Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 143


__ADS_3

Sepasang suami istri itu menoleh ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


"Kayla," pekik Arumi histeris.


Arumi panik saat mendapatkan kabar tentang Kayla dari Raffa, dia langsung meminta suaminya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Dia sangat mengkhawatirkan keadaan menantu dan calon cucunya.


"Mama, kenapa histeris begitu?" tanya Raffa pada mamanya sambil tersenyum.


"Kay, kamu baik-baik saja, kan? Janin kamu gimana, Sayang." Arumi mengabaikan pertanyaan putranya.


Dia langsung mendekati Kayla yang juga ikut tersenyum melihat tingkah mama Arumi.


"Alhamdulillah, aku sama calon bayiku baik-baik saja, Ma," jawab Kayla.


"Syukurlah, Nak. Mama khawatir dengan keadaan kalian," ujar Arumi menghela napas lega.


"Alhamdulillah, kami bersyukur kamu baik-baik saja," ujar Surya ikut menimpali.


Raffa tersenyum senang melihat kedua orang tuanya sangat perhatian pada istrinya.


"Kata dokter Kayla hanya shock, makanya terjadi pendarahan, dokter minta Kayla lebih banyak istirahat." Raffa menjelaskan keadaan sang istri pada kedua orang tuanya.


"Lalu tangan kamu kenapa, Fa?" tanya Surya pada putranya khawatir.


"Mhm, ini,--" Raffa memutar otaknya mencari jawaban yang tepat.


"Kenapa, Sayang?" Arumi mendesak Raffa.


"Mhm, begini ma,... " Kayla menceritakan apa yang telah terjadi pada kedua orang tua Raffa.


Arumi tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi pada anak dan menantunya.


"Alhamdulillah, kalian selamat. lalu bagaimana keadaan Alita, adikmu?" tanya Arumi pada Kayla.


"Alhamdulillah, Alita selamat karena Bang Raffa sudah menolongnya," jawab Kayla.


"Syukurlah kalau begitu, lain kali kalian harus lebih hati-hati," nasehat Arumi pada anak dan menantunya.


Raffa hanya mengangguk, dia tidak bisa menyimpan apa yang sebenarnya terjadi dari kedua orang tuanya.


Arumi dan Surya bersyukur, Allah masih memberikan perlindungan kepada anak dan menantunya.


Di kediaman keluarga Hendra, setelah selesai makan malam Alita langsung masuk ke kamarnya.


Sementara itu, Hurry yang masih penasaran dengan permasalahan yang terjadi di antara kedua putrinya, usai membersihkan meja makan, Hurry pun masuk ke dalam kamar Alita.

__ADS_1


"Kamu lagi apa, Sayang?" tanya Hurry pada Alita yang sedang berbaring dan asyik memainkan ponselnya.


"Mhm, enggak ada, Bun." Alita bangun dari posisinya berbaring nya.


Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Hurry melangkah masuk ke dalam kamar Alita, yang memang disediakan oleh Hendra.


Kasih sayang mereka pada ketiga anak adik mereka yang sudah tiada sama dengan kasih sayang mereka pada kedua putra mereka.


Mereka menyediakan masing-masing putri mereka di rumahnya. Agar setiap kali mereka datang ke rumah Hurry, mereka merasa nyaman. berada di sana.


Hurry duduk di samping Alita. Dia membelai lembut lengan putri keduanya itu dengan penuh kasih sayang.


"Al, bunda mau tanya sesuatu sama kamu?" lirih Hurry.


Alita menghentikan tangannya yang masih asyik memainkan hp. Dia meletakkan ponselnya di atas kasur.


Alita menatap wanita pengganti ibu kandungnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Bunda mau nanya apa?" tanya Alita penasaran.


"Mhm, melihat kamu tidak terima kenyataan bahwa Kayla adalah kakak kandungmu. Kamu menolaknya saat mengetahui bahwa Kayla adalah Ara. Bunda bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi di antara kamu dan Kayla?" tanya Hurry pelan-pelan.


Hurry penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dia antara kedua putrinya. Dia tidak ingin Alita merasa tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


Alita terdiam lama, wajahnya mulai murung. Dia menatap kosong ke depan, menginat luka di hatinya.


