
"Masuklah dan beristirahatlah!" perintah Satya pada Rayna saat mereka telah berada di depan kamar Rayna.
"Tidak, aku tidak akan tidur di sini," bantah Rayna.
Satya menautkan kedua alisnya.
"Terserah," ujar Satya cuek.
Satya melangkah masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rayna.
Rayna mengikuti langkah Satya dan ikut masuk ke dalam kamar pria itu.
Bergegas Rayna mengunci kamar itu.
"Aku kan istrimu, jadi aku harus tidur satu kamar denganmu!" ujar Rayna cuek.
Rayna mengantongi kunci kamar di celana kulot yang dikenakannya.
Rayna sengaja masuk ke dalam kamar Satya dan berharap pria itu akan tidur di sofa karena dia tidak akan mungkin tidur bersama gadis yang bukan muhrimnya.
Rayna akan menyiksa pria yang sudah berani menyeretnya hingga masuk hotel.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Satya heran melihat tingkah gadis itu.
"Aku akan mewujudkan apa yang kau inginkan, kau mengatakan pada orang-orang bahwa aku adalah istrimu. Maka aku akan tidur di sini," ujar Rayna cuek.
Rayna melangkah mendekati tempat tidur, lalu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.
Dengan cuek dia memejamkan matanya tanpa memperdulikan Satya yang protes dengan sikapnya.
"Dasar cewek aneh," gerutu Satya.
Satya pun melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu' dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Satya tak lagi menghiraukan gadis gila yang sudah tertidur di atas tempat tidurnya.
Satya mengambil bantal, lalu membawanya ke sofa yang terdapat di dalam kamar itu.
Satya memilih tidur di sofa daripada dia tidur di samping gadis yang bukan muhrimnya.
****
Keesokkan harinya, pukul 04.00 sebelum subuh.
Kayla terbangun dari tidurnya, dia merasakan seluruh badannya remuk, seakan semua tulangnya patah karena lelah melayani hasrat suaminya yang sudah lama terpendam.
Bagian bawahnya pun terasa sangat nyeri, hal itu membuat Kayla merasa berat untuk bangun dari posisi tidurnya.
Raffa terbangun saat Kayla hendak membalikkan tubuhnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Raffa melihat wajah istrinya yang terlihat pucat.
Raffa menaikan selimut untuk menutupi tubuh Kayla yang masih belum mengenakan apa pun karena ulahnya tadi malam.
"Sayang," lirih Raffa khawatir saat melihat sang istri terlihat menahan rasa sakit.
"Bang, aku merasa semua tubuhku sakit." Kayla mengadukan apa yang kini dirasakannya.
__ADS_1
"Sakit?" tanya Raffa cemas.
Pergulatan panas yang semalam dilakukan Raffa membuat sang istri merasa lelah walau dia juga menikmati hal itu.
Raffa langsung meletakkan tangannya di dahi Kayla, mencek suhu tubuh sang istri.
"Mungkin kamu kelelahan, kamu mandi dulu, ya. Dengan mandi air hangat rasa lelahmu akan hilang," ujar Raffa.
Raffa meraih pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu mengenakan pakaian itu.
Setelah itu Raffa membawa Kayla dengan menutupi tubuhnya dengan selimut. melangkah menuju kamar mandi.
Raffa membaringkan tubuh sang istri di dalam bathup, lalu menghidupkan keran air hangat.
Raffa membantu Kayla untuk mandi dan membersihkan diri.
Setelah Kayla selesai mandi, Raffa mengambil handuk dan membantu Kayla melangkah keluar dari kamar mandi.
Terlihat Kayla mulai segar, dia mengenakan pakaiannya dengan bantuan sang suami.
Saat ini tak ada lagi rasa malu di antara mereka, rasa malu itu telah membuat mereka menyatu.
"Sudah mendingan?" tanya Raffa pada istrinya.
"Sudah." Kayla mengangguk.
