Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 197


__ADS_3

"Tolong! Tolong!" teriak Alita ketakutan.


"Hahaha," tawa Raymond pecah.


Dia berdiri dan melangkah menuju pantai.


Alita sadar bahwa saat ini dia berada di laut yang dangkal.


Dia melangkah mengejar Raymond.


"Woi! Kamu jahat banget, sih!" bentak Alita pada Raymond.


Kebetulan di pulau itu belum terlalu ramai pengunjung, jadi hanya beberapa pasang mata yang melihat kejadian memalukan itu.


Beberapa orang yang di sana ada yang menutup mulutnya menahan tawa melihat aksi Alita yang tadi meminta tolong saat dia terjatuh ke dalam air.


"Apa liat liat?" bentak Alita pada dua orang wanita yang sedang menahan tawanya.


Mereka hanya diam dan tak menggubris ucapan Alita.


Dengan kesal Alita terus mengejar Raymond yang melangkah mencari sebuah bangku panjang di pinggir pantai.


"Kau memang menyebalkan!" bentak Alita.


Gadis itu pun duduk di samping Raymond.


"Menyebalkan, tapi masih saja nempel," ledek Raymond pada gadi yang kini tengah memasang wajah cemberut di sampingnya.


Raymond semakin suka melihat wajah cemberut yang dipamerkan oleh Alita.


"Kalau saja kamu tidak memaksaku ikut, mana mau aku nempel-nempel sama kamu," bantah Alita.


Alita tidak mau Raymond ke-ge-er-an dan besar kepala dengan sikapnya yang terpaksa mengikuti pria itu dianggap bentuk suka terhadapnya.


"Ren, lihat!" Alex dan Irene baru saja sampai di pulau Kapo-kapo.


Dia menunjuk ke arah sepasang calon suami istri yang sedang duduk di pinggir pantai.


"Kelihatannya, Alita sedang kesal sama Raymond," ujar Irene pada suaminya.

__ADS_1


"Sepertinya begitu, lebih baik kita biarkan saja mereka. Semoga saja Raymond bisa mengalihkan cinta Alita pada dirinya," ujar Alex.


"Kalian yakin, usaha kalian ini akan berhasil? Aku takut, Alita justru tertekan," ujar Irene merasa kasihan terhadap Alita.


Irene tahu selama ini Alex sangat keras mendidik adik sepupunya itu. Irene juga tahu semua tingkah Alita selama ini.


"Kamu tenang saja, aku sangat mengenal Raymond. Dia tidak akan menyakiti Alita, dan dia pasti bisa membuat Alita jatuh cinta pada dirinya. Aku tidak mau, Alita terus-menerus mengganggu hubungan kakak kandungnya," ujar Alex.


Irene kasihan pada Alita karena tidak dapat hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Tapi, Irene juga tidak mau kebahagiaan Kayla dirusak oleh adik kandungnya sendiri.


Bagi Irene, Kayla adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Jika bukan karena sahabatnya itu, saat ini dia tidak mungkin bisa menikah dengan Alex, pria yang sudah beberapa tahun menjadi kekasihnya.


Alex menggenggam tangan Irene, dan mengajak Irene melangkah menyisiri pantai berpasir putih sambil berselfie ria mengabadikan kebahagiaan yang kini sudah mereka dapatkan.


"Ren, setelah liburan ini. Kita akan berangkat ke Jakarta. Aku masih ingin kamu tetap kuliah, dan aku akan usahakan kamu bisa pindah nilai saja, agar kamu bisa menyelesaikan kuliah pada waktunya," ujar Alex di sela-sela langkah mereka.


"Memang bisa begitu, Sayang?" tanya Irene pada Alex.


Dia belum mengerti tentang sistem pindah universitas.


"Bisa, kita akan cari universitas yang memiliki jurusan yang sama dengan jurusanmu di sini. Nanti nilai yang sudah kamu dapatkan bisa ditransfer ke universitas yang baru, jadi kamu hanya menyelesaikan mata kuliah yang belum kamu lalui," jelas Alex.


"Terserah kamu saja, aku akan coba mengurusnya di sini sebelum kita berangkat ke Jakarta," ujar Irene.


"Apa?" tanya Irene bingung.


