
Raffa menoleh ke arah pintu masuk. Rayna bergegas mengusap pipinya yang sempat basah karena air mata.
Satya langsung mengahmpiri sang istri, dia menatap kesal pada Raffa, dia mencurigai Raffa yang sudah menyakiti istrinya.
“Santai, Bro. Nanti gue jelasin masalahnya, sekarang gue ke kamar dulu. Kalian istirahatlah di kamar itu,” ujar Raffa pun berlalu meninggalkan Satya dan Rayna di ruang tamu.
Di kamar Kayla tengah menangis di atas tempat tidur, dia membenamkan wajahnya di bantal. Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menghela napas panjang.
“Raffa ini ujian kesabaran untukmu,” gumam Raffa di dalam hati sambil mengelus dadanya.
Pria tampan itu melangkah menghampiri sang istri. Raffa membelai lembut lengan gadis yang hampir satu tahun dinikahinya.
Kayla menepis sentuhan dari sang suami, dia masih kesal terhadap suaminya yang tidak memberitahunya rencana kuliah adiknya.
“Sayang,” lirih Raffa membujuk istrinya yang tengah merajuk.
“Kamu jahat, Bang,” ujar Kayla kesal.
“Kamu tenang dulu, dong.” Raffa menarik tubuh istrinya agar dapat berhadapan dengannya.
Dengan malas Kayla bangkit dari posisinya, kini dia duduk di samping Raffa.
“Katakan,” ketus Kayla.
“Masa iya, ngomong sama suaminya seperti itu?” ujar Raffa menasehati istrinya.
“Kamu menyebalkan,” ujar Kayla asal.
“Sayang, tolong kamu control emosi kamu. Ini semua mendadak, Satya bingung bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya di Bandung,” jelas Raffa perlahan.
Kayla masih diam, dia ingin mendengarkan semua penjelasan dari sang suami.
“Perusahaan Brama terguncang karena kepergian ayah, Satya yang baru mulai mencoba menghandle perusahaan harus menyesuaikan diri dengan orang-orang di perusahaan. Dia tidak bisa bersikap gegabah, banyak masalah yang harus diselesaikannya. Terlebih saat ini, Rayna dan Ibu Rita masih bersedih, hal itu juga membuat Satya panic dan stress. Belum lagi usaha perangkat lunak yang dilakoninya secara online. Makanya sekarang masalah kafe yang di Jakarta aku yang tangai dan yang di Bandung aku percayakan sama Nick,” ujar Raffa menjeda ucapannya.
Raffa menunggu reaksi dari sang istri yang kini mulai mengangguk paham dengan apa penjelasannya.
“Masalah Rayna kuliah di sini, Satya mendadak menghubungiku tiga hari yang lalu. Katanya Ibu Rita minta izin pulang ke Padang, karena dia merasa kesepian di Bandung. Oleh sebab itu, Satya tidak mungkin meninggalkan Rayna seorang di rumah, akhirnya dia memutuskan untu meminta Rayna kuliah di sini bersama kita,” jelas Raffa.
“Udah, kamu masih marah?” tanya Raffa pada istrinya.
Tiba-tiba Kayla langsung memeluk Raffa.
“Maafkan aku ya, Bang,” lirih Kayla merasa bersalah.
“Kamu tidak perlu minta maaf padaku, harusnya kamu minta maaf pada Rayna. Dia sedih mendengar penolakan darimu,” ujar Raffa mengingatkan istrinya.
“Benarkah?” tanya Kayla.
Dia semakin merasa bersalah, Kayla turun dari tempat tidur dan melangkah ke luar untuk menemui adiknya.
Kayla tak lagi mendapati adiknya di ruang tamu. Kayla kembali masuk ke dalam kamar panic.
__ADS_1
“Bang, Rayna enggak ada di ruang tamu,” ujar Kayla panic mengadu pada sang suami.
“Kamu udah panggil dia?” tanya Raffa santai.
Kayla menggelengkan kepalanya, dia pun kembali ke luar kamar.
“Ray, kamu di mana?” tanya Kayla.
“Dek, Rayna.” Rayna terus memanggil-manggil adiknya.
“Ada apa, Kak?” tanya Rayna yang baru saja keluar dari kamar samping kamarnya dan Raffa.
Kayla langsung mendekati adiknya.