"Al," lirih Hurry menunggu jawaban dari Alita.


"Bun, saat ini aku sudah menerima Kak Kayla sebagai kakak kandungku, jadi aku minta sama bunda jangan pernah lagi tanyakan masalah ini padaku. Aku tak ingin mengingat hal itu lagi," jawab Alita.


Alita enggan memberitahukan masalahnya dengan Kayla pada Bunda Hurry.


"Huhft." Hurry menghela napasnya panjang.


"Al, baiklah, kalau kamu memang tidak mau menceritakan masalahmu dengan kakakmu, tapi bunda harap kamu tidak pernah lagi mengungkit masalah kalian," nasehat Bunda.


"Iya, Bun." Alita mengangguk.


"Sayang, kamu sudah lihat apa yang dilakukan kakakmu. Dia rela mengorbankan dirinya bahkan Raffa juga mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirimu. Hapuslah rasa luka yang sempat masuk ke hatimu ya, Nak!" nasehat Hurry panjang lebar.


"Aku tahu Bunda, sampai kapanpun Bunda akan selalu membela Kayla, Bagi Bunda, Ara adalah putri kesayangannya," gumam Alita di dalam hati.


Alita semakin membenci Kayla, kasih sayang semua orang tercurah pada Kayla alias Ara.


Alita tidak bisa menerima Raffa bersama dengan kakak kandungnya. Dia masih akan berusaha untuk merebut Raffa dari kakak kandungnya.


****

__ADS_1


Setelah Kayla dibolehkan dokter untuk pulang, Raffa dan Kayla pun kembali ke Jakarta untuk melanjutkan aktivitas mereka.


"Al, kamu kembali ke Jakarta bersama kakakmu ya, Nak!" pinta Hurry pada Alita.


"Tapi, Bun," bantah Alita merasa keberatan untuk kembali ke Jakarta bersama kakak dan kakak iparnya.


Dia tidak ingin semakin sakit hati melihat kemesraan kakaknya dengan pria yang dicintainya.


"Al, kamu sudah janji sama Bunda, kamu tidak akan mengingat masalah yang terjadi di antara kalian," ujar Hurry.


"Huhft," keluh Alita.


"Baiklah, Bun. Aku akan kembali ke Jakarta bersama kak Kayla," ujar Alita akhirnya mengalah.


Alita tidak mau berdebat lagi dengan Hurry.


Pada hari Kayla dan Raffa akan berangkat, mereka terlebih dahulu menjemput Kayla di rumah Bunda Hurry.


Sesampai di rumah Bunda Hurry, Kayla da Raffa tidak berlama-lama mampir di sana.


"Bun, aku berangkat, ya," ujar Kayla berpamitan dengan Hurry.


"Iya, Sayang. Kalian hati-hati, ya," pesan Hurry.


"Bun, salam buat Ayah dan Bang Agung," ujar Kayla lagi.


Dia tidak bisa berjumpa dengan Ayah Hendra dan Agung karena mereka sedang bekerja.


"Iya, Sayang. Bunda akan sampaikan pesan kamu sama Ayah dan Agung," balas Hurry.


"Makasih ya, Bun," lirih Kayla lalu dia memeluk tubuh Hurry.


Mereka pun berpamitan, diikuti oleh Alita. Mereka masuk ke dalam mobil milik Surya yang dikemudikan oleh pak Ujang, Kayla duduk di antara Alita dan Raffa.


Di sepanjang perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau, tak satu pun yang mengeluarkan suara.


Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Raffa masih merasa tidak nyaman dengan keberadaan Alita, way bagaimana pun. Alita bukanlah muhrim baginya.


Sesampai di bandara mereka turun dari mobil dan melangkah masuk menuju bandara.


Tak menunggu beberapa lama, pesawat yang akan di mereka tumpangi akan lepas landas.


Pengumuman keberangkatan sudah terdengar dengan jelas dari pengeras suara.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam pesawat sesuai arahan, mereka memesan bangku sebaris. Dua berdekatan dan yang satu lagi berjarak.

__ADS_1


Alita langung melangkah dan duduk di bangku yang berdekatan.


"Aku duduk di sini, ya," ujar Alita berharap Raffa yang akan duduk di sampingnya.


__ADS_2