"Kita harus merencanakan program memiliki anak kita undur terlebih dahulu, aku tidak mau kamu kerepotan mengurusi anak di saat masih kuliah. Sementara itu aku juga akan sibuk bekerja di samping kuliah," ujar Alex lagi.


"Aku ikut kamu aja, kalau hal itu menurut kamu yang lebih baik. Trus apakah aku harus melakukan KB?" tanya Irene.


"Tidak perlu, aku tidak mau tubuh istriku dimasukkan zat-zat kimia yang tidak jelas, kita berusaha secara alami saja. Dan memohon pertolongan pada Tuhan agar diberikan anak pada waktu yang tepat," ujar Alex lagi.


Irene menautkan kedua alisnya.


"Memangnya kamu tahu apa dengan KB alami?" tanya Irene dengan polosnya.


"Kamu tenang saja, aku sudah memikirkan hal ini dari jauh hari," ujar Alex.


Irene mengangguk paham.

__ADS_1


"Bang Alex, aku mau ikut pulang sama kamu." Tiba-tiba Alita datang menghampiri Alex dan Irene.


"Maksud kamu apa?" tanya Alex heran.


"Aku enggak mau balik sama pria gila itu," ujar Alita sambil menunjuk ke arah Raymond yang masih duduk santai di sebuah bangku panjang.


"Mana bisa kita bonceng tiga di jet sky itu, nanti kalau kamu jatuh bagaimana?" tolak Alex.


"Kenapa sih, nasibku miris banget?" isak Alita.


"Hiks hiks," tangis Alita pun pecah.


Alex dan Irene saling melempar pandangan. Mereka bingung harus bagaimana.


"Al, kamu kenapa nangis?" tanya Irene pelan.


Irene pun merangkul pundak adik iparnya itu.


"Tuhan tidak sayang padaku, kenapa Tuhan memberikan aku kakak kandung yang menikah dengan pria yang kucintai. Sekarang Tuhan juga memberikanku calon suami gila seperti Raymond." Alita mulai mengeluarkan uneg-uneg yang terpendam di hatinya.


Irene mengelus lembut pundak Alita, dia berusaha menenangkan adik iparnya.


"Al," lirih Irene saat Alita sudah mulai tenang.


"Menurutku, cintamu pada Raffa bukanlah sebuah cinta tapi sebuah obsesi untuk mendapatkannya." Irene mulai mencoba menasehati Alita.


"Kamu tahu apa yang namanya cinta? Jika kamu benar-benar mencintai Raffa, kamu akan merelakannya bersama orang yang bisa membuat dirinya bahagia. Untuk apa kamu memiliki Raffa kalau hatinya tidak ada untukmu," ujar Irene menasehati Alita.


Alex hanya diam, dia membiarkan Irene memberikan nasehat untuk adik sepupunya itu.


"Kamu tahu, Allah lah yang merencanakan Kayla menikah dengan Raffa. Jika waktu itu aku tidak kabur maka saat ini akulah yang berada di sampingnya. Aku yakin Raffa tidak akan bahagia jika saat itu aku yang menikah dengannya, takdir Tuhan Kayla menggantikan diriku sebagai pengantin wanita. Kamu lihatlah, kakakmu dan pria yang kamu cintai kini sudah bahagia," ujar Irene menunjuk ke arah Kayla dan Raffa yang melintasi mereka menggunakan speed boat sambil melambaikan tangan ke arah mereka.


"Cinta itu tidak harus memiliki, walaupun kita berjuang mepertahankan cinta kita. Jika Tuhan berkehendak bukan jodoh sampai kapanpun kita tidak akan mendapatkan orang yang kita cintai, karena Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik dari orang yang kamu cintai."


Alita hanya diam mendengarkan nasehat dari Irene. Hati kecil gadis keras kepala itu membenarkan setiap ucapan kakak iparnya. Namun, egonya masih tidak menerima bahwa Tuhan sudah memberikannya jodoh pria yang bernama Raymond.


Alex tersenyum pada sang istri yang sudah memberi nasehat pada adiknya, Alex tahu Alita menerima nasehat itu.


Saat ini mereka hanya perlu menunggu waktu hingga Alita sadar.

__ADS_1


"Hei, ayo!" bentak Raymond pada Alita.


Bersambung...


__ADS_2