
Kayla menggelengkan kepalanya, dia menatap Bram dengan penuh tanda tanya.
“Kay, ayah akan jelaskan semuanya,” ujar Bram bingung.
Dia tidak kuat melihat putri kesayangannya kini sudah mulai menangis.
“Tidak, aku nggak mau dengar!” teriak Kayla.
Kayla berdiri dan melangkah meninggalkan ruang makan, Kayla berlari menuju kamarnya. Hatinya terasa hancur lebur, dadanya sesak mengingat perkataan sang ibu.
“Kayla!” Raffa mencoba memanggil istrinya, tapi Kayla berlalu begitu saja. Dia tidak menghiraukan suara Raffa yang memanggilnya.
“Raffa, ayah minta tolong tenangkan Kayla. Ayah akan bicarakan masalah ini dengannya nanti setelah hatinya tenang,” pinta Bram pada menantunya.
“Baik, Yah.” Raffa pun berdiri dari duduknya.
Dia mulai melangkah keluar dari ruang makan meninggalkan mertuanya dan Rayna yang masih duduk di ruang makan.
“Apa maksud Ibu?” tanya Rayna tidak suka mendengar ucapan ibunya barusan.
“Ibu cuma mengatakan yang sebenarnya,” jawab Rita santai.
Rita sudah muak melihat sikap manis suaminya pada gadis yang jelas-jelas bukan anaknya.
“Diam! Kamu tidak ada hak mengatakan hal itu!” Bram membentak istrinya.
Dia sangat kesal dengan apa yang baru saja dilakukan oleh sang istri. Bram memang ingin mengatakan semua kenyataannya, tapi dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan kenyataan pahit yang harus diterima Kayla.
Bram berdiri, dia keluar dari ruang makan meninggalkan Rita dan Rayna yang masih saja diam. Tak berapa lama Rayna pun meninggalkan ibunya sendirian. Rayna melangkah menuju kamarnya.
Raffa membuka pelan pintu kamar Kayla, beruntung Kayla tidak mengunci pintu kamarnya. Raffa melihat Kayla tengah menangis di atas tempat tidur. Raffa melangkah pelan mendekati tempat tidur.
Dia mulai mengelus lembut kepala sang istri.
“Tenanglah, jangan bersedih,” lirih Raffa mencoba menghibur Kayla.
“Bang, aku anak kandung ayah Bram, aku hanya punya satu ayah.” Kayla mulai mengadukan rasa sakit yang ada di hatinya.
“Kalaupun kamu bukan anak kandung ayah Bram, tapi bagi ayah Bram kamu tetap putrinya. Begitu juga sebaliknya.” Raffa menasehati Kayla agar bisa menerima apa pun kenyataan yang ada di hadapannya.
Kayla bangkit dari posisi berbaring.
“Apakah ini alasan ayah Bram tidak mau menikahkanku waktu itu? Dan Apakah ini alasan Ayah Bram tidak mengizinkan aku menyalaminya atau memeluknya setelah aku mulai beranjak dewasa?” Kayla bertanya pada Raffa yang dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Kayla sebelumnya.
“Jawab, Bang!” ujar Kayla memohon.
Terlihat wajahnya begitu terpukul mengetahui kenyataan pahit ini. Raffa tidak kuat melihat wajah sedih sang istri. Dia langsung memeluk Kayla memberi kehangatan dalam dekapannya.
Raffa berusaha menenangkan Kayla hingga akhirnya Kayla tertidur di dalam pelukan sang suami. Raffa pun memperbaiki posisi tidur Kayla. Dia membaringkan tubuh Kayla di atas tempat tidur lalu menyelimutinya.
__ADS_1
Karena lelah, Raffa pun membaringkan tubuhnya di samping Kayla, dia pun menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya lalu dia mulai memejamkan matanya. Mereka pun tertidur.
Pukul 15.15. Kayla terbangun dari tidurnya, dia merasa ada beban yang berat membebani tubuhnya. Kayla menyadari ada tangan kekar sang suami yang kini melingkar di pinggangnya. Kayla berusaha membalikkan tubuhnya. Dengan posisi berhadapan, Kayla dapat menatap dengan jelas wajah polos sang suami di saat tidur.
