Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 261


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, Alex sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


"Alhamdulillah, kamu sudah berada di rumah," ujar Bunda Hurry saat mereka sampai di rumah kontrakan Alex.


"Alhamdulillah, Bunda. Aku bosan di rumah sakit," ujar Alex.


"Iya, Sayang. Tapi, kamu belum boleh bekerja dulu dalam seminggu ini," ujar Bunda Hurry memberi peringatan.


"Iya, Bunda Sayang," lirih Alex sambil merangkul tubuh sang Bunda.


"Bunda, kita berangkat sekarang?" tanya Raffa setelah mereka mengobrol sejenak.


"Baiklah, kalau begitu. Irene, kamu jaga Alex ya, Nak," ujar Bunda Hurry menitipkan putranya pada sang menantu.


"Iya, Bun." Irene mengangguk.


Tanpa diminta pun, Irene akan menjaga suaminya dengan baik. Irene tak ingin penyesalan datang untuk kedua kalinya.


Setelah itu, Raffa dan Bunda melangkah keluar dari rumah kontrakan Alex, mereka pun masuk mobil dan meninggalkan sepasang suami istri itu.


Di dalam kamarnya, Irene membantu Alex untuk berbaring di tempat tidur setelah semua keluarga pergi meninggalkan rumah kontrakannya.


"Aku belum mau tidur," lirih Alex menolah untuk dibaringkan di atas tempat tidur.


"Lalu?" tanya Irene.


"Aku ingin bersandar sejenak, bosan baringan terus," jawab Alex.


Irene pun membantu Alex untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


Setelah itu, Irene merapikan barang-barang Alex yang dari rumah sakit.


"Ren," panggil Alex.


Irene menghentikan pekerjaannya lalu dia menoleh ke arah sang suami.


Alex tersenyum, dia menepuk kasur tepat di sampingnya memberi isyarat pada sang istri untuk duduk di sampingnya.


Irene meninggalkan pekerjaannya begitu saja, lalu dia melangkah menghampiri tempat tidur dan duduk tepat di samping sang suami.


Irene menatap dalam pada wajah tampan yang masih terlihat pucat.


"Sayang," lirih Alex sambil menggenggam erat tangan sang istri.


Alex menatap sayu pada wajah istri yang masih sangat dicintainya.


"Mhm," gumam Irene.


"Maukah kamu berjanji?" tanya Alex.


"Janji?" Irene menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Janji untuk tetap menjadi istriku. Dan mulai menjadi istri yang baik untukku dan ibu untuk calon anak-anak kita nantinya," pinta Alex penuh harap.


Irene langsung memeluk tubuh sang suami saat mendengar permintaan sang suami.


Irene menangis di dalam pelukan pria tampan yang semakin hari terlihat semakin kurus.


Tubuh kekarnya dan bobot tubuh idealnya hilang karena kesibukan yang harus dijalaninya.


"Maafkan aku, selama ini aku terlalu banyak menuntut. Mulai saat ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu, jangan pernah bosan untuk tetap membimbing aku," ujar Irene penuh penyesalan.


Alex mengangkat tangannya, lalu membelai lembut kepala sang istri.


"Sampai kapanpun, aku akan tetap berusaha tetap mencintaimu. Mari kita bina kembali rumah tangga kita," ujar Alex.


Irene terharu mendengar ucapan suaminya. Pria yang sudah disia-siakan ternyata masih sangat mencintainya.


Dia pun mulai berjanji di dalam hati untuk tetap berusaha menjadi pendamping terbaik dalam hidup suaminya.


Alex mengangkat dagu sang istri, lalu mengecup pelan bi*bir wanita yang dicintainya itu.


Rasa rindu yang sudah lama tak bersentuhan membuat kecupan ringan itu menjadi suatu hal yang menuntut lebih.


Sepasang suami istri itu pun kini hanyut dalam balutan cinta yang kembali membara setelah melewati prahara rumah tangga serta ujian dalam hidup mereka.


Irene melakukan kewajibannya sebagai sang istri dengan tulus, kini dia siap untuk menjadi istri bagi seorang Alex.


Keesokan harinya pada pukul 03.30 dini hari, Irene bangun dari tidurnya.


Irene bangkit dari posisi tidurnya, lalu mulai melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Sayang," lirih Irene berbisik di telinga Alex setelah dia selesai membersihkan diri.


Irene meletakkan tangannya di pipi Alex, berusaha untuk membangunkan sang suami.


