Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 251


__ADS_3

Alita berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi, Bunda Hurry melihat putrinya yang sudah bangun.


"Kamu udah bangun, Sayang?" tanya Bunda Hurry saat Alita sudah keluar dari kamar mandi.


"Iya, Bun." Alita mengangguk.


"Kamu mau shalat?" tanya Hurry pada putrinya.


"Mhm, iya," jawab Alita.


"Oh, di sini ada mukena Bunda." Hurry teringat masih membawa mukenanya yang lain.


Hurry mengambilkan mukena miliknya lalu memberikan mukena tersebut pada putrinya.


"Berdo'a dan bermohonlah pada Allah atas apa yang saat ini menimpa kita," nasehat Bunda Hurry.


Alita mengangguk lalu mengambil mukena yang diberikan sang Bunda.


Alita memulai shalatnya dengan shalat taubat, dia memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukannya di masa lalu.


Setelah itu dilanjutkannya dengan shalat sunat tahajud dan shalat sunat fajar hingga waktu shalat subuh masuk.


Saat waktu shalat subuh masuk, Hurry berdiri sebagai imam untuk putri dan menantunya.


Usai mereka shalat subuh, Irene mendekati Alita.


“Kapan kamu datang?” tanya Irene pada Alita heran dengan kedatangan adik iparnya itu.


“Tadi malam,” lirih Alita sendu.


Irene menautkan kedua alisnya bingung melihat alita yang terlihat sedang bersedih, Irene menoleh ke arah ibu mertuanya seolah meminta jawaban dari pertanyaan yang ada di dalam hatinya.


“Raymond ditangkap polisi karena dituduh sebagai dalang kecelakaan yang terjadi pada kalian,” ujar Bunda Hurry memberitahu alasan Alita datang ke rumah sakit.


“Tapi, Bun. Raymond ingin menyelamatkan aku dari Varo,” bantah Irene.


“Iya, Sayang. Tapi, kita tidak bisa melawan hukum dengan sanggahan semata. Kita harus memiliki bukti-bukti dan saksi-saksi,” ujar Hurry.


“Ya Allah, betapa buruknya diriku ini. Semua yang terjadi dalam keluarga besar ini semua adalah kesalahanku,” gumam Irene di dalam hati.

__ADS_1


Buliran bening kini mulai jatuh membasahi pipi Irene, dia menatap kosong ke depan. Hurry heran melihat Irene.


“Ren, kamu kenapa?” tanya Hurry pada menantunya.


“Ini semua salahku,” lirih Irene mulai menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu.


Hurry dan Alita saling melempar pandangan, mereka menautkan kedua alis. Mereka heran mendengar pernyataan dari Irene.


“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Alita heran.


“Kalau saja aku tidak pergi dari kafe dan bertemu dnegan Varo, hal ini semua takkan terjadi,” ujar Irene.


Tangis Irene mulai pecah, lagi-lagi Irene kembali menangis meratapi kebodohannya. Tiba-tiba Irene teringat sesuatu.


“Di hari itu kenapa aku bisa berada di dalam mobil Varo? Apa yang terjadi padaku?” gumam Irene di dalam hati.


Irene mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air mata.


“Bun, aku harus ke kantor polisi untuk menjelaskan pada mereka, bahwa Raymond dan Alex di hari itu ingin menyelamatkan aku dari Varo yang ingin menculik ku,” ujar Irene.


Irene langsung berdiri dan membuka mukenanya, dia bersiap-siap ingin berangkat, tapi Hurry langsung menahan langka sang menantu.


“Ren, kita harus ikuti prosedur. Kita tunggu Raffa datang ke sini dnegan pengacaranya, ya.” Hurry mencegah Irene keluar dari ruangan itu.


“Iya, Sayang. Nanti kita akan bicarakan hal ini dengan Raff dan pengacaranya karena kita sendiri tidak paham hukum,” ujar Hurry berusaha menenangkan Irene.


Irene pun menghela napasnya panjang. Dia pun memilih untuk duduk di sofa setelah berdebat dengan ibu mertuanya.


