
"Apa maksud kamu, Raffa?" tanya Arumi bingung.
"Aku tiba-tiba teringat pada Zahra, Ma," jawab Raffa jujur.
Arumi menoleh ke arah Surya mereka saling melempar pandangan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Arumi dan Surya mengerti perasaan Raffa yang kehilangan Zahra selama 14 tahun yang lalu.
"Fa, kalaupun kamu kembali bertemu dengan Zahra, kamu tidak boleh melukai Kayla. Saat ini Kayla adalah istrimu yang harus kamu jaga hatinya," ujar Surya dengan bijaksana setelah mereka sempat hening sejenak.
"Iya, Pa. Aku akan coba untuk tidak lagi memikirkan Zahra," ujar Raffa.
Dia sadar, Zahra yang ditemukannya belum tentu Zahra cinta pertamanya dulu. Raffa harus menyelidiki terlebih dahulu apakah Zahra yang tadi berjumpa dengannya adalah Zahra teman kecilnya.
Di dalam kamar, Kayla membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah menunaikan ibadah shalat isya.
Dia memilih untuk beranjak tidur, walaupun sikap Raffa hari ini membuatnya susah untuk memejamkan mata.
Setelah beberapa kali dia membalikkan badannya di atas tempat tidur, akhirnya Kayla pun dapat tertidur dengan membawa kesedihan di hatiku.
Selang beberapa menit Kayla tertidur, Raffa masuk ke dalam kamar.
Raffa menatap dalam pada paras teduh yang tengah terbaring di atas tempat tidur.
Dengan langkah pelan dia mendekati wanita yang telah beberapa bulan menjadi istrinya.
"Maafkan aku," lirih Raffa.
Raffa dapat merasakan kesedihan sang istri dari raut wajahnya yang tertidur dalam luka.
Dia mengelus lembut kepa sang istri lalu mengecup pelan puncak kepala wanita itu, setelah itu dia pun beranjak melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu' dan bersiap-siap melaksanakan shalat isya.
Setelah selesai melaksanakan shalat isya, Raffa melangkah menuju sebuah ruangan yang terdapat di kamar Raffa, ruangan yang biasa Raffa gunakan untuk belajar atau melakukan aktifitas yang membutuhkan konsentrasi penuh.
Raffa duduk di kursi, lalu membuka laci meja yang ada di hadapannya, dia mengeluarkan sebuah kotak dari laci meja.
Raffa membuka kotak tersebut, lalu mengeluarkan sebuah kalung kecil dari kotak itu. Dia juga mengambil kalung yang tadi ditemukannya di cafe.
Dia menggandengkan kedua kalung itu, dan memperhatikan dengan seksama kalung yang kini terletak di atas meja. Kedua gelang tersebut terlihat sangat sama persis dan tidak ada bedanya sama sekali.
"Ya Allah, beri aku petunjuk untuk mengungkap kenyataan yang sebenarnya, agar aku bisa mengambil sikap dalam melanjutkan kehidupanku berikutnya," lirih Raffa.
Lebih satu jam Raffa tenggelam dalam kenangan masa lalunya dengan Zahra sambil memegang dua kalung itu.
Kayla terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya sambil meraba-raba tempat tidur yang ada di sampingnya.
Kayla masih belum mendapati sang suami berada di dalam kamar. Dia pun melihat jam dinding yang menempel di dinding. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 23.15. Hatinya mulai gundah karena Raffa belum kunjung masuk ke dalam kamar.
Dia mengubah posisinya berbaringnya menjadi posisi duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
Kayla mengambil ponselnya, dia mencoba memanggil nomor suaminya. Namun, saat panggilan tersambung, terdengar dengan jelas suara ponsel Raffa yang terletak d tas nakas tempat tidur.
Raffa tersentak saat mendengar ponselnya berdering, dia pun menyimpan dan kalung itu dan kembali memasukkannya ke dalam laci.
__ADS_1
Raffa bangkit dari duduknya, dia melangkah keluar dari dalam ruangan itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Raffa pada istrinya saat mendapati Kayla tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
Kayla menoleh ke arah datangnya Raffa, dia hendak turun dari tempat tidur.
"Tidurlah, aku juga hendak tidur," ujar Raffa pada istrinya.
Raffa pun mendekati tempat tidur, dia naik ke atas tempat tidur lalu menarik tubuh Kayla agar jatuh ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Raffa pelan pada Kayla.
