
"Lepaskan," lirih Kayla melepaskan tangan Raffa yang merangkul pundaknya.
Raffa mengernyitkan dahinya heran.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Raffa.
"Kamu jahat, Bang," ujar Kayla sambil terisak.
Kayla pun membalikkan badannya, dia melangkah meninggalkan Raffa.
Dia berniat kembali pulang ke rumah, seketika nafsu makannya hilang.
"Sayang," panggil Raffa.
"Kamu enggak lapar?" tanya Raffa pada istrinya.
"Enggak, aku udah kenyang," ketus Kayla.
Raffa yang melihat tingkah Kayla yang tiba-tiba berubah 180 derajat membuat Raffa bingung apa yang harus dilakukannya.
"Sayang, kita hampir sampai di kafe lho, kenapa harus jalan balik?" tanya Raffa terus mengikuti langkah istrinya.
Kayla tak mengacuhkan ocehan Raffa, dia masih terus melangkah.
Raffa mengusap wajahnya kasar, dia pun mengiringi langkah Kayla dan menghadang sang istri sehingga Kayla pun berhenti mendadak.
Raffa memegangi kedua lengan sang istri, dia menatap dalam pada sang istri.
"Sayang, kamu kenapa, sih?" tanya Raffa pelan dan lembut.
"Kami jahat, Bang!" Rajuk Kayla sambil mengusap air matanya.
"Jahat kenapa?" tanya Raffa masih bingung dengan jawaban Kayla.
"Pokoknya jahat!" ujar Kayla lagi.
"Oke, aku minta maaf kalau aku salah," lirih Raffa.
Akhirnya Raffa pun mulai mengalah, dia berusaha menurunkan egonya untuk membujuk sang istri.
"Iya, kamu salah, Bang. Kamu enggak boleh dong bentak-bentak aku di depan umum seperti tadi, aku kan malu," lirih Kayla mengungkapkan kekesalannya pada sang suaminya.
"Iya, Sayang. Maafkan aku, ya," bujuk Raffa.
Raffa sada perbuatannya memarahi Kayla tadi membuat hati istrinya terluka.
Kayla memanyunkan bibirnya, dia pun mulai tersenyum setelah sang suami meminta maaf padanya.
"Bang, aku lapar," rengek Kayla memegangi perutnya yang mulai membuncit.
Raffa pun menyentuh perut istrinya.
"Ya iyalah, anak kita pasti sudah memberontak minta makan. Ya udah, yuk!" ajak Raffa.
Raffa pun menggandeng istrinya melangkah menuju kafe miliknya yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam kafe, dan langsung duduk di tempat yang telah disediakan karyawan kafe untuk mereka.
Di sana sudah tersedia makanan dan minuman yang telah dipesan Raff tadi sebelum mereka berangkat.
Raffa sengaja menghubungi karyawan kafe untuk menyiapkan makanan untuk mereka supaya sampai di kafe mereka bisa langsung makan.
Kayla pun menyantap makanan yang telah tersedia di atas meja.
"Bang, aku mau di suapin," rengek Kayla manja.
Raffa pun mengernyitkan dahinya heran dnegan sikap Kayla yang biasanya mandiri sekarang berubah menjadi sangat manja dan cengeng.
"Kamu enggak mau nyuapin aku ya, Bang?" tanya Kayla mulai merajuk.
Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mau, Sayang," ujar Raffa.
Akhirnya Raffa pun mulai menyuapi sang istri. Kayla terlihat sangat bahagia yang diperlakukan penuh kasih sayang oleh suaminya.
"Mungkin ini yang disebut perubahan hormon bagi wanita hamil, aku harus sabar dan terus berusaha untuk memaklumi apa pun tingkah istriku," gumam Raffa di dalam hati menduga-duga alasan perubahan sikap sang istri.
Walaupun Raffa merasa sikap sang istri berubah, tapi dia senang melihat wajah ceria yang terpancar di wajah anggun istrinya.
Raffa dan Kayla menikmati makan malam dengan kebahagiaan, berbeda dengan Rayna yang kini masih tenggelam dalam luka kehilangan sang Ayah tercinta.
