
"Yah, sewaktu Kayla di Padang. Kayla berjumpa dengan seorang wanita yang seumuran dengan Ibu Rita," ujar Kayla memulai pembicaraan.
"Lalu?" Bram mulai tertarik dengan pembicaraan Kayla.
"Beliau ibu dari teman Bang Raffa dan sahabatnya mama Arumi. Beliau pemilik butik terkenal di kota Padang." Kayla menjelaskan sosok wanita yang mengira bahwa Kayla adalah putrinya.
Bram dengan seksama mendengarkan cerita dari putrinya.
"Saat pertama kali, aku bertemu dengan beliau. Aku merasa pernah dekat dengannya, tapi tidak tahu di mana. Dan kemarin sewaktu kami berkunjung di butiknya." Kayla menghela napas sejenak.
"Beliau melihat tanda lahir yang ada di pergelangan tangan Kayla, Yah. Setelah itu dia langsung memeluk aku dengan erat, saat itu aku merasakan kehangatan seorang ibu dari beliau. Apakah mungkin Kayla putri dari wanita itu?" Kayla mengakhiri pembicaraannya dengan pertanyaan pada Bram.
Bram terdiam sejenak, dia mencoba mencerna cerita yang baru saja disampaikan oleh putrinya.
"Saat ini ayah tidak bisa menjawab pertanyaan kamu, Sayang. Ayah sendiri tidak tahu siapa orang tuamu," jawab Bram menundukkan kepala.
"Tapi kamu jangan khawatir, kita bisa mencari informasi dan bukti-bukti yang akan menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya," tambah Bram.
Kayla terdiam, memang ini yang diharapkannya. Ayahnya mencari tahu kebenaran atas ibu kandungnya.
"Iya, Yah. Saat itu beliau ingin menganggap Kayla sebagai putrinya yang pernah hilang," jelas Kayla.
"Kamu sabar ya, Nak. Ayah akan mencari tahu kebenaran ini secepatnya," ujar Bram.
"Terima kasih, yah," ucap Kayla.
Dia tahu ayahnya akan melakukan hal ini. Kayla juga yakin ayahnya akan melakukan yang terbaik untuk dirinya.
"Kalaupun nanti Kayla menemukan orang tua kandung Kayla. Ayah akan tetap menjadi ayah terbaik dalam hidup Kayla, Yah," tutur Kayla tulus.
Baginya Ayah bram adalah pria yang sangat disayanginya dan sosok pemimpin keluarga yang patut menjadi panutan dalam hidupnya.
"Ya udah, Yah. Kayla masuk dulu, sudah malam," ujar Kayla izin kembali ke kamarnya.
Bram mengangguk dan membiarkan Kayla berlalu meninggalkan dirinya yang masih bersantai di taman belakang rumahnya.
DIa ingin menenangkan dirinya yang masih kesal dengan sikap istrinya yang masih saja membenci Kayla.
****
Satya tengah menikmati makan malam sendirian di sebuah kafe.
"Bukankah itu Rayna," gumam Satya di dalam hati saat melihat Rayna sedang asyik mengobrol santai dengan teman-temannya.
"Ray, nanti kamu pulang bareng Jordy saja, ya. Aku harus jemput mama di rumah nenek," ujar Sandra teman Rayna.
"Lho?" lirih Rayna kecewa.
"Aku akan antar kamu sampai rumah, Ray," ujar Jordy membujuk Rayna.
"Tapi, aku,--" Rayna masih berusaha menolak.
"Ayolah, Ray. Ini sudah malam, tidak mungkin kamu pulang sendirian," bujuk Sandra.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi." Akhirnya Rayna pun mau pulang bersama Jordy.
Jordy merupakan salah satu teman sekolah Rayna, tapi mereka tidak terlalu dekat. Rayna dan Sandra tak sengaja berjumpa dengan Jordy di kafe itu.
"Ya udah, kalau gitu, gue balik duluan, ya." Sandra pun meninggalkan Rayna dan Jordy di kafe itu.
__ADS_1
"Thanks, atas semuanya," ucap Jordy pada Sandra dengan senyuman smirk di wajahnya.
"Selamat bersenang-senang," bisik Sandra di telinga pria yang kini bersama Rayna.
Sandra meninggalkan Jordy dan Rayna di kafe itu berdua, seketika perasaan Rayna merasa risih saat berdua dengan pria yang tidak terlalu dikenalinya.
"Kita pulang, yuk! Sudah terlalu malam," ajak Rayna mengusir segala rasa tidak nyaman yang dirasakannya bersama pria itu.
"Yuk! Aku bayar tagihan dulu," ujar Jordy.
Jordy melangkah menuju kasir diikuti Rayna dari belakang.
Setelah membayar tagihannya, Jordy menggenggam tangan Rayna melangkah menuju mobil.
