Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 148


__ADS_3

Di tempat lain, Rayna sedang belajar di kelas. Namun, pikirannya jauh melayang ke mana-mana. Dia memikirkan permintaan sang kakak untuk mengajak adik kandungnya tinggal satu atap dengannya.


Rayna tidak suka dnegan sikap Alita yang seakan memaksa Kayla untu menerima dirinya tinggal di rumah mereka. Saat ini, Rayna tidak bisa berbuat apa-apa, dia masih ingat kata-kata Kayla tadi yang sempat membuat hatinya terluka.


Sebagai seorang adik, Rayna tidak menyimpan sakit hatinya terhadap sang kakak. Dia berusaha untuk sabar menanggapi perkataan Kayla tadi pagi padanya.


“Hei!” Fitri menyenggol tangan Rayna.


Sedari tadi dia memperhatikan Rayna tidak fokus dalam menerima ilmu yang dijelaskan oleh dosen. Setelah materi usai, dia pun mendekati Rayna.


“Eh,” lirih Rayna tersentak dari lamunannya.


“Kamu lagi mikirin apa, Ray?” tanya Fitri heran melihat sikap Rayna.


“Fit, aku hanya sedang mengkhawatirkan Kak Kayla. Aku ngerasa Alita itu punya niat jahat sama Kak Kayla,” tutur Rayna terus terang.


Saat ini Fitri sudah menjadi teman curhat Rayna. Bagi Rayna, Fitri merupakan orang yang dapat dipercaya setelah Kayla.


Fitri mengangguk.


“Aku pikir hanya diriku saja yang curiga terhadap Alita,” gumam Fitri yang masih terdengar jelas di telinga Rayna.


“Maksud kamu apa, Fit?” tanya Rayna.


“Mhm, begini, Ray. Aku ngerasa Alita memiliki rencana jahat sama Kayla. Aku liat, dia enggak suka dengan Kayla,” ujar Fitri menyampaika pendapatnya.


“Nah, itu yang jadi pemikiran aku, Fit. Aku enggak mau Kak Kayla disakiti oleh siapa pun,” ujar Rayna penuh harap.


“Kamu tenang, ya. Kita akan selesaikan masalah ini,” ujar Fitri.


“Kamu akan bantuin aku buat jagain Kak Kayla?” tanya Rayna.


“Iya,” jawab Fitri.


Walaupun Fitri ditugaskan Satya untuk selalu menjaga Rayna, dia juga tidak bisa diam melihat kakak Rayna disakiti oleh orang lain. Setelah berbulan-bulan Fitri bergaul dengan Kayla, dia juga sudah menganggap Kayla sebagai kakaknya.


Kayla juga tidak bisa fokus belajar di kelasnya, dia masih memikirkan perkataan Alita tadi pagi. Kayla tidak ingin dicap sebagai seorang kakak yang pilih kasih.


“Kay,” lirih Dian.


Ketiga sahabat Kayla mengitari tempat duduk Kayla, mereka mengerti apa yang saat ini dipikirkan oleh sahabat mereka itu.


“Mhm,” gumam Kayla.


“Kay, jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh Alita. Kamu adalah kakak terbaik, jika dia selalu membandingkan kasih sayangmu padanya dan Rayna itu artinya dia bukanlah adik yang baik untukmu.” Dian menasehati Kayla.


“Kay, seharusnya kamu harus realistis, dan jangan terbawa perasaan dengan apa yang diminta Alita sama kamu. Berkali-kali dia berusah mencari perhatian suami kamu,” tambah Lisa.


“Aku setuju dengan Dian dan Lisa, seharusnya kamu selidiki terlebih dahulu bagaimana sifat aslinya,” tambah Gita.


Kayla memandangi satu per satu sahabatnya, Kayla melihat ketulusan dari mata ketiga sahabatnya.


“Kay, kita ini sahabat kamu. Kami tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Sebaiknya kamu pertimbangkan permintaan Alita. Jangan termakan dengan omongan dan air mata buaya yang di keluarkan oleh adik kamu,” ujar Dian.

__ADS_1


Kayla masih terdiam, dia semakin bimbang untuk mengambil keputusan. Di sisi lain dia tidak ingin Alita menganggap dirinya tidak menyayangi dirinya sebagai adik kandung yang memiliki ikatan darah dengannya.


“Kay,” lirih Gita sambil mengelus lembut punggung Kayla.


“Kami yakin, kamu pasti lebih tahu, apa yag terbaik untuk kamu dan keluarga kamu,” ujar Lisa.


Ketiga sahabat Kayla sangat peduli padanya, mereka selalu ada kapan pun Kayla membutuhkan mereka.


Kayla menatap terharu pada ketiga wanita yang kini ada dihadapannya.


“Makasih ya, Guys,” lirih Kayla.


Gita merangkul tubuh sahabatnya, mereka pun saling berpelukkan menandakan bahwa mereka adalah sahabat forever.