Satya melingkarkan tangan kekarnya di pinggang istri belianya yang kini menatap kosong ke langit di balkon kamarnya.
"Sayang, kesedihanmu ini takkan pernah mengubah takdir," lirih Satya yang mengetahui kesedihan yang menyelimuti hati istrinya.
Rayna merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Mas, aku masih sangat merasa kehilangan sosok ayah. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa ayah sudah tiada," lirih Rayna kembali mulai terisak.
Berkali-kali Satya berusaha menghibur sang istri. Namun usahanya saat ini belum bisa membuat Rayna melupakan kesedihannya.
Satya mengelus lembut kepala istrinya.
"Mhm, bagaimana kalau kita pergi ke Jakarta supaya kamu tidak merasa kesepian?" Satya memberi tawaran pada sang istri.
Berharap jika Rayna berada di dekat Kayla setidaknya dia tidak merasa kesepian.
"Ngapain, Mas?" tanya Rayna pada Satya.
"Sekadar jalan-jalan saja, setidaknya kamu bisa terhibur berjumpa dengan Kayla,"jawab Satya.
"Lalu, bagaimana dengan ibu, Mas. Aku kasihan melihat Ibu sendiri di sini. Saat ini ibu pasti masih terpukul dengan kepergian ayah," ujar Rayna tidak bisa menerima ajakan sang suami.
Satya menghela napas, dia sadar apa yang dikatakan Rayna memang benar.
Mereka tidak mungkin meninggalkan Rita seorang diri di rumah ini, ibu mertuanya akan merasa kesepian jika mereka pergi ke Jakarta.
"Ya sudah, kamu istirahat, ya. Malam semakin larut, kita tidur, yuk!" ajak Satya.
Dengan susah payah Satya membujuk istrinya untuk tidur, hingga akhirnya Rayna mulai beranjak dari posisinya lalu melangkah menuju tempat tidur.
__ADS_1
Rayna membaringkan tubuhnya di atas kasur, Satya dnegan setia menemani istrinya agar sang istri merasakan kehangatan cinta darinya agar dapat lebih kuat menjalani hari-harinya tanpa kehadiran sang Ayah.
Setelah memastikan sang istri tertidur dengan pulas, gantian Satya berdiri di balkon kamar.
Dia menatap langit berbintang nan cerah, pikirannya mulai berkelana memikirkan berbagai masalah yang harus dihadapinya.
Kepergian Bram meninggalkan tanggung jawab yang berat pada dirinya.
Sekarang, Satya harus menjaga Rayna dan Rita, dialah satu-satunya laki-laki di rumah itu sebagai pelindung dua wanita yang ditinggalkan oleh Bram.
Perusahaan yang sudah diwasiatkan atas nama Kayla pun untuk sementara waktu Raffa meminta Satya mengelola perusahaan tersebut.
Ditambah dengan berbagai bisnis yang harus di kelolanya, untung saja semua bisnis kuliner dihandle langsung oleh Raffa dengan bantuan Nick yang juga sudah wisuda.
Raffa sengaja meminta Nick menadi direktur promosi di bisnis kuliner miliknya agar sahabatnya dapat mengumpulkan uang yang banyak untuk melamar gadis yang dicintainya.
"Ya allah berikan aku petunjuk dalam menjalani berbagai masalah yang kini aku hadapi," gumam Satya.
Pria yang selalu bijaksana dan arif dalam menghadapi berbagai masalah, kini tengah galau memikirkan maslah yang dihadapinya.
Keesokan harinya saat sarapan pagi, Rita masih murung. Dia tidak ingin memakan apa pun tapi karena Rayna terus membujuknya dia pun bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju ruang makan.
"Pagi, Bu," sapa Satya saat dia memasuki ruang makan.
"Pagi," lirih Rita.
Satya dan Rayna saling berpandangan. Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama walau mereka sedang tidak nafsu makan.
"Ray, Ibu mau minta izin sama kamu?" ujar Rita di sela-sela kegiatan sarapan pagi mereka.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