Kayla mengangguk.
"Ya sudah, sekarang tidurlah. Kamu akan tertidur lelap dalam pelukanku," lirih Raffa.
Raffa menuntun istrinya untuk kembali berbaring. Dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Kayla pun membenamkan wajahnya di dada kokoh sang suami, berusaha kembali memejamkan matanya.
Kecupan lembut dan elusan tangan Raffa membuat kantuk mulai menyerang Kayla, hingga akhirnya Kayla pun tertidur dengan lelap.
****
Hari ini Raffa dan Arumi mengajak Kayla untuk shoping membeli beberapa pakaian baru. Raffa sengaja membawa Kayla ke butik 'Bunda Hurry' karena butik itu merupakan butik terbaik di kota Padang.
Arumi juga sudah terbiasa berbelanja di butik sahabatnya itu, karena kualitas dan modelnya sangat cocok di hati Arumi.
"Arumi, kamu datang?" Sambut Hurry saat melihat sahabatnya masuk ke dalam butik miliknya.
"Siang, Bunda," sapa Raffa dan Kayla ramah.
Kayla menyalami wanita yang sudah beberapa kali dijumpainya. Melihat kedekatan Arumi dan Raffa pada wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya maupun ibu mertuanya, membuat Kayla juga merasa dekat dengan wanita yang senang dipanggil dengan sebutan 'Bunda'
"Ada kabar apa, nih?" tanya Hurry ramah.
"Mhm, aku mau cari beberapa pakaian untukku dan mungkin beberapa juga untuk Kayla," jawab Arumi dengan senyum ramahnya.
"Oh, gitu. Duduk dulu, yuk!" ajak Hurry lalu menggiring tamu terhormatnya ke sebuah sofa yang terdapat di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi oleh beberapa model pakaian yang terpajang di sana.
"Agung mana, Bun?" tanya Raffa pada Hurry karena tidak melihat Agung di butik itu.
"Dia sedang menjemput beberapa produk," jawab Hurry singkat.
"Merry, tolong ambilkan minuman dingin untuk tamu kita, ya," pinta Hurry pada salah satu karyawannya yang sedang merapikan beberapa pakaian.
"Baik, Bun," jawab Merry.
Merry langsung melangkah ke arah belakang dari butik itu, lalu mengambilkan beberapa minuman dingin yang tersedia di kulkas dapur. Hurry memang sengaja menyediakan minuman kemasan di dapur agar dia bisa menjamu pelanggan terhormatnya.
"Mau cari pakaian untuk apa, nih?" tanya Hurry pada Arumi.
Terlihat Arumi sedang membolak-balikkan majalah model yang tersedia di atas meja.
__ADS_1
"Yang ini masih ada, Hur?" tanya Arumi memperlihatkan model baju yang tertera di majalah.
Hurry memiringkan tubuhnya mendekati Arumi, dia melihat sebuah foto model yang ditunjuk Arumi.
"Oh, yang itu. Masih," jawab Hurry.
"Mhm, yang ini aku sama Kayla bisa couple, kan?" tanya Arumi meminta pendapat sahabatnya.
"Bisa dong, model ini cocok untuk semua generasi," ujar Hurry.
"Kenapa harus couple segala sih, Ma?" protes Raffa pada mamanya.
"Biarin, mama mau ngerasain punya anak perempuan, dengan hal ini mama senang bisa punya pakaian sama dengan putri mama," ujar Arumi membela diri.
"Merry tolong ambilkan, pakaian model ini, ya," pinta Hurry pada Merry yang baru saja datang membawakan minuman.
"Baik, Bun. Tunggu sebentar!" ujar Merry.
Dia pun melangkah menuju rak yang terletak di pojok ruangan.
"Kayla, kamu suka kan model ini?" tanya Arumi memastikan selera Kayla.
"Iya, Ma. Aku suka," jawab Kayla.
Sepanjang interaksi yang mereka lakukan, Hurry merasa semakin dekat dengan Kayla.
Perhatian Hurry tak jauh dari Kayla, hingga saat Kayla merunduk mengambil minuman yang tersedia di atas meja mengulurkan tangannya hingga lengan baju sedikit terangkat.
Hurry dapat melihat jelas sebuah tanda lahir yang melingkar di pergelangan tangan wanita itu.
"Kayla, kamu punya tanda lahir?" tanya Hurry penasaran.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
__ADS_1
-Vote
Terima kasih atas dukungannya πππ