Wajah tampannya yang teduh membuat hati Kayla semakin jatuh cinta. Jiwanya yang tenang dalam menyikapi berbagai masalah, seketika Kayla melupakan kesedihannya.
“Terima kasih, kamu sudah menjadi pelipur laraku,” lirih Kayla.
Tiba-tiba Raffa membuka matanya, dia melihat bibir mungil sang istri. Raffa tak sanggup menahan diri untuk tidak meraup bibir mungil itu. Dia mendekatkan bibirnya menyentuh bibir sang istri.
“Mmm,” gumam Kayla.
Kali ini Raffa tak hanya mengecup sekilas bibir itu seperti biasa, dia mulai bermain dengan bibir sang istri membuat Kayla susah bernapas.
Kayla merasa getaran yang asing di dalam tubuhnya. Dia mulai menikmati kegiatan yang dilakukan Raffa.
“Mmhhah.” Akhirnya Kayla dapat bernapas setelah Raffa melepaskan bibirnya.
Wajah Kayla memerah karena malu, dia mendorong sedikit tubuh Raffa lalu beranjak turun dari tempat tidur.
Kayla melangkah menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Kayla menutup wajahnya yang sudah memerah.
“Apa yang baru saja aku lakukan? Aku mulai menikmati setiap perlakuan yang dilakukan suamiku. Haruskah aku memberikan haknya?” gumam Kayla di dalam hati.
Ada rasa bersalah menyelinap di hati Kayla Karena hingga saat ini dia belum siap memberikan hak sang suami. Dia masih takut, tapi tak tahu apa yang sebenarnya ditakutinya.
“Ya ampun, aku lupa bawa baju ganti,” lirih Kayla menepuk jidatnya.
Akhirnya Kayla kembali mengenakan baju yang tadi dipakainya, tak lupa dia kembali memasang hijabnya.
Semenjak mereka menikah, hanya satu kali Raffa melihat rambut Kayla, itupun karena tragedi yang dialaminya di hutan saat perkemahan.
Kayla keluar dari kamar mandi.
“Kamu udah mandi?” tanya Raffa pada sang istri.
“U-udah,” jawab Kayla gugup.
“Lalu?” Raffa sengaja ingin menggoda istrinya.
Saat ini melihat wajah istri yang bersemu merah sudah menjadi hobinya.
“Lalu apa?” tanya Kayla pura-pura tidak paham dengan apa yang dimaksud suaminya.
“Hahaha.” Raffa tertawa.
“Nyebelin,” lirih Kayla.
Kayla melangkah mendekati lemari, dia mengambil pakaiannya lengkap dengan hijabnya. Lalu membawa pakaian itu masuk ke dalam kamar mandi
__ADS_1
Raffa tersenyum lucu melihat tingkah sang istri, padahal mereka sekarang bukan lagi orang asing.
Mereka adalah sepasang suami istri yang sudah sah memperlihatkan aurat mereka masing-masing. Raffa memahami sikap Kayla, menurutnya saat ini istrinya belum siap bersikap layaknya seorang istri dihadapan sang suami.
Kayla keluar dari kamar mandi dengan menutupi wajahnya, Raffa semakin tersenyum melihat tingkah sang istri. Raffa mendekati Kayla, lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
“Hah?” Kayla memutar bola matanya, seketika langkahnya terhenti.
“Aku ini suamimu,” bisik Raffa di telinga Kayla.
“Semua yang ada di tubuhmu halal bagiku,” lirih Raffa berhasil membuat bulu kuduk Kayla merinding.
Kayla hanya diam dengan pikiran aneh telah menjalar dibenaknya.
“Astaghfirullah, maafkan aku Tuhan. Aku belum siap,” gumam Kayla pelan yang masih terdengar jelas di telinga Raffa.
“Kapan kamu akan siap menjadi istriku?” tanya Raffa semakin menggoda istrinya.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Jika aku menolak keinginannya, maka Allah akan murka padaku,” gumam Kayla di dalam hati.
Raffa mulai menyentuh perlahan tubuh Kayla, perlahan dia meraba tubuh sang istri. Tangannya bergeser naik dari pinggang ke atas. Tubuh Kayla seketika menegang. Dia mematung tanpa ada reaksi apa pun dari perlakuan Raffa padanya.
“Aku pasrah,” lirih Kayla.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Author🙏🙏🙏
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
Terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1