
“Auw,” pekik Alita meringis menahan sakit.
“Berani sekali kau mendekati Raymond, dia adalah milikku,” bentak Diana kesal pada Alita.
Diana tak sengaja melihat Raymond dan Alita masuk ke dalam kafe, dia langsung mengejar Raymond. Kali ini Diana ingin menjauhkan Raymond dari wanita yang dikiranya hanya istri bohongan Raymond.
Setahu Diana, hati Raymond hanya terisi oleh dirinya seorang, dan tidak mungkin wanita berpenampilan kampungan itu menggantikan posisinya di hati Raymond.
Raymond menatap tajam pada Diana, dia ingin membantu Alita, tapi Alita sudah terlebih dahulu berdiri, dia pun mendorong tubuh wanita yang berpakaian kurang bahan tersebut, wanita yang jauh lebih tinggi dari tubuh Alita itu pun terjatuh ke lantai.
Dengan susah payah Diana berdiri, dia menatap penuh benci pada Alita, dia hendak melayangkan tangannya tepat di wajah Alita.
Dengan sigap Alita menahan tangan gadis yang merasa dirinya paling cantik itu. Alita menghempaskan tangan Diana.
“Jangan pernah kau sentuh aku dengan tangan kotormu!” bentak Alita.
“Satu lagi!” Alita meruncingkan telunjuknya tepat di depan wajah Diana.
“Aku adalah istri sah Raymond! Sekali saja kau berani mendekati suamiku, Ku habisi kau!” ancam Alita.
Raymond terdiam melihat ALita yang bersikap bar-bar pada wanita yang ingin menggodanya. Raymond merasa kagum dengan sikap Alita, di saat seperti ini Alita bisa membela dirinya sendiri dan menjaga suaminya dari biang pelakor.
Semua mata yang ada di kafe sejak tadi menatap takjub dengan aksi Alita yang mempertahankan harga dirinya.
Raymond melangkah maju mendekati Diana, dia berdiri tepat di depan Alita.
“Kau sudah dengar apa yang dikatakan istriku, mulai saat ini kita tak ada hubungan apa-apa lagi. Pergilah! Menjauhlah dari hidupku!” ujar Raymond tegas.
Raymond tidak bisa bersikap kasar pada Diana karena Diana pernah menjadi orang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Walaupun Diana pernah menyakitinya tapi dia tak bisa membalas luka yang telah ditorehkan wanita itu.
“Ray, kamu pasti berbohyon! Kamu pasti bersandiwara!” teriak Diana tak menerima apa yang dikatakan oleh Alita.
“Security!” teriak Raymond.
Dia merasa muak menghadapi Diana, akhirnya Raymond memilih memanggil security agar tak terjadi keributan yang lebih panjang lagi.
Seorang security datang menghampiri Raymond.
“Pak, bawa wanita ini keluar dari kafe ini! Saya tidak mau melihat wanita ini masuk ke dalam kafe ini sampai kapan pun!” perintah Raymond pada Security.
“Siap, Tuan!” seru si security.
Security hendak menarik tangan Diana.
“Jangan sentuh!” bentak Diana pada si Security itu.
“Jika anda tidak mau disentuh, maka silakan anda keluar dari kafe ini,” ujar Security geram pada Diana.
Diana melangkah keluar sambil menghentakkan kakinya diikuti oleh Security di belakangnya.
“Apa liat-liat?” bentak Diana pada pengunjung kafe yang masih saja menatap jijik ke arahnya.
“Ye, dasar wanita murahan!”
__ADS_1
“Biang pelakor tuh, enggak ada malunya,”
Beberapa orang wanita mulai mengumpat tingkah Diana yang tak pantas ditiru.
‘
Diana melangkah keluar meninggalkan café,
“Menyebalkan gadis kampung itu!” umpat Diana di dalam hati.
Setelah itu Diana meninggalkan kafe dengan kesal, dia mencoba berpikir untuk melakukan balas dendam pada Alita.
“Yuk duduk,” ajak Raymond.
Raymond merangkul pundak Alita dan menuntunnya untuk duduk di kursi, Alita duduk tepat di samping sang suami.
Hatinya masih berdebar, nafasnya masih tersengal-sengal menahan amarahnya pada wanita ular itu.