“Mhm, kita makan ke kantin, yuk!’ ajak Gita saat cacing-canig di perutnya sudah mulai berdemo minta di kasih makan.


Mereka pun mengurai pelukan mereka, Kayla, Dian dan Lisa menoleh ke arah Gita. Mereka tersenyum melihat gaya Gita yang tengah merengek sambil memegangi perutnya yang sudah terasa lapar.


Akhirnya ketiga wanita berhijab lebar itu melangkah menuju kantin, untaian hijab mereka membuat mata syahdu memandanginya.


Saat baru saja mereka masuk ke dalam kantin, Gita langsung memesan makanan yang mereka inginkan, edangkan ketiga temannya yang lain mencari tempat untuk mereka.


Setelah selesai memesan makanan untuk dirinya dan ketiga sahabtanya, Gita membalikkan badannya dan hendak melangkah menuju tempat sahabatnya yang telah duduk di tempat mereka.


Tiba-tiba,


Brukk, seseorang menabrak Gita dan tak sengaja menumpahkan teh es yang ada di tangannya.


“Auww,” pekik Gita.


“Ma-af,” lirih seorang ppria yang tadi membawa segelas es teh.


Gita mendongakkan kepalanya, dia melihat dengan jelas pria yang sudah menumpahkan air es di hijabnya tadi.


“Ka-kamu?” pria itu kaget saat melihat wanita yang selama ini sudah mulai masuk ke dalam hatinya.


Dia kini bekerja sambil kuliah S2 sama dengan Raffa, hanya saja dia mengambil system non regular yang kuliahnya hanya hari sabtu dan minggu, agar dapat memperjuangkan gadis yang kini ada di hadapannya.


“Ka-kamu ngapain di sini?” tanya Gita gugup.


“Mhm, ada urusan sama dosen,” jawab Nick dengan mata yang tak berkedip melihat wanita pujaannya.


“Oh,” lirih Gita sambil menundukkan pandangannya.


Seketika wajah Gita memerah menahan rasa malu, jantungnya berdetak semakin kencang.


“Mhm, ma-mau makan?” tanya Nick.


“Iya,” lirih Gita lagi.


“Oh, ya udah. Aku minta maaf, ya,” ujar Nick lagi.


“Mhm, enggak apa-apa.” Gita tersenyum.

__ADS_1


Gita pun berlalu meninggalkan Nick.


“Ciie, ketemu calon imamnya,” goda Lisa yang sempat melihat Gita mengobrol dengan Nick.


"Idih, apaan, sih." Gita bertambah malu mendengar godaan dari sang sahabat.


"Kamu cocok lho sama dia." Dian juga ikut menimpali.


"Hehehe," tawa mereka pecah bersamaan dengan wajah Gita semakin memerah bagaikan mengenakan blush on.


Sejenak Kayla lupa dengan permasalahan yang kini tengah dihadapinya.


Keempat wanita itu pun kini menikmati makanan yang sudah dipesan Gita tadi.


Dari jauh ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak gerik gadis incarannya selama ini.


"Lu ngeliatin apa sih, Bro?" tanya Raffa yang heran melihat tingkah sahabatnya.


"Eng-enggak ada," jawab Nick asal.


Raffa pun mengikuti arah mata Nick, dia mendapati istrinya tengah makan bersama ketiga sahabatnya.


Raffa mengerti apa yangs sedari tadi diperhatikan oleh sahabatnya itu.


"Lu pinang dia sebelum dipinang orang lain," ujar Raffa menggoda sahabatnya.


"Mau dipinang pakai apa? Hah? Gue harus siapkan bekal terlebih dahulu, supaya dia enggak hidup susah sama gue," balas Nick.


"Masa iya, direktur kafe masih canggung meminang gadis pujaan hatinya?" goda Raffa lagi.


"Apaan, sih!" ketus Nick.


Raffa pun tertawa melihat tingkah Nick.


Setelah mereka menyelesaikan makan, Raffa langsung menghampiri istrinya sedangkan Nick langsung kembali melanjutkan urusannya dengan dosen.


"Sayang, kamu masih ada kuliah?" tanya Raffa pada istrinya.


"Udahan, Bang," jawab Kayla mengangguk.


"Ya udah, kita langsung pulang aja, yuk!" ajak Raffa.


"Kamu, bukannya ada kuliah habis ini, Bang?" tanya Kayla heran.


"Dosennya enggak masuk," jawab Raffa.


" Oh, ya udah. Guys, aku pulang duluan, ya," ujar Kayla berpamitan dengan teman-temannya.


"Oke," seru ketiga sahabat Kayla.


Kayla dan Raffa pun meninggalkan wanita-wanita berhijab lebar itu.


"Bang, tadi Alita nemuin aku. Dia masih memohon agar bisa tinggal di rumah kita," ujar Kayla membuka pembicaraan di sepanjang langkah mereka.

__ADS_1


"Apa?" teriak seseorang dengan emosi membuat langkah suami istri itu pun terhenti.


bersambung...


__ADS_2