Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 268


__ADS_3

Merry yang sangat mengenal sifat adiknya.


"Aku yakin kamu pasti berada di sana," gumam Merry.


Dia langsung melajukan mobil menuju kawasan Mandeh lalu menyebrang menggunakan speed boat menuju pulau Cubadak.


Melihat keindahan kawasan Pulau Cubadak, Merry teringat betapa banyaknya kenangan indah yang dilewatinya bersama sang adik di saat mereka masih kecil.


Oleh karena itu, Merry sangat yakin adiknya berada di pulau ini.


Jika berhari-hari adiknya tidak pulang, sudah bisa dipastikan dia tengah berada di pulau Cubadak tempat persembunyiannya.


Merry turun dari speed boat nya, dia melangkah menuju sebuah pondok sederhana yang terletak di atas permukaan laut.


Dia menapaki jembatan kecil menuju pondok sederhana tersebut.


Merry langsung masuk ke dalam pondok tersebut saat melihat pintunya tidak berkunci.


Dia melihat adiknya tengah berdiri di teras pondok dengan berpagar kayu yang kuat menghadap ke lautan lepas dengan keindahan pemandangan alam yang sangat menakjubkan.


"Aku cari ke mana-mana tahunya di sini," ujar Merry setelah dia berada tak jauh di belakang adiknya.


Reza kaget saat melihat sosok kakak yang bertugas jauh di kota Jakarta.


"Kakak, kamu di sini? Kapan datang?" tanya Reza heran melihat wujud sang kakak sudah berada di pondok persembunyiannya.


"Baru sampai tadi pagi," jawab Merry.


Reza menautkan kedua alisnya heran.


"Tumben," lirih Reza.


"Aku pulang karena mama lagi sakit," ujar Merry.


"Mama sakit? Kemarin dia baik-baik aja kok," ujar Reza tak percaya dengan ucapan sang kakak.


"Kata Papa, Mama sakit mendadak karena tensinya naik mungkin Mama lagi banyak pikiran," ujar Merry.


"Oh," lirih Reza cuek.

__ADS_1


"Dek, kamu jangan cuek gitu dong. Kasihan Mama sejak tadi dia kepikiran sama kamu," ujar Merry pada adiknya.


Merry ingin membujuk adiknya untuk pulang ke rumah, karena sejak kemarin Mama dan Papanya sudah mencari-cari adiknya.


"Mama juga nggak kasihan sama aku, Kak. Dia tega menjodohkan aku dengan wanita yang jelas-jelas tidak aku sukai, bahkan waktu pernikahan sudah mereka tentukan tanpa persetujuan dari aku." Reza mulai menyampaikan unek-unek yang ada di hatinya pada sang kakak.


Merry menghela napas panjang, dia menghampiri adiknya lalu duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di belakang Reza.


"Kakak mengerti apa yang saat ini kamu rasakan, karena aku sudah menjalaninya terlebih dahulu," ujar Merry dia teringat dengan perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya kepadanya.


Bener tahun yang lalu setelah Merry menyelesaikan studi S2 nya, kedua orangtuanya memilihkan seorang pria yang memiliki profesi yang sama dengannya.


Saat itu Merry belum berniat untuk menikah sama sekali, ditambah dia juga tidak memiliki calon untuk dikenalkan pada kedua orang tuanya.


Reza membalikkan tubuhnya lalu ikut duduk di kursi panjang samping sang kakak.


Reza menatap sendu ke arah sang kakak.


"Tapi, Kak. Pria yang dijodohkan dengan kakak merupakan pria yang baik, sholeh dan sangat menghargai kakak. Ujung-ujungnya kakak bisa hidup bahagia bersamanya." Reza mengalihkan pandangannya kembali ke arah lautan lepas.


"Sejak pertama kali saja aku bertemu dengan wanita itu, tak ada rasa simpati sedikitpun terhadapnya." Reza menceritakan hal-hal yang tidak disukainya dari diri wanita itu.