“Dek, maafin kakak, ya. Bukan maksud kakak buat nyakitin kamu. Kakak kesala sama Bang Raffa yang enggak cerita-cerita kamu mau datang,” ujar Kayla menyadari kesalahannya.
“Enggak apa-apa, Kak. Aku ngerti kok, kakak lagi hamil. Biasanya orang hami itu emosinya tak terduga," ujar Rayna penuh pengertian.
Saat di kamar Satya memaksa Rayna untuk menceritakan apa yang terjadi, Satya menasehati istrinya untuk memaklumi sikap Kayla yang saat ini sedag hamil.
“Kakak senang kalau kamu di sini, akhir-akhir ini Bang Raffa sibuk dengan kerjaan dan kuliahnya jadi aku kesepian, kalau ada kamu, aku jadi ada teman di rumah,” ujar Kayla lagi.
“Iya, Kak. Aku jagain kakak, dan kakak jagain aku,” ujar Rayna.
Mereka pun saling berpelukan, sejak kecil mereka telah tumbuh bersama dan tidak luput dari kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Walaupun sering bertengkar, mereka akan kembali akur.
****
Semua urusan perkuliahan Rayna sudah diselesaikan oleh Satya. Hari ini Rayna akan mulai masuk kuliah.
“Sayang, aku berangkat dulu, ya,” ujar Satya pada istrinya.
Berat hatinya meninggalkan sang istri di Jakarta, tapi Satya tidak punya pilihan lain. Dia harus melanjutkan perjuangan ayah mertuanya. Saat ini dia merupakan tulang punggung dari keluarga Bramantyo. Demi sebuah tanggung jawab dia harus menguatkan hatinya berpisah dengan wanita yang sangat dicintainya.
“Mas, aku tungguin di sini, ya. Aku pasti akan merindukanmu,” lirih Rayna berat hati melepas sang suami.
“Iya, Sayang. Secepatnya aku akan ke sini, doakan masalah perusahaan cepat selesai, agar aku bisa sering-sering ke sini dan kamu tidak kesepian,” ujar Satya.
“Iya, Mas. Semoga semua urusanmu lancer,” ujar Rayna.
“Amiin,” lirh Satya.
Rayna tidak bisa menahan air matanya. Sejak mereka menikah, Satya selalu ada di sampingnya. Rayna memeluk erat tubuh sang suami.
“Hati-hati, Mas,” bisik Rayna.
Kaylamenghampiri Rayna, dia merasa kasihan pada adik kesayangnya itu. Kayla mengelus lembut punggung Rayna.
“Aku berangkat, ya,” ujar Satya setelah pelukan Rayna terlepas.
“Bro, gue titip istri gue, jaga dia baik-baik!” pinta Satya pada Raffa.
__ADS_1
Raffa mengangguk sambil menagcungkan jempolnya.
Satya pun melangkah dan masuk ke dalam mobil. Dia sempat mengusap air matanya yang tergenang di pelupuk matanya sebelum pria itu melajukn mobil miliknya.
Setelah kepergian Satya, Raffa langsung mengantarkan Kayla dan Rayna ke kampus. Kebetulan Rayna juga memilih jurusan yang sama dengan Kayla. Jadi mereka kuliah di gedung yang sama hanya beda kelas.
Sesampai di depan gedung Fakultas Syari’ah. Raffa menghentikan mobilnya.
“Kami turun ya, Bang,” ujar Kayla sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami sang suami.
“Iya, kamu hati-hati, ya,” ujar Raffa pada istrinya.
Kayala dan Rayna pun turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung kelas perkuliahan. Sedagkan Raffa langsung melajukan mobilnya meninggalkan kampus.
Dua kakak beradik itu pun melangkah masuk ke dalam gedung. Saat berada di ruang kelas lantai 2, mereka berhenti.
“Dek, ini kelas kamu, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku, ya,” ujar Kayla.
“Iya, Kak.” Rayna mengangguk paham.
Setelah itu mereka pun berpisah Kayla langsung melangkah menuju kelasnya setelah memastikan Rayna sudah bergabung dengan mahasiswi di dalam kelas itu.
Rayna duduk di bangku urutan 4, dia tidak berani duduk di depan karena masih canggung dan belum mengenali mahasiswa dan mahasiswi di kelasnya itu.
“Hai, Rayna!” sapa seseorang.
Rayna memutar bola matanya tak percaya melihat sosok yang kini ada di hadapannya.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