Rayna sudah berusaha untuk menepis tangan Jordy, tapi Jordy menggenggam dengan sangat erat.
Mereka masuk ke dalam mobil, Jordy pun melajukan mobilnya meninggalkan kafe.
"Apa yang terjadi padaku? Aku merasakan seluruh tubuhku terasa sangat panas," gumam Rayna di dalam hati.
"Jordy, bisa dipercepat. Aku merasa tidak enak badan," pintu Rayna pada Jordy.
"Oh, iya," jawab Jordy menanggapi.
Jordy bukan mempercepat laju mobilnya, dia semakin melajukan mobilnya dengan pelan.
Rayna yang merasa kepanasan, akhirnya membuka jilbab yang dikenakannya. Dia mengabaikan ajaran yang pernah dipelajarinya untuk tetap menutup auratnya.
Seketika wajah Rayna memerah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Jordy menghentikan mobilnya di kawasan yang terlihat sepi.
"Bagaimana, Sayang? Kamu pasti membutuhkan diriku untuk meredakan gejolak di tubuhmu," lirih Jordy.
Saat ini di pikirannya hanya terlintas ciu*man yang pernah diberikan oleh Satya padanya.
"Kau sudah merebut ciu*man pertamaku, kau telah menyentuhku," oceh Rayna mulai menceracau tak keruan.
Rayna meraba dada bidang Jordy.
"Kamu benar-benar mengagumkan, tapi kamu menyebalkan." Lagi-lagi Rayna mengoceh di luar kesadarannya.
"Katakan apa yang ingin kau bilang, Sayang," lirih Jordy tersenyum puas.
"Obat perangsang yang sudah aku masukkan di minumanmu sudah beraksi, saat ini kamu pasti menginginkan tubuhku, Sayang," gumam Jordy.
Rayna menarik tengkuk Jordy, dia memangsa Jordy, dia mulai meraup bibir pria yang sekarang juga menikmati apa yang dilakukan Rayna terhadap dirinya.
Tangan Rayna terus menelusuri tubuh kekar Jordy, membuat Jordy merasakan sensasi yang luar biasa di dalam tubuhnya.
Dengan hal ini, dia akan mengambil kehormatan Rayna tanpa dia yang memaksa. Rayna yang memberikan tubuhnya dengan sukarela.
Jordy mulai membuka kemeja yang dikenakan oleh Rayna.
"Aku menginginkanmu, Satya," lirih Rayna mulai tidak dapat mengendalikan dirinya.
"Buka!" bentak Satya saat melihat apa yang mereka lakukan di dalam mobil itu.
"Buka!" bentak Satya lagi sambil menggedor-gedor kaca jendela mobil Jordy.
Jordy merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Satya.
__ADS_1
Dia pun membuka pintu mobilnya, dan keluar dari mobil.
"Siapa kau?" bentak Jordy merasa kesal dengan kehadiran Satya yang mengganggu aktivitasnya.
"Buka pintunya, atau saya akan teriak kalian melakukan perbuatan tidak senonoh," ancam Satya.
Jordy yang panik langsung membuka kunci mobilnya. Satya melangkah ke pintu tempat Rayna berada.
Dia menarik tangan Rayna membawa gadis itu keluar dari mobil pria bejat itu. Tak lupa, Satya membawa kemeja dan jilbab Rayna yang berserakan di mobil Jordy.
Satya menggendong tubuh Rayna yang bagian atasnya hampir terbuka semuanya.
Dia menutupi tubuh itu dengan kemeja dan jilbab milik gadis itu.
Satya memasukkan Rayna ke dalam mobilnya dan membawa Rayna meninggalkan pria jahat yang ingin merusak gadis polos itu.
"Satya, aku mencintaimu tapi aku membenci sikapmu," oceh Rayna.
Satya tidak menghiraukan ocehan Rayna. Dia pun membawa Rayna ke apartemennya. Satya tidak mungkin mengantarkan Rayna ke rumahnya dalam kondisi yang tidak stabil seperti ini.
Sebelum turun dari mobil, Satya memasangkan kemeja dan hijab Rayna semampunya.
Setelah itu dia menggendong Rayna masuk ke dalam apartemen miliknya.
Di dalam apartemen, Satya membaringkan tubuh Rayna di atas tempat tidur.
Tiba-tiba, Rayna menarik tubuh Satya.
"Aku menginginkanmu, Sayang," lirih Rayna.
Tanpa aba-aba ia pun meraup bibir Satya lalu mencum*bunya dengan penuh gairah.
"Sadarlah Rayna, ini salah!" bentak Satya.
Namun Rayna terus memeluk tubuh Satya dan memaksa Satya untuk melakukan sesuatu yang terlarang dalam agamanya.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