"Bagus, bersiaplah untuk shalat subuh. Aku akan mandi terlebih dahulu, kita akan melaksanakan shalat subuh berjamaah," ujar Raffa sambil mengelus lembut kepala sang istri.
Dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat azan subuh berkumandang, dua insan itu melakukan shalat sunat rawatib sebelum subuh, setelah itu mereka menunaikan shalat subuh berjama'ah.
"Sayang," lirih Kayla.
Dia mulai mencoba memanggil sang istri dengan sebutan yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih atau suami istri.
"Mhm," gumam Raffa merasa bahagia dengan panggilan yang baru saja terlontar dari bibir mungil istrinya.
Dari awal Raffa yang terlebih dahulu memanggil Kayla dengan sebutan sayang, sejak rasa cinta hadir di hatinya.
"Aku lapar," rengek Kayla sambil mengelus perutnya.
Mereka yang tadinya hanya duduk bersantai di sofa saling meluapkan rasa cinta yang ada di hati mereka, kini bersiap-siap untuk check out dari hotel, karena mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Payakumbuh.
Raffa menghubungi Satya, dan mengajak mereka bertemu di restoran hotel untuk sarapan.
"Kakak!" teriak Rayna saat melihat sang kakak telah duduk di dalam restoran hotel.
Kayla hanya tersenyum melihat sang adik yang melangkah beriringan dengan Satya.
"Mukanya kenapa, Dek"p tanya Kayla yang heran melihat wajah adiknya dilipat kayak baju yang baru disetrika.
"Tuh, si cowok nyebelin," tunjuk Rayna dengan memonyongkan bibirnya ke arah Satya.
"Resiko ngintilin suami istri bulan madu," sindir Satya cuek.
Dari awal, Raffa memang menyiapkan perjalanan ini untuk bulan madu.
__ADS_1
Namun, kehadiran Rayna di tengah-tengah mereka membuat Raffa terpaksa meminta Satya untuk menjaga Rayna selama perjalanan mereka.
"Apa? Kakak, apakah yang dikatakan pria menyebalkan ini benar?" tanya Rayna tak percaya.
Kayla hanya bisa menggelengkan wajahnya sambil menoleh ke arah Raffa. Kayla menatap suaminya meminta penjelasan dari pertanyaan sang adik.
"Yang dikatakan Satya memang benar, tapi aku tidak ingin mengecewakan istriku dan adik iparku, untuk itu aku memutuskan untuk membawa Rayna dalam perjalanan ini. Toh, ada Satya yang akan menemaninya dari pada pria jomblo ini menunggu kita tanpa ada yang menemani," jelas Raffa sambil tersenyum pada pria yang terpaut satu tahun di atasnya.
Satya hanya menghela napas kasar mendengar penjelasan majikannya sekaligus sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adiknya.
"Tapi, Mas. Pria ini sangat menyebalkan," rengek Rayna mengadu pada sang kakak ipar.
"Satya memang seperti itu, tapi asalnya baik," ujar Raffa sambil melirik ke arah Satya yang hanya diam seribu bahasa.
"Sudah, ayo makan!" ajak Raffa.
Raffa dan Kayla sudah memesan makanan sebelum Rayna dan Satya datang.
Makanan yang sudah terhidang hampir saja dingin ulah perdebatan yang tak ada ujungnya.
Akhirnya mereka menikmati menu sarapan yang sudah tersedia di atas meja.
Tak ada suara yang terdengar di antara mereka, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu terdengar bagaikan musik yang menemani santap pagi mereka.
Pukul 09.00.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Payakumbuh, tapi sebelum itu mereka mengunjungi tempat yang patut dikunjungi saat berada di kabupaten Agam yaitu puncak lawang.
Sebuah lokasi wisata yang terdapat di puncak perbukittan dengan menghadirkan pemandangan danau Maninjau nan indah terhampar dari pinggir puncak tersebut.
Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan melewati perjalanan mendaki.
"Astaghfirullah," Satya menginjak pedal rem mendadak.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya πππ