"Mhm," gumam Alex saat merasa tidurnya mulai terganggu.


Dia membuka matanya, dia melihat sosok sang istri sudah bersih dengan rambutnya yang sudah tersisir rapi yang masih basah.


"Kamu sudah mandi?" tanya Alex kaget melihat Irene sudah bersiap-siap untuk melaksanakan shalat sunat tahajud dan shalat sunat lainnya menjelang waktu subuh masuk.


"Udah, kamu bangun, ya. Aku mau shalat dulu," ujar Irene mengembangkan senyuman indah di wajahnya.


"Alhamdulillah, aku senang saat bangun tidur sudah mendapati calon bidadari surga yang siap untuk beribadah pada Sang Pencipta.


Alex merengkuh tubuh sang istri hingga Irene jatuh ke dalam pelukan sang suami.


Alex mengecup pelan puncak kepala sang istri, lalu dia pun melepaskan pelukannya dan berusaha bangun dari tidurnya.


Alex pun melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah pada Tuhannya.


Irene mulai melaksanakan shalat tahajud setelah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh sang suami sesudah mandi nanti.

__ADS_1


Usai melaksanakan shalat tahajud, Irene pun mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil menunggu waktu shalat subuh masuk seperti yang biasa dilakukannya saat berada di rumah sakit.


Saat waktu subuh masuk, sepasang suami istri itu pun melaksanakan shalat subuh berjamaah di rumah, Alex yang biasa shalat subuh di mesjid, sementara waktu shalat di rumah bersama istrinya hingga dia benar-benar pulih nantinya.


Usai shalat subuh, Irene langsung menuju dapur untuk memasak. Mulai hari ini dia akan belajar memasak untuk sang suami, sedangkan Alex membaca Alquran di ruang keluarga.


Mereka memulai membina rumah tangga mereka dengan baik.


****


Raymond dan Alita baru saja sampai di rumah setelah melewati makan malam yang sangat romantis yang sengaja disiapkan Raymond untuk istrinya yang kini benar-benar sudah mencintai dirinya.


Sejak Raymond keluar dari penjara mereka baru sempat melewati malam bersama karena Raymond sibuk mengurusi kafe.


Apalagi saat ini mereka mulai membuka cabang baru yang akan dikelola langsung oleh Raymond dalam proses pendirian dan perekrutan karyawannya.


"Sayang, aku mau bersih-bersih dulu sebelum tidur," ujar Raymond pada istrinya.


Alita mengangguk lalu dia mulai mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bener malam terakhir mereka memang melewati malam dalam satu kamar. Namun, Raymond belum menyentuh Alita selain memeluk tubuh istrinya karena dia merasa lelah usai bekerja.


Raymond keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sepinggang.


"Aaaak," pekik Alita kaget melihat tubuh kekar sang suami yang memamerkan dada bidang nan kokoh serta perut rata kotak-kotak bagaikan roti sobek.


"Kenapa?" tanya Raymond melangkah mendekati sang istri.


"Ka-kamu," lirih Alita yang masih menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Raymond sangat suka melihat ekspresi sang istri. Perlahan Raymond menurunkan tangan istrinya dari wajahnya.


"Aku ini suamimu," bisik Raymond menggoda sang istri yang kini berusaha keras menahan malu.


Wajah Alita kini memerah bagaikan tomat masak. Tanpa menunggu aba-aba, Raymond menarik tubuh Alita ke dalam dekapannya lalu dia mulai mencu***i sang istri.


Hal yang ditunggu Raymond selama ini akhirnya di dapatkannya. Kini dia sudah memiliki Alita seutuhnya.


Malam panjang mereka lewati dengan kehangatan yang belum pernah mereka lewati selama ini. Hingga akhirnya mereka tertidur pulas dalam dekapan cinta yang kini mulai membakar jiwa mereka.


Saat waktu subuh masuk Alita terbangun dari tidurnya, dia merasakan semua tulang-tulangnya seakan remuk.


Dia kembali mengingat malam panjang yang takkan pernah terlupakan, rasa s akut bercampur nikmat menyatu dalam jiwanya.


Dia menatap wajah tampan suami yang masih tertidur dengan pulas.


Perlahan Alita bangun, dan turun dari tempat tidur. Sebelumnya dia meraih handuk yang tergeletak begitu saja di atas lantai.


Tiba-tiba.


"Aaaakkkhh," pekik Alita ketakutan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2