Seketika Alita mengingat apa yang sudah dilakukannya terhadap kakak kandungnya. Rasa sakit hati seorang istri di saat wanita lain hendak mendekati suaminya kini tengah dirasakannya.
Alita bermenung, dan tanpa di sadarinya air matanya mulai meneteskan buliran bening di pipinya. Air mata penyesalan kembali ditumpahkannya.
Raymond kaget dan heran melihat istrinya yang tiba-tiba menangis.
“Kamu kenapa, Al?” tanya Raymond langsung pada sang istri.
Alita langsung merebahkan kepalanya di bahu sang suami, dia mulai menangis tersedu-sedu menyesali apa yang sudah diperbuatnya pada kakak kandungnya.
“Hei, ada apa?” tanya Raymond heran pada Alita.
Alita tak menghiraukan ucapan sang suami, dia masih saja menangis menyesali apa yang sudah pernah dilakukannya.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Raymond.
Raymond kembali mencoba membuyarkan lamunan sang istri
"A-aku terserah kamu aja," jawab Alita tersentak dari lamunannya.
"Ya udah, tunggu sebentar, ya," ucap Raymond.
Raymond memanggil seorang pelayan lalu memesankan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
Seperti biasa Alita akan memakan makanan yang dipesan oleh suaminya juga.
Semenjak mereka menikah, hal ini selalu dilakukan Alita. Setiap kali pergi makan bersama, Alita akan memilih menu yang sama dengan Raymond.
Setelah memesan makanan, Alita masih saja diam menyesali perbuatannya.
"Al," lirih Raymond lagi sambil melambaikan tangannya tepat depan sang istri.
"Mhm," gumam Alita.
"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Raymond heran.
__ADS_1
"Enggak apa-apa," lirih Alita.
Tak berapa lama setelah itu, seorang pelayan datang membawakan makanan yang dipesan oleh Raymond tadi.
"Sudah lah, kita makan dulu." Raymond berusaha membujuk Alita agar berhenti menangis.
Perlahan Alita mulai menghapus air matanya yang sejak tadi jatuh membasahi pipinya.
Alita pun mulai menikmati santap makan malam bersama sang suami.
Usai menghabiskan makanan yang ada di piring mereka. Mereka bersiap-siap untuk keluar dari kafe.
Sebelum pulang Raymond membayar tagihan makannya terlebih dahulu, walaupun dia manager di kafe tersebut, dia tetap harus membayar makanan yang dimakannya.
Setelah itu mereka pun keluar dari kafe, Raymond membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Dia mengitari mobil lalu masuk ke dalam mobil setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman di dalam mobilnya.
Raymond menghidupkan mp3 mobil sebelum melajukan mobil agar suasana tak sunyi jika Alita tak ingin berbicara nantinya.
Raymond mulai fokus mengendarai mobilnya, membelah jalanan kota di malam hari yang kini semakin larut.
Karena suasana hati Alita yang masih dihantui rasa bersalahnya.
Raymond tak lagi banyak bicara, dia membiarkan istrinya yang mungkin saat ini masih sedih, yang Raymond sendiri tidak tahu apa alasan istrinya bersedih.
Setengah jam perjalanan mereka pun sampai di depan rumah Raymond.
Raymond memarkirkan mobilnya di dalam pekarangan rumah.
"Yuk kita turun," ajak Raymond.
Mereka pun turun dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
Alita saat ini sudah mulai mencintai Raymond dan mereka sudah saling mencintai.
Saat di dalam rumah tepat di depan kamar Alita, dia menahan tangan suaminya.
"Mulai hari ini, kita akan tidur dalam satu kamar," lirih Alita pada sang suami.
Mata Raymond berkaca-kaca terharu mendengar permintaan sang istri.
Dia langsung memeluk tubuh sang istri sebagai ungkapan rasa bahagianya.
Baru saja mereka hendak masuk ke dalam kamar, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu rumah.
Raymond menautkan kedua alisnya.
"Siapa yang bertamu? Sudah malam juga," gerutu Raymond.
Dengan langkah malas Raymond melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu.
Betapa kagetnya Raymond melihat tamu yang datang.
__ADS_1
Bersambung...