samping Raffa yang kini masih diam terbaring tak berdaya.
"Kak, sudahlah," lirih Alex memegangi pundak Kayla.
Kayla tak menghiraukan suara Alex yang mengajaknya berbicara, dia masih saja menangis sambil memeluk tangan Raffa.
Alex mengelus lembut punggung sang kakak, memberikan semangat dan penguat agar Kayla tidak terpuruk.
Setelah puas menangis Kayla pun menghapus linangan air matanya, kini hijabnya sudah mulai basah karena air mata.
"Sabar ya, Kak," lirih Alex.
"Lex, tolong ambilkan Al-Qur'an di dalam tas ku," pinta Kayla pada Alex.
Dalam tangisnya Kayla berpikir hal yang bisa dilakukannya saat ini adalah membaca Alquran, dia berharap dengan lantunan ayat suci Alquran Allah akan memberikan keajaiban untuk kesembuhan sang suami.
Alex bergegas keluar dari ruangan itu lalu melangkah menuju ruangan Kayla untuk mengambil Alquran.
Melihat Alex keluar, Arumi bergegas menghampirinya.
"Mau ke mana, Lex?" tanya Arumi menghampiri Alex.
"Mengambil Alquran milik Kayla di ruang rawatnya," jawab Alex.
"Oh, kalau gitu biar mama masuk dulu," ujar Arumi.
__ADS_1
Arumi menghampiri Kayla, dia membelai lembut kepala menantunya.
"Sayang, kamu harus kuat ya," lirih Arumi.
Arumi memeluk Kayla.
"Ma, boleh aku minta sesuatu?" tanya Kayla berhati-hati.
"Apa pun yang kamu minta pasti mama berikan padamu," ucap Arumi berusaha tersenyum.
"Aku mau dirawat di ruangan ini saja boleh enggak, Ma?" tanya Kayla pada sang ibu mertua.
"Baiklah, Sayang. Nanti, mama akan bilang sama papa untuk mengurus hal ini," ujar Arumi.
"Satu hal lagi, Ma. Kalau Kayla mau lahiran nanti, jika Bang Raffa masih tidur, Kayla boleh melahirkan di ruangan ini?" tanya Kayla lagi.
"Iya, Sayang. Nanti mama bilang juga sama papa," ujar Arumi.
Tak berapa lama, Alex pun datang dengan membawakan Alquran untuk Kayla.
Kayla pun mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdunya.
Hari-hari di rumah sakit dilalui Kayla dengan membaca Al-Qur'an, dzikir dan shalat.
Dua minggu telah berlalu, Raffa masih juga belum sadarkan diri. Kayla terus berusaha menenangkan diri dengan membaca Alquran.
"Auw," pekik Kayla tiba-tiba.
Dia yang masih asyik membaca Alquran pun menghentikan bacaannya.
Gelombang cinta hendak melahirkan kini mulai dirasakan oleh Kayla, tapi dia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang mulai terasa secara beraturan.
"Ada apa?" tanya Arumi.
"Ma, sepertinya aku mau melahirkan," lirih Kayla memberitahukan apa yang dirasakannya saat ini.
Kayla sering membaca artikel tentang tanda-tanda hendak melahirkan, makanya dia yakin bahwa dia mau melahirkan.
"Sebentar, mama panggilkan papa," ujar Arumi.
Arumi keluar dari ruangan itu, dia langsung menemui Surya menyampaikan keadaan Kayla saat ini.
Tak berapa lama, Surya langsung meminta pihak rumah sakit menyediakan tempat untuk Kayla melahirkan di ruangan tempat Raffa masih terbaring lemah.
Semakin ke sini, gelombang cinta Kayla semakin terasa. Kayla sudah berbaring di atas brangkar dengan seorang dokter kandungan dan beberapa perawat yang sudah berada di ruangan itu menunggu proses Kayla melahirkan.
Kayla teringat perkataan Raffa.
"Sayang, aku akan ada di sampingmu saat kamu melahirkan anak-anak kita," janji Raffa beberapa bulan yang lalu.
Bersambung...
__ADS_1