Irene berusaha menenangkan dirinya, dia membenarkan perkataan ibu mertuanya. Mereka harus memberitahukan hal ini pada Raffa dan pengacaranya.


Irene juga harus menyampaikan apa yang terjadi sebelumnya pada Raffa sedetail mungkin.


Sementara itu di rumah kediaman Raffa semua orang sudah duduk di kursi meja makan masing-masing. Mereka hendak menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh Mak Ijah.


Semenjak Mak Ijah di rumah Raffa, dialah yang membantu mama arumi untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Arumi tidak menganggap Mak Ijah sebagai pembantu tapi dia tetap menyamakan status Mak Ijah sebagai besannya keluarga dari Hurry.


“Kamu sudah hubungi papamu, Fa?” tanya Arumi memulai pembicaraan.


“Sudah, Ma. Papa akan ke sini nanti sore,” jawab Raffa.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu. Masalah ini harus kita selesaikan secepatnya, kasihan Alita,” ujar Arumi.


“Iya, Ma. Mulai hari ini urusan kafe aku akan turun tangan terlebih dahulu, jadi aku akan terlambat pulang. Satu minggu lagi Raffa akan sidang tesis, Ma,” ujar Raffa.


“Iya, enggak apa-apa. Kan ada Mama dan Mak Ijah yang temani Kayla dan 3R di rumah” ujar Arumi.


“Terima kasih ya, Ma. Mama memang ibu yang paling sempurna di dunia ini,” ujar Raffa bersyukur memiliki mama seperhatian Arumi.


“Kamu itu bisa aja, kamu anak mama yang paling ganteng dan baik sekali karena udah kasih mama menantu yang cantik, sholehah serta cucu yang lucu-lucu,” balas Arumi memuji putranya.


“Hahaha.” Mereka pun tertawa mendengar ocehan ibu dan anak tersebut.


Usai sarapan, Raffa berdiri dan melangkah keluar rumah, diikuti oleh Kayla dari belakang. Mumpung 3R sedang tidur jadi dia memiliki kesempatan untuk mengantarkan suaminya berangkat ke kampus hingga teras rumah.


“Sayang, kamu sabar dulu, ya. Hari-hariku akan mulai sibuk, jadi waktuku akan berkurang untuk bersama kalian,” ujar Raffa pada istrinya sebelum dia berangkat.


“Iya, Sayang. Aku paham situasi dan kondisi yang saat ini kita hadapi, semoga masalah ini cepat selesai,” ujar Kayla menanggapi ucapan sang suami.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Raffa pada istrinya.


“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Sayang. Apa pun maslah yang menimpa keluargaku, kamu dan keluargamu selalu ada untuk menyelesaikannya,” ujar Kayla merasa bersalah dengan situasi yang kini dihadapi oleh keluarganya.


“Keluargamu adalah keluargaku, makanya aku akan melakukan apa pun agar di wajah cantik istriku tidak ada kesedihan dan rasa khawatir,” ujar Raffa sambil memegangi dagu istrinya lalu dia mengecup lembut bi*ir sang istri.


“Ish, curi kesempatan,” lirih Kayla sambil mencubit pelan pinggang sang suami.


“Auww, sakit,” ringis Raffa pura-pura kesakitan.


“Bohong,” gerutu Kayla mengerucutkan bibirnya.


“Sekali lagi kamu berekspresi seperti itu, aku tidak jadi berangkat,” ancam Raffa pada istrinya sambil tersenyum.


“Hehe, kamu bisa aja,” lirih Kayla tersenyum manja.


“ya sudah, aku berangkat dulu, ya,” ujar Raffa.


Raffa pun mengulurkan tangannya pada sang istri, dia mengecup puncak kepala istrinya setelah sang istri mencium punggung tangannya.


Raffa melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Dia masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya pada sang istri setelah dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Kayla masuk ke dalam rumah setelah mobil sang suami sudah tak terlihat lagi. DIa langsung menuju kamar 3R untuk memandikan buah hatinya.


Bersambung...


__ADS_2