
“Mas, dingin,” lirih Rayna saat dia sudah berbaring di atas tempat tidur.
Satya mengernyitkan dahinya saat mendengar lirihan istrinya. Dia langsung meletakkan punggung tangannya di dahi istriny untuk mengecek suhu tubuh sang istri.
“Enggak panas, suhu tubuhnya normal,” gumam Satya.
Dia mengira sang istri sedang demam. Akhirnya Satya pun mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh istrinya agar sang istri tak lagi kedinginan.
Baru sejenak selimut menutupi tubuhnya, Rayna sudah merasa kepanasan, gerah dan keringatnya bercucuran.
“Ah, panas!” serunya sambil menyibakkan selimutnya.
Satya yang baru saja ingin membaringkan tubuhnya di samping sang istri merasa heran dengan tingkah istrinya. Satya melihat, keringat bercucuran di pelipis Rayna.
“Sayang, kamu kepanasan?” tanya Satya bingung.
“Iya, gerah tau, Mas. Kamu matiin AC nya ya?” dengus Rayna kesal pada Satya.
“Enggak dimatiin sih, cuma aku kecilkan sedikit. Tadi katanya kamu kedinginan,” ujar Satya memberi alasan.
“Ih, mana remotenya biar aku yang pegang,” ujar Rayna ketus.
Satya mengernyitkan dahinya, dia heran dengan sikap sang istri. Satya merasa ada yang aneh dengan istrinya.
Satyapun memberikan remote AC pada istrinya. Lalu dia kembali membaringkan tubuhnya, berharap masih bisa beristirahat sejenak menjelang waktu ashar masuk.
Rayna meraih remote AC yang diberikan suaminya, lalu mengganti suhu AC. Setelah itu dia pun mulai memejamkan matanya, tapi tak beberapa lamadia pun embali merasa kedinginan.
Dia menarik selimut, lalu menutupi tubuhnya lagi. Saat dia ingin tertidur lagi-lagi dia kembali merasa kegerahan. Hal itu dilakukan Rayna berulang-ulang membuat Satya tidak bisa beristirahat.
“Kamu kenapa sih, Sayang?” tanya Satya heran melihat tingkah sang istri.
“Enggak tahu, sebentar-sebentar kepanasan. Habis itu kedinginan, aku juga bingung,” lirih Rayna kesal.
Rayna merasa Satya tidak suka dengan apa yang dilakukannya.
“Ya sudah, atur suhu AC nya sedang aja, atau enggak usah pakai AC sekalian,” usul Satya.
“Ya enggak bisa, dong. Kalau aku kepanasan ya aku butuh AC nya,” bantah Rayna.
“Kalau kamu merasa terganggu, jangan dekat-dekat aku!” gerutu Rayna semakin kesal pada sang suami.
“Huhhfft.” Satya menghela napasnya ikut kesal.
Satya pun beralih ke sofa panjang yang tersedia di dalam kamarnya.
“Mas, kamu mau ke mana?” tanya Rayna .
“Aku mau di sofa aja,” jawab Satya.
“Kamu kesal ya sama aku?” tanya Rayna cemberut.
__ADS_1
“Tapi kamu yang nyuruh aku pergi, gimana sih?” tanya Satya tambah bingung.
“Lho, kamu kenapa marah sih, Mas?” gerutu Rayna lagi.
Satya mengusap wajahnya kasar, dia bingung dengan sikap sang istri.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Satya bingung.
Satya masih berusaha untuk sabar menghadapi istrinya yang tiba-tiba bersikap aneh tidak seperti biasanya.
Rayna hanya diam. Dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Melihat istrinya terdiam, Satya pun merasa kasihan pada sang istri, akhirnya Satya mendekati sang istri. Dia duduk di samping sang istri, Satya menggenggam erat tangan sang istri.
“Sayang, maafkan aku, ya,” lirih Satya.
Satya memeluk istrinya. Sesaat Rayna pun tertidur di dalam pelukan sang suami. Mendengar napas sang istri mulai teratur, Satya menggelengkan kepalanya heran.
Rasa kantuk mulai menyerang Satya akhirnya dia pun tertidur di samping sang istri.
****
Alita mulai menahan diri setelah insiden dijemput oleh Alex dari rumah Kayla. Dia tengah berpikir untuk menyusun strategi baru agar bisa dekat dengan Raffa.
Alita sangat mengenal Alex, dia tidak akan main-main dengan apa yang sudah dikatakannya, makanya Alita berusaha untuk hati-hati dalam bertindak.
Keesokan harinya, Alita langsung berkemas. Dia hendak kembali ke kost-annya. Dia tidak ingin berlama-lama tinggal di rumah kontrakan kakak sepupunya.
“Aku mau balik ke kost-anku,” jawab Alita tanpa menoleh ke arah Alex.
“Aku tidak mengizinkan kamu kembali ke kost, aku sudah bilang sama Om Rahman kau akan tinggal bersamaku di sini,” ujar Alex tegas.
“Tapi, Bang,” bantah Alita.
“Tidak ada tapi-tapian, Om Rahman sudah setuju dengan usulanku. Bunda juga mendukung keputusanku ini,” ujar Alex lagi.
“Kenapa sih, Bang? Kamu selalu saja mengganggu hidupku!” bentak Alita mulai kesal pada Alex yang selalu saja mengatur hidupnya.
“Al, aku ini abangmu, wajar aku bertanggung jawab atas kamu. Aku tidak mau kamu membuat ulah lagi. Cukup aku yang tahu semua sifat jelekmu,” ujar Alex tegas.
Alex mulai emosi melihat Alita membantah perkataannya, selama ini semua keluarga besar tahu Alita adalah gadis yang penurut dan sangat baik. Tapi, di luar pantauan kedua orang tua Alex dan Om Rahman, Alita suka berbuat hal-hal yang tidak pantas.
Semasa SMA, gadis itu sering keluar malam dan nongkrong-nongkrong tidak jelas dengan teman-temannya tanpa sepengetahuan Om Rahman dan istrinya. Terlebih, Alex pernah menemukan Alita keluar rumah menggunakan pakaian yang minim bahan, padahal di hadapan seluruh keluarga dia selalu menggunakan pakaian yang menutup aurat.
Sewaktu SMA, Alex memang meminta izin pada kedua orang tuanya untuk tinggal di kost-an walaupun bersekolah masih di kota Padang. Dari situlah dia dapat mengetahui tingkah adik sepupunya tersebut.
Alita menunduk.
“Bang, tidak mungkin aku tinggal di sini berdua dengan kamu. Apa kata orang, nanti dikira orang-orang,--“ Alita masih berusaha mencari akal agar Alex membatalka rencananya untuk memaksa dirinya tinggal di rumah kontrakannya.
“Aku sudah pikirkan masalah itu, Ayah dan Bunda sudah menyuruh Mak Ijah untuk tinggal di sini bersama kita,” jawab Alex santai.
__ADS_1
“Apa?” Alita tak percaya Alex benar-benar sudah merencanakan penjara untuk dirinya.
“Sebetar lagi Mak Ijah akan tiba di sini, kamu tidak boleh ke mana-mana. Tunggu dia sampai datang, aku ada urusan keluar sebentar,” ujar Alex.
Alita pun mendengus kesal.
Alex keluar dari rumah kontrakannya menggunakan sepeda motor gede miliknya. Pria berpostur tubuh sempurna itu memang lebih hobbi pergi ke mana-mana dengan menggunakan sepeda motor.
Alex memilih pergi meninggalkan Alita, dia takut emosinya semakin membuat kepalanya pusing. Alex pergi ke sebuah kafe untuk menenangkan pikirannya.
Saat menyeruput kopi yang sudah terhidang di hadapannya, ponsel Alex berdering pertanda sebuah pesan masuk.
💌 Sayang
Pesan dari Irene.
^^^💌 Ada apa, Sayang?^^^
💌 Aku lagi ada masalah.
^^^💌 Masalah apa?^^^
💌Lagi-lagi Ayah ingin menjodohkanku dengan pria pilihannya.
^^^💌Astaghfirullah, kita harus bagaimana?^^^
💌 Aku enggak bisa seperti ini terus.
^^^💌Ya udah, kamu tenang ya.^^^
^^^💌Aku akan pulang ke Padang.^^^
💌 Kapan?
^^^💌Secepatnya, aku sedang selesaikan masalah Alita di sini.^^^
^^^💌Aku akan pikirkan solusi dari masalah ini.^^^
💌Makasih ya, Sayang.
💌Aku tidak mau menikah dengan siapapun selain dengan kamu.
^^^💌Iya. Aku juga tidak mau kehilangan kamu.^^^
Alex pun mengusap wajahnya kasar, dia bingung harus berbuat apa. Lagi-lagi ayah dari sang kekasih menjadikan putrinya sebagi tumbal demi kesuksesan perusahaannya.
“Arrrggh,” teriak Alex.
Seorang pria di samping Alex menoleh ke arahnya saat mendengarkan teriakan Alex. Pria itu kaget saat melihat orang yang pernah dikenalnya terlihat sedang risau.
Bersambung...
__ADS_1