"Mungkin karena itu, kedua orang tuanya ingin menjodohkan putrinya dengan kamu, pria yang baik sholeh dan santun. Mana tahu mereka ingin menjadikan kamu sebagai pembimbing putri mereka menuju jalan yang lebih baik," ujar Merry berusaha menasehati sang adik.


"Za, apa kamu mau menjadi anak durhaka karena menolak keputusan mereka?" tanya Merry pada adiknya.


Merry sangat tahu bagaimana sifat Reza paling tidak suka di sebut sebagai anak durhaka.


"Mama bilang apa sama kamu, Kak?" tanya Reza.


Dia curiga kedua orang tuanya menyuruh sang kakak untuk membujuk dirinya menerima pernikahan yang sudah di depan matanya.


"Mama enggak bilang apa-apa, dia hanya meminta aku pulang dan saat aku bertemu dengannya dia memintaku untuk mencari kamu," ujar Merry.


"Huhhft." Reza kembali menghela napas panjang.


"Dek, kakak tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi, kakak tidak mau kedua orang tua kita menanggung malu jika kamu tetap menolak pernikahan ini. Saat ini, Mama sedang sakit, entah apa yang akan terjadi pada mama nanti kita tak tahu. Jangan ada penyesalan jika terjadi sesuatu pada Mama," nasehat Merry pada adiknya.


Merry berusaha membujuk Reza agar Reza ikhlas menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Reza menoleh pada sang kakak yang panjang lebar sudah menasehati dirinya.


"Aku masih ingin menenangkan diri di sini," lirih Reza tak tahu harus menjawab apalagi.


"Ya sudah kalau begitu, kakak pulang dulu. Kakak tunggu sore ini, kamu sudah ada di rumah," ujar Merry.


Merry berdiri dan langsung melangkah keluar meninggalkan Reza yang masih berpikir tentang apa yang baru saja dinasehatkan oleh kakaknya.


Pada sore harinya Reza kembali ke rumah kedua orang tuanya, akhirnya Reza pun setuju untuk menikah dengan wanita yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.


Flash back off.


"Maafkan aku, Lisa. Sedikitpun aku tak ingin menyakitimu, mungkin ini sudah takdir yang harus kita jalani," gumam Reza di dalam hati.


Reza kembali membuka memori indahnya yang ada di dalam ponselnya.


"Sampai kapanpun hatiku hanya untukmu," lirih Reza.


Tiba-tiba, Gisella masuk ke dalam kamar. Dia baru saja pulang setelah pergi seharian.


Reza buru-buru menutup layar ponselnya. Dia langsung menyembunyikan ponselnya.


Gisella menoleh sejenak pada suaminya yang kini tengah bersandar di sandaran tempat tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Reza mengabaikan keberadaan Gisella yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


Reza memilih keluar dari kamar agar dapat menghindari istrinya yang setiap hari keluar rumah dan menghabiskan uang bersama teman-teman sosialitanya.


Sebagai seorang suami, Reza sudah berkali-kali melarang istrinya keluar dari rumah dengan alasan bersenang-senang dengan teman-temannya.


Namun, sama sekali tidak dipedulikan oleh Gisella, yang dia tahu hanya bersenang-senang.


Di tempat lain, Lisa menyendiri di taman depan asrama. Dia merutuki kebodohannya yang telah memutuskan komunikasi dengan Reza waktu itu.


Hatinya hancur berkeping-keping saat mengetahui pria yang sudah mengisi rongga hatinya telah menjadi milik orang lain.


Akhirnya Lisa mengambil ponselnya lalu mengirimi sebuah pesan pada Reza.


💌 Selamat atas pernikahanmu, aku hanya ingin meminta maaf karena waktu itu aku sudah mendiamkanmu.

__ADS_1


Lisa mengirimkan pesan tersebut pada Reza dengan hati yang menangis.


Bersambung...


